Source Code

May 22, 2011 Leave a comment

Sutradara: Duncan Jones

Pemain: Jake Gyllenhaal, Michelle Monaghan, Vera Farmiga

Pilot gugur di Afghanistan, bom meledak di kereta, dan teknologi baru tentang ‘permainan waktu’ menjadi jalinan cerita Source Code. Hal terakhir yang diingat Kapten Colter Stevens (Gyllenhaal) adalah bertugas sebagai pilot tempur di Afghanistan tapi terbangun di kereta menuju Chicago bersama seorang perempuan bernama Christina (Monaghan). Tambah bingung mendapati bahwa ia dalam tubuh Sean Fentress, seorang guru. Belum sempat mendapat jawaban, kereta meledak dan Colter terlempar dimensi lain, ke dalam kapsul dengan berondongan pertanyaan dari Goodwin (Farmiga) tentang siapa pengebom kereta.

Colter pun ‘dilempar’ kembali pada 8 menit sebelum kereta meledak dan ditekan untuk menemukan pelaku sebelum ancaman berikutnya terwujud: mengebom Chicago. Begitu seterusnya sampai pelakunya terungkap dan kebingungan Colter terjawab tentang dirinya dan teknologi bernama source code. Delapan menit yang terus berulang membuat Colter berimprovisasi dalam menemukan pelaku dan menggali perasaannya terhadap Christina. Setelah misinya selesai, Colter minta tambahan 8 menit pada Goodwin untuk menyelamatkan seluruh penumpang, terutama Christina, dan berbaikan dengan ayahnya.

Quantum Leap. Buat yang sering nonton serial ini di RCTI dulu, akan punya bekal tentang sci-fi berdasarkan dunia paralel dan fisika kuantum. Dalam Quantum Leap, Sam Beckett (Scott Bakula yang jadi cameo film ini sebagai ayahnya Colter) berpetualang menembus waktu dan mengisi berbagai raga untuk menyelesaikan masalah dalam hidup orang yang raganya dihinggapi. Tidak jauh beda ceritanya dengan Source Code.

Source Code seru dan mengasyikkan karena bersama Colter Stevens, penonton ditantang untuk menyusun teka-teki dan menebak tentang pengebom dan keadaan Colter yang sebenarnya. Pengulangan 8 menit dalam beberapa kali yaitu kalimat Christina ‘I took your advise’, tumpahan kopi, dan gerutu penumpang lain membuat gemas sekaligus penasaran. Atau kapsul Colter yang misterius dan tidak dapat dibuka, yang ternyata hanya ‘bayangan’. Colter secara fisik sudah mati, tubuhnya bahkan sudah tidak utuh. Saat Goodwin membuka kapsul tempat fisik Colter disimpan dan terlihat hanya beberapa bagian otak yang berfungsi dan dimanfaatkan untuk source code, saat itulah merasa kasihan. Adegan buka kapsul ini seiring dengan kesempatan 8 menit terakhir untuk menyelamatkan seluruh penumpang dan mengubah sejarah.

Sebagai dongeng yang baik, Source Code berakhir sangat bahagia: Colter berhasil menyelamatkan kereta, menangkap si pengebom, dan bahagia bersama Christina. Tapi ending terlalu bahagia ini ‘harus’-nya cuma jadi alternate ending di DVD. Kalau saja akhir cerita dibuat tragis dengan bom tetap meledak, Source Code akan tetap dijalurnya, sesuai dengan perkataan Goodwin: bahwa source code dibuat bukan untuk mengubah masa depan.

Advertisements
Categories: Movies

Cita-cita

May 7, 2011 2 comments

Buat Yani, Retti, Mita dan Nanda,

Gantungkan cita’mu  di langit dan berusahalah sekuat mungkin untuk meraihnya.

Dr. Pratiwi Sudarmono PhD

6/12/91


Tertanggal 6 Desember 1991, tulisan tangan itu tertera di atas kertas berkop Ensiklopedi Nasional Indonesia yang sudah menguning dalam bingkai kayu dan kaca. Saya kurang ingat di mana ayah saya mendapatkan tulisan itu, mungkin di suatu acara jumpa penggemar dengan Pratiwi Sudarmono. Pratiwi Sudarmono adalah ilmuwan yang terpilih untuk misi Wahana Antariksa NASA pada tahun 1985, namun gagal karena bencana Challenger. Meski demikian, prestasi beliau sebagai calon astronot perempuan pertama di Indonesia sangat dibanggakan. Fotonya dalam baju astronot, bisa jadi meninspirasi dan memotivasi banyak orangtua untuk mendidik anaknya agar seprti seperti beliau: cerdas, berprestasi, dan membanggakan.

Begitu juga mungkin dengan ayah saya. Tulisan itu dibingkai dan dipajang di dinding kamar anak-anaknya dengan harapan anak-anaknya akan termotivasi menjadi seperti Pratiwi Sudarmono. Saya mengartikan kalimat itu sebagai suatu gairah dan semangat untuk mencapai sesuatu. Meski memiliki pengertian yang abstrak, namun kalimat itu bertahun-tahun tertanam di kepala.

Cita-cita, seringkali hanya menjadi milik anak kecil dan ABG labil. Ada teman yang ditanyakan cita-citanya ketika wawancara kerja, otomatis menjawab cita-citanya sewaktu kecil: ‘jadi pilot’, meski dia kuliah di jurusan humas. Cita-cita tinggi masa kecil seringkali kalah dengan realitas dan kepentingan praktis. Masa penjurusan di sekolah menengah dan pemilihan pendidikan tinggi adalah saat penting dalam mewujudkan cita-cita jadi dokter dan pilot tadi. Saat itulah penentuan tercapai cita-cita atau harus banting stir.

Saya termasuk yang banting stir karena cita-cita sebagai desainer dipatahkan dengan gagal tes di FSRD-ITB. Sebelum sempat meilirik sekolah desain swasta, saya menangkap peluang di jurusan Ilmu Perpustakaan UI yang tidak banyak saingannya. Rencana saya adalah masuk kuliah gampang di universitas ternama dan gampang pula cari kerja karena lahan kerja pustakawan belum banyak yang mengisi. Setelah punya penghasilan sendiri, baru kuliah desain. Tapi rencana tinggal rencana. Setelah magang dan mulai bekerja sebagai pustakawan, saya menyukai profesi ini. Mengelola dan mengalirkan informasi pada orang, bagaikan menyalakan lilin inspirasi dalam pikiran mereka.

Ketika memutuskan sekolah lagi, saya dibenturkan pada soal keuangan: dana hanya cukup untuk menggenapi gelar S1 daripada mulai dari awal belajar sesuatu yang baru. Saya pun makin tenggelam dalam dunia perpustakaan dan makin dalam dan mantap ketika skripsi mengambil tema perpustakaan konsultan hukum, untuk mengkhususkan diri sebagai pustakawan hukum. Didukung pandangan-pandangan ayah yang juga pustakawan hukum, saya mantap mendalami bidang yang spesifik ini. Cita-cita jadi desainer pun terlupakan, dan berganti dengan cita-cita baru: pustakawan hukum. Seorang yang ahli dalam bidang dokumentasi hukum dan membagi sebanyak mungkin ilmu saya pada banyak orang. Cita-cita yang saya rumuskan pada usia 27 tahun.

Ada banyak cerita dalam mewujudkan cita-cita. Cita-cita, menurut definisi KBBI, adalah 1) keinginan yang selalu ada di dalam pikiran, 2) tujuan yang sempurna (yang akan dicapai atau dilaksanakan). Cita-cita memiliki cakupan yang luas, tidak sekedar impian masa kecil atau harapan ketika remaja. Cita-cita kadang kalah kenyataan dan realita dan terlupakan. Ketika cita-cita masa kecil berubah adalah bukan suatu kegagalan. Manusia berproses seumur hidupnya, begitu juga dengan cita-citanya. Misal, ketika seorang perempuan memiliki cita-cita menjadi wanita karir tapi menjadi ibu rumah tangga, saat itulah ia memiliki cita-cita baru: membahagiakan keluarga dan melihat anaknya sukses.

Selama hayat masih dikandung badan, kandunglah terus cita-cita. Jika ada suatu keinginan yang terus ada di pikiran, itu tandanya kamu punya cita-cita. Cita-cita memang bagai bintang di langit karena sulit diraih, tapi bukan berarti tidak bisa. Bercita-cita tidak akan sia-sia karena meski tidak terwujud sekalipun, cita-cita bisa jadi mimpi yang memupuk harapan, dan inspirasi bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga orang lain. Teriakkan cita-citamu dan biarkan orang tertular.

Categories: Random

Kurang Menulis= Kurang Bahagia

May 1, 2011 Leave a comment

Sebulan terakhir, kerjaan gw lagi menggila karena pindah ruangan dan sekalian beres-beres. Sisi baiknya, gw jadi semangat kerja setelah lama dipenuhi kebosanan akan rutinitas yang kurang menantang bagi otak gw. Tumpukan kerjaan lebih terasa menyenangkan ketimbang membebani.

Tapi setelah tiga minggu, mulai terasa penat dan sesak karena nggak bisa memikirkan hal-hal lain selain kerjaan selama lima hari dan dua hari sisanya buat istirahat. Lelah dan sibuk terfokus sama kerjaan membuat gw malas memikirkan dan mengerjakan salah satu kesenangan gw: menulis. Saya pun tidak senang. Menulis sudah menjadi bagian dari diri gw, bukan cuma sekedar menumpahkan uneg-uneg atau bikin cerpen asal. Agak lama nggak menulis tentang hal pribadi bikin gw merasa kurang dan ada yang hilang.

Berbeda dengan dua kesukaan gw yang lain: membaca dan menonton film, menulis lebih dituntut untuk berpikir lebih karena harus merangkai kata dan kalimat untuk mewakilkan pemikiran dan pendapat kita dengan tepat.

Ada banyak ide tapi sayangnya nggak semua bisa berwujud tulisan. Kalaupun jadi tulisan sayangnya nggak semua juga bisa gw publikasikan. Mungkin salah karena seharusnya gw nggak membuat batasan tentang membagi dan mempublikasikan tulisan ke orang lain. Bukankah suatu tulisan nggak akan ‘bersuara’ kalau belum dibaca selain penulisnya sendiri? Hmmm…

Mungkin, mungkiiinn gw memang nggak cocok dengan pekerjaan yang terlalu sibuk karena otak ini menuntut porsi kegiatan yang lain sama besar dengan pekerjaan. Mungkin karena inilah akhirnya jalan gw bekerja sebagai pustakawan yang tingkat stresnya rendah dan beban kerjanya tidak berat. Jadi lebih punya banyak untuk “melihat” hal-hal ini.

Nah kalo udah nulis begini lega rasanya, dan lebih semangat. Cukup menulis= cukup bahagia.

Categories: Random

Gnomeo and Juliet

April 24, 2011 2 comments

Sutradara: Kelly Asbury

Pengisi suara: James McAvoy, Emily Blunt, Maggie Smith

Seperti yang dibilang si kurcaci pada pembukaan film ini, bahwa kisah cinta Romeo dan Juliet telah banyak diadaptasi. Kali ini dalam bentuk animasi, kisah cinta terkenal karya Shakepeare ini mengambil bentuk patung kurcaci penghuni kebun atau gnome. Maka jadilah Gnomeo and Juliet.

Perawan tua Ms. Montague dan bujang lapuk Mr. Capulet adalah tetangga di Jalan Verona yang masing-masing memiliki kebun indah yang dihiasi gnome. Mengikuti permusuhan ‘majikan’ mereka, para gnome dan patung taman lainnya juga bermusuhan. Para gnome bertopi merah, milik Mr. Capulet, dipimpin oleh Lord Redbrick memiliki seorang putri bernama Juliet (Blunt). Sedangkan para gnome bertopi biru milik Ms. Montague dipimpin oleh Lady Bluebury (Smith) memiliki seorang putra bernama Gnomeo (McAvoy).

Perseteruan mereka meruncing ketika Gnomeo menyerang sumur milik Tybalt setelah dicurangi dalam adu balap mesin pemotong rumput. Berhasil kabur dari sergapan Tybalt, Gnomeo berjumpa dengan Juliet yang sedang berusaha mengambil bunga anggrek. Mereka pun jatuh cinta dan tidak peduli ketika mengetahui identitas masing-masing. Keadaan makin gawat ketika Gnomeo tanpa sengaja menghancurkan Tybalt, Gnomeo tertabrak truk, dan para gnome topi biru menuntut balas dengan melepas mesin pemotong rumput maut, Terrafirminator. Berhasilkah Gnomeo dan Juliet berakhir bahagia? Tidak mengikuti kata si patung Shakespeare, sang penulis cerita asli, yang bilang ‘I told you so!’ ketika Gnomeo menerima kabar buruk bahwa Juliet dilem ayahnya?

Adaptasi cerita cinta yang sangat terkenal ini segar dan lucu, cocok untuk anak-anak dan semua umur. Unik karena mengambil sosok yang tidak biasa, yaitu kurcaci kebun, bukan manusia. Tokoh-tokoh kocak seperti si kodok Nanette atau Featherstone, si flamingo plastik menyegarkan film animasi ini. Atau iklan Terrafirminator yang ‘seram’ tapi sangat lucu. Gnomeo and Juliet, di satu sisi, menjadi parodi dari cerita aslinya dan beberapa hal dalam kehidupan nyata. Durasinya yang singkat, hanya 84 menit, menyelamatkan film ini dari kebosanan jika ceritanya diulur. Terutama untuk penonton anak-anak yang cepat bosan.

Categories: Movies

Libri di Luca (Mikkel Birkegaard)

April 3, 2011 Leave a comment

Buku yang selalu identik dengan pengarang seolah mengesampingkan peran pembaca. Mikkel Birkegaard menggali peran penting pembaca buku dan Libri di Luca, atau yang mempunyai judul lain The Library of Shadows ini. Bahwa sebuah buku menjadi ‘hidup’ karena penafsiran dan fantasi pembacanya.

Bersetting di Kopenhagen, Denmark, Libri di Luca dibuka dengan kematian Luca Campelli yang misterius. Luca seolah dikendalikan kekuatan tak terlihat yang terus memaksanya membaca buku hingga tewas. Toko buku Libri di Luca pun diwariskan pada putra Luca, Jon yang seorang pengacara dan memiliki hubungan tidak harmonis dengan sang ayah sejak kematian ibunya.

Jon terpaksa terlibat jauh ketika Libri di Luca diserang orang tak dikenal. Dibantu Iversen, asisten Luca, dan Katherina, Jon memasuki dunia para pecinta buku yang terdiri dari sekelompok orang berbakat yang disebut pemancar dan penerima. Di tangan mereka, buku menjadi alat mematikan untuk mempengaruhi dan membunuh orang. Jon pun semakin tertarik, terlebih setelah dipecat karena ulah Remer, klien kantor yang mengincar toko buku ayahnya dan dirinya. Bersama Katherina dan Muhammad, temannya yang jago komputer, Jon bertualang hingga ke Alexandria untuk menghentikan ambisi jahat Remer.

Ide cerita sangat bagus. Mikkel Birkegaard menyuguhkan sudut pandang yang jarang: para pecinta buku. Bahwa mereka lebih dari sekedar kutu buku yang culun, para pemancar dan penerima ini memiliki bakat dan kekuatan dahsyat. Berkat buku ini juga saya jadi menyadari pentingnya hal ini: sebuah tulisan akan ‘hidup’, menangis, tertawa, dan berteriak jika ada yang membacanya. Tak peduli sehebat apapun pendapat si penulis, jika tulisannya tidak ada yang membaca, maka tulisan itu akan mati dan tidak ada gunanya.

Karakterisasi juga lumayan. Katherina, misalnya, menjadi karakter yang unik karena dyslexia. Bayangkan seorang pecinta buku adalah pengidap dyslexia, penyakit yang memiliki kesulitan untuk membaca. Katherina menikmati buku dengan mendengarkan pikiran seseorang.

Ide dan penokohan bagus, tapi intriknya kurang. Sejak awal saya bisa dengan mudah menebak bahwa Remer adalah tokoh antagonisnya. Remer adalah dalang dari pemecatan Jon dan pembunuhan Luca. Menurut saya akan lebih menarik kalau ‘dipelintir’ dengan mengalihkan dalang sebenarnya adalah Iversen. Pelintiran hanya kepada Pau yang menjadi pengkhianat di kelompok mereka.

Buat pecinta buku dan novel thriller, Libri di Luca adalah paduan pas untuk dinikmati. Tidak banyak novel tentang pecinta buku dan perpustakaan. Mudah-mudahan diadaptasi menjadi film.

Categories: Books

London Boulevard

March 12, 2011 Leave a comment

Sutradara: William Monahan

Pemain: Colin Farrell, Keira Knightley, Ray Winstone

Mitchell (Farrell), seorang anggota gangster, baru bebas dari penjara dan tidak punya pekerjaan. Perjumpaannya dengan Penny (Ophelia Lovibond) membawanya pada selebriti bermasalah, Charlotte (Knightley) yang butuh pengawal untuk melindunginya dari papparazi. Sementara Mitchell “hanya” bekerja sebagai pengawal Charlotte, bos Mitchell bernama Gant (Ray Winstone) mencoba merekrutnya kembali untuk pekerjaan kriminal. Mitchell terang-terangan menolak dan membuat Gant murka. Siapapun yang berhubungan dengan Mitchell pun dibunuh, termasuk adiknya, Briony (Anna Friel) yang orientasi hidupnya hanya uang dan alkohol. Mitchell marah dan balas dendam membunuh Gant. Sayangnya, ketika pekerjaannya selesai dan dalam perjalanan menyusul Charlotte ke AS, Mitchell malah terbunuh oleh pemuda tanggung yang semula justru hendak dihabisinya atas balas dendam terhadap sahabatnya.

Menampilkan usaha Mitchell yang mencoba hidup lurus dengan tidak kembali ke pekerjaan lamanya sebagai anggota gangster, adalah ide film ini yang didukung dengan karakter-karakter bermasalah namun menarik. Charlotte adalah aktris yang pernikahannya bermasalah, dituduh berzina, dan pernah diperkosa. Briony yang bisa disebut sebagai orang yang tidak berguna karena kecanduan alkohol dan mata duitan. Billy (Ben Chaplin), antek Gant, teman Mitchell yang menusuk dari belakang. Ada juga Jordan (David Thewlis) yang  kelihatan seperti aktor frustrasi yang tidak punya masa depan ketika ia mengabdikan diri sebagai manajer, pengurus rumah tangga, dan mungkin kekasih kadang-kadang Charlotte.

Dikelilingi orang-orang bermasalah dan menjalani hidup keras bertahun-tahun nampaknya membuat Mitchell sulit untuk menjadi orang baik dan lurus namun berhasil menolak pekerjaan kriminal Gant. Hatinya bahkan cair dengan kehadiran Charlotte. Ironisnya, usaha Mitchell untuk menjadi orang baik justru yang membuatnya terbunuh. Karakter abu-abu para tokoh dan aksi kekerasan masih menjadi inti dari London Boulevard, seperti film gangster yang lain. Bumbu lain yang terasa menyengat adalah musiknya yang mencuatkan kesan retro film Inggris ini. Sergio Pizzorno yang membuat scoring film ini memasukkan The Yardbirds, Bob Dylan, dan The Rolling Stones sebagai soundtrack film ini.

Categories: Movies

Coolest Gank

March 12, 2011 Leave a comment

Selama ini, saya tidak pernah menginginkan suatu episode atau periode dalam hidup saya untuk diulang. Tapi ketika saya menemukan foto-foto lama, saya menginginkan masa itu kembali. Meski pendek tapi inilah gank terkeren yang saya pernah punya.  I really miss the good old days with Lydia, Daya, Lucky, and Ina at 2008. Before we had problems and everything’s alright.

We are cool because we’re good looking and working in a prestigious lawfirm. Setiap kumpul sama mereka selalu lupa waktu dan sangat nyaman. Bisa ngomong dan bercanda apapun. Saya bisa jadi diri sendiri dan gila-gilaan tanpa canggung atau salah ngomong. And the most important is we can having fun without alcohol, weeds, and even smoking – karena cuma satu atau dua orang yang merokok. Bahkan segelas teh manis yang disedot rame-rame di Emax pun cukup untuk bikin seru karena intinya adalah chemistry kita. Segitu kuatnya chemistry kami, jadi gak perlu “bumbu tambahan” karena semuanya terasa pas.

Categories: Random