Archive

Archive for the ‘Random’ Category

Pabrikasi Maaf

September 4, 2011 Leave a comment

Kartun Mice di Kompas hari ini tentang bermaaf-maafan saat Lebaran. Pada salah satu kotak cerita, Mice bingung menerima SMS berisi untaian puisi ucapan selamat Idul Fitri dari orang yang baru sekali ditemuinya. Mice membatin, ‘1 SMS buat ratusan orang… Baru ketemu sekali doang, salahnya apa ya??? Hmmm kayanya nggak perlu dibales deh’.

Saya pun spontan tertawa membacanya karena mengalami kejadian yang sama. Sejak merasakan betapa mengganggunya beberapa broadcast message (BM) BBM (Blackberry Messenger) yang sangat tidak penting, saya jadi mengurungkan niat untuk mengirim pesan massal itu kepada beberapa teman muslim di daftar kontak BBM. Memang sih BM yang satu ini adalah ucapan Selamat Idul Fitri, salah satu sikap perayaan, bukan pesan omong kosong atau lelucon norak yang kerap saya terima. Kurang afdol berhari raya tanpa mengucapkan ‘Selamat Hari Raya Idul Fitri. Maafkan Lahir dan Batin’. Untuk lebih berkesan, dua kalimat inti itu biasanya ditambahkan puisi dan diseling beberapa patah kalimat berbahasa Arab, yang saya yakim banyak orang yang mengirim tidak tahu artinya.

Contoh:

Taqobalallaahu Minna Wa Minkum Taqobal Yaa Kariim.. 

Andai tangan tidak sempat berjabat..,maka dengan penuh kerendahan hati ijinkan kami skeluarga mengucapkan:

“Selamat Hari Raya Idul Fitri

1 Syawal 1432 H”

Minal Aidin Wal Faizin

Mohon Maaf Lahir & BathinSemoga kita semua menjadi insan yang fitri kembali dan selalu dalam limpahan ridho dan rahmat Allah SWT.

Ucapan ini cukup di-copas atau forward ke belasan, puluhan, bahkan ratusan penerima, teman, keluarga, rekan kerja, atau siapapun yang ada di daftar kontak akun kita, dengan sekali kirim hanya dalam hitungan menit.

Praktis dan massal.

Tidak salah tapi saya merasa kurang nyaman. Teknologi seringkali menghasilkan sesuatu yang praktis, instan, mudah, dan massal tapi tidak personalized dan kurang menyentuh. Kerepotan-kerepotan yang bernilai sentimental seperti memilih kartu, menulis dengan tangan kalimat-kalimat tambahan, dan memilih menuliskan alamat si penerima adalah hal-hal yang tidak penting bagi kita sebagai orang-orang yang terbiasa praktis dan instan.

Lompatan teknologi komunikasi bagai lari cepat yang harus disusul semua orang. Masih teringat waktu sekolah dan kuliah pergi ke toko buku untuk beli kartu lebaran. Bisa berjam-jam memilih kartu Lebaran karena saya memilih kartu berdasarkan keakraban dan sifat teman dan saudara. Misal si A yang ceria, saya pilihkan kartu yang banyak warna, atau si B yang kocak, saya pilihkan kartu dengan kalimat yang lucu dan konyol. Bahkan kalau lagi rajin, saya bikin sendiri.

Kartu tercetak mulai tergeser ketika saya punya e-mail saat kuliah tingkat akhir. E-card menjadi pilihan meski kadang gagal terkirim karena koneksi internet terputus atau error saat dibuka, gambarnya tidak terlihat. E-card dengan cepat tergeser dengan SMS yang lebih mudah cara pengirimannya meski tidak ada gambar dan warna-warni menarik. Cukup menunggu satu orang pertama mengirim atau memilih kalimat yang paling bagus, lalu forward ke beberapa orang. Ketika BB jadi HP sejuta umat, pulsa jadi lebih hemat dengan mengirimkan ucapan melalui BBM. Tidak hanya kata-kata dengan variasi abjad dan emoticons, pesan suara (voice message) bisa jadi pilihan jika ingin berbeda dari yang lain.

Praktis dan massal.

Bagi saya, sesuatu yang bersifat praktis dan instan lama-lama sama membosankan seperti halnya rutinitas. Lima puluh ucapan dalam lima menit. Selesai. Lalu?

Dimanakah kesenangan dan kegairahan memilih, menghias, dan membuat kartu Lebaran? Dimanakah kepuasan ketika selesai menulis ungkapan pribadi pada sahabat dan kerabat? Kenangan dan hubungan kita dengan masing-masing orang adalah unik, tidak pernah sama satu sama lain. Saya mengingat si A sebagai teman sekolah yang sudah lama tidak bertemu, maka saya tambahkan di kartu itu ‘Apa kabarnya, kapan main ke sini?’ Atau tulisan saya pada si B yang teman kuliah, ‘Nanti kalo masuk kuliah, bawa kastangel sisa Lebaran’. Hal-hal personal yang unik inilah membuat penerima kartu merasa istimewa karena tidak sekedar menerima ucapan Selamat Idul Fitri, tapi juga diingat dan akrab.

Kenangan lain yang mengesankan adalah kartu Lebaran buatan papa. Proses kreatifnya adalah menempelkan foto keluarga dan ucapan Selamat Idul Fitri dari rugos yang hurufnya digosok satu per satu, kemudian diperbanyak. Hahay jadi kangen penggosok rugos yang bentuknya mirip pulpen, punya dua sisi merah dan hitam. Sisi satu lebih lancip untuk huruf kecil, sisi satu lagi lebih tumpul untuk huruf besar dan tebal. Merugos, Rugos ini sebenarnya merk, harus telaten dan perlahan supaya hurufnya tidak rusak atau putus. Rasanya puas ketika selesai kalimat Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H. Maafkan Lahir dan Batin, hurufnya utuh dan rapi. Pernah merasa puas setelah mencipta atau mengerjakan suatu yang bagus dan berlama-lama memandangnya? Itulah rasa senang dan puas yang sama.

Itu dulu, sebelum ‘revolusi handphone’.

Mungkin saya termasuk orang yang repot, sentimentil, kuno dan mungkin juga gaptek. Saya merasa hal-hal yang massal dan  instan menghilangkan nilai pribadi. Seperti barang pabrikan yang tidak lagi terasa istimewa, mengutamakan fungsi semata. Untuk momen istimewa seperti Idul Fitri, ‘barang mewah buatan tangan’ lebih berkesan daripada ‘barang pabrikan’. Untaian kalimat pernyataan maaf dibuat dan disebarluaskan secara massal tanpa diedit atau diberi sentuhan pribadi untuk si penerima. Pabrikasi maaf.

Saya akan membalas pesan pribadi yang biasanya diawali dengan nama panggilan, dan melewatkan pesan instan yang pabrikan hasil copas dan forward. Bukannya tidak menghargai si pengirim, tapi membaca puluhan pesan yang sama terasa buang waktu, toh yang mengirim tak sampai satu menit mencentang nama penerima apalagi kalau sudah ada grup akan lebih cepat lagi.

Meski demikian, terimakasih untuk semua yang sempat mengucapkan Selamat Idul Fitri di semua media, baik yang mengetik, mencentang, maupun forward dan copas. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Advertisements
Categories: Random

Kejarlah Harry Sampai Ke Negeri Singa

July 30, 2011 Leave a comment

Akhirnya! Harry Potter tayang juga di Indonesia setelah masalah pajak dan beberapa bulan nggak ada film blockbuster Hollywood. Selama masa kosong itu, film-film yang tayang adalah rata-rata film kelas B dan film Asia. Banyak orang yang sampe ke Singapur atau negara tetangga lainnya demi bisa nonton Potter dan film laris lainnya. Menurut berita yang gue baca di detik, ada banyak cara ke Singapur nonton film blockbuster, dari promo tiket murah sampe kuis. Singapur pun memanfaatkan peluang ini dengan membuat paket promo tiket pesawat dan kerjasama dengan operator bikin kuis yang pemenangnya bisa nonton film blockbuster yang nggak tayang di Indonesia.

Gue sendiri baru sadar kalo bukan die hard fan yang segitunya pergi ke Singapur atau Malaysia atau Vietnam demi nonton film. Bisa jadi juga sayang duit dan nggak ada temen. Hehehehe. Untunglah masalah pajak selesai, mudah-mudahan selesai beneran, jadi film blockbuster (nampaknya) bisa tayang lagi. Setidaknya tayangnya Harry Potter sebagai awal yang bagus. Transformer 3 dan Kungfu Panda 2 katanya menyusul. Terlepas dari kendala teknis untuk ke luar negeri demi nonton film, gue merasa gerah dengan ‘bedol desa’ orang-orang Indonesia ke Singapur untuk nonton film. Singapur dapet tambahan devisa sementara penghasilan bioskop Indonesia turun drastis. Seremnya kalo sampe dibiarin beberapa bulan lagi, bioskop-bioskop terancam tutup. Artinya pengangguran makin banyak dan orang Indonesia kurang hiburan. Wih. Semakin rumit kalo begitu, siapa yang salah siapa akibat gimana udah nggak jelas.

Wahai para aparat yang berwenang dan pengusaha hebat, jangan ada masalah lagi donk tentang distribusi film. Gue nggak peduli soal peraturannya kek, korupsinya kek, atau apanya kek. Sebagai orang awam pecinta film yang butuh hiburan, gue berharap bisa tetep nonton film bagus dan menghibur. Orang terhibur, bisnis jalan, negara dapet devisa, pengusaha untung, pekerja bioskop tetep hidup nggak jadi penggangguran. Gak perlu memperkaya negeri orang karena konflik negeri sendiri. Gitu aja. Selesai. Mari kita nonton.

Categories: Movies, Random

Cita-cita

May 7, 2011 2 comments

Buat Yani, Retti, Mita dan Nanda,

Gantungkan cita’mu  di langit dan berusahalah sekuat mungkin untuk meraihnya.

Dr. Pratiwi Sudarmono PhD

6/12/91


Tertanggal 6 Desember 1991, tulisan tangan itu tertera di atas kertas berkop Ensiklopedi Nasional Indonesia yang sudah menguning dalam bingkai kayu dan kaca. Saya kurang ingat di mana ayah saya mendapatkan tulisan itu, mungkin di suatu acara jumpa penggemar dengan Pratiwi Sudarmono. Pratiwi Sudarmono adalah ilmuwan yang terpilih untuk misi Wahana Antariksa NASA pada tahun 1985, namun gagal karena bencana Challenger. Meski demikian, prestasi beliau sebagai calon astronot perempuan pertama di Indonesia sangat dibanggakan. Fotonya dalam baju astronot, bisa jadi meninspirasi dan memotivasi banyak orangtua untuk mendidik anaknya agar seprti seperti beliau: cerdas, berprestasi, dan membanggakan.

Begitu juga mungkin dengan ayah saya. Tulisan itu dibingkai dan dipajang di dinding kamar anak-anaknya dengan harapan anak-anaknya akan termotivasi menjadi seperti Pratiwi Sudarmono. Saya mengartikan kalimat itu sebagai suatu gairah dan semangat untuk mencapai sesuatu. Meski memiliki pengertian yang abstrak, namun kalimat itu bertahun-tahun tertanam di kepala.

Cita-cita, seringkali hanya menjadi milik anak kecil dan ABG labil. Ada teman yang ditanyakan cita-citanya ketika wawancara kerja, otomatis menjawab cita-citanya sewaktu kecil: ‘jadi pilot’, meski dia kuliah di jurusan humas. Cita-cita tinggi masa kecil seringkali kalah dengan realitas dan kepentingan praktis. Masa penjurusan di sekolah menengah dan pemilihan pendidikan tinggi adalah saat penting dalam mewujudkan cita-cita jadi dokter dan pilot tadi. Saat itulah penentuan tercapai cita-cita atau harus banting stir.

Saya termasuk yang banting stir karena cita-cita sebagai desainer dipatahkan dengan gagal tes di FSRD-ITB. Sebelum sempat meilirik sekolah desain swasta, saya menangkap peluang di jurusan Ilmu Perpustakaan UI yang tidak banyak saingannya. Rencana saya adalah masuk kuliah gampang di universitas ternama dan gampang pula cari kerja karena lahan kerja pustakawan belum banyak yang mengisi. Setelah punya penghasilan sendiri, baru kuliah desain. Tapi rencana tinggal rencana. Setelah magang dan mulai bekerja sebagai pustakawan, saya menyukai profesi ini. Mengelola dan mengalirkan informasi pada orang, bagaikan menyalakan lilin inspirasi dalam pikiran mereka.

Ketika memutuskan sekolah lagi, saya dibenturkan pada soal keuangan: dana hanya cukup untuk menggenapi gelar S1 daripada mulai dari awal belajar sesuatu yang baru. Saya pun makin tenggelam dalam dunia perpustakaan dan makin dalam dan mantap ketika skripsi mengambil tema perpustakaan konsultan hukum, untuk mengkhususkan diri sebagai pustakawan hukum. Didukung pandangan-pandangan ayah yang juga pustakawan hukum, saya mantap mendalami bidang yang spesifik ini. Cita-cita jadi desainer pun terlupakan, dan berganti dengan cita-cita baru: pustakawan hukum. Seorang yang ahli dalam bidang dokumentasi hukum dan membagi sebanyak mungkin ilmu saya pada banyak orang. Cita-cita yang saya rumuskan pada usia 27 tahun.

Ada banyak cerita dalam mewujudkan cita-cita. Cita-cita, menurut definisi KBBI, adalah 1) keinginan yang selalu ada di dalam pikiran, 2) tujuan yang sempurna (yang akan dicapai atau dilaksanakan). Cita-cita memiliki cakupan yang luas, tidak sekedar impian masa kecil atau harapan ketika remaja. Cita-cita kadang kalah kenyataan dan realita dan terlupakan. Ketika cita-cita masa kecil berubah adalah bukan suatu kegagalan. Manusia berproses seumur hidupnya, begitu juga dengan cita-citanya. Misal, ketika seorang perempuan memiliki cita-cita menjadi wanita karir tapi menjadi ibu rumah tangga, saat itulah ia memiliki cita-cita baru: membahagiakan keluarga dan melihat anaknya sukses.

Selama hayat masih dikandung badan, kandunglah terus cita-cita. Jika ada suatu keinginan yang terus ada di pikiran, itu tandanya kamu punya cita-cita. Cita-cita memang bagai bintang di langit karena sulit diraih, tapi bukan berarti tidak bisa. Bercita-cita tidak akan sia-sia karena meski tidak terwujud sekalipun, cita-cita bisa jadi mimpi yang memupuk harapan, dan inspirasi bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga orang lain. Teriakkan cita-citamu dan biarkan orang tertular.

Categories: Random

Kurang Menulis= Kurang Bahagia

May 1, 2011 Leave a comment

Sebulan terakhir, kerjaan gw lagi menggila karena pindah ruangan dan sekalian beres-beres. Sisi baiknya, gw jadi semangat kerja setelah lama dipenuhi kebosanan akan rutinitas yang kurang menantang bagi otak gw. Tumpukan kerjaan lebih terasa menyenangkan ketimbang membebani.

Tapi setelah tiga minggu, mulai terasa penat dan sesak karena nggak bisa memikirkan hal-hal lain selain kerjaan selama lima hari dan dua hari sisanya buat istirahat. Lelah dan sibuk terfokus sama kerjaan membuat gw malas memikirkan dan mengerjakan salah satu kesenangan gw: menulis. Saya pun tidak senang. Menulis sudah menjadi bagian dari diri gw, bukan cuma sekedar menumpahkan uneg-uneg atau bikin cerpen asal. Agak lama nggak menulis tentang hal pribadi bikin gw merasa kurang dan ada yang hilang.

Berbeda dengan dua kesukaan gw yang lain: membaca dan menonton film, menulis lebih dituntut untuk berpikir lebih karena harus merangkai kata dan kalimat untuk mewakilkan pemikiran dan pendapat kita dengan tepat.

Ada banyak ide tapi sayangnya nggak semua bisa berwujud tulisan. Kalaupun jadi tulisan sayangnya nggak semua juga bisa gw publikasikan. Mungkin salah karena seharusnya gw nggak membuat batasan tentang membagi dan mempublikasikan tulisan ke orang lain. Bukankah suatu tulisan nggak akan ‘bersuara’ kalau belum dibaca selain penulisnya sendiri? Hmmm…

Mungkin, mungkiiinn gw memang nggak cocok dengan pekerjaan yang terlalu sibuk karena otak ini menuntut porsi kegiatan yang lain sama besar dengan pekerjaan. Mungkin karena inilah akhirnya jalan gw bekerja sebagai pustakawan yang tingkat stresnya rendah dan beban kerjanya tidak berat. Jadi lebih punya banyak untuk “melihat” hal-hal ini.

Nah kalo udah nulis begini lega rasanya, dan lebih semangat. Cukup menulis= cukup bahagia.

Categories: Random

Coolest Gank

March 12, 2011 Leave a comment

Selama ini, saya tidak pernah menginginkan suatu episode atau periode dalam hidup saya untuk diulang. Tapi ketika saya menemukan foto-foto lama, saya menginginkan masa itu kembali. Meski pendek tapi inilah gank terkeren yang saya pernah punya.  I really miss the good old days with Lydia, Daya, Lucky, and Ina at 2008. Before we had problems and everything’s alright.

We are cool because we’re good looking and working in a prestigious lawfirm. Setiap kumpul sama mereka selalu lupa waktu dan sangat nyaman. Bisa ngomong dan bercanda apapun. Saya bisa jadi diri sendiri dan gila-gilaan tanpa canggung atau salah ngomong. And the most important is we can having fun without alcohol, weeds, and even smoking – karena cuma satu atau dua orang yang merokok. Bahkan segelas teh manis yang disedot rame-rame di Emax pun cukup untuk bikin seru karena intinya adalah chemistry kita. Segitu kuatnya chemistry kami, jadi gak perlu “bumbu tambahan” karena semuanya terasa pas.

Categories: Random

Silent Birthday

March 10, 2011 Leave a comment

Tujuh Maret, setahun yang lalu, saya sudah berpikir tentang penuaan secara fisik. Bahkan tanpa sadar membayangkan diri saya sebagai sosok perempuan tua yang anggun dengan rambut dicepol model French twist, kerutan di wajah, dan berbadan ramping. Menua dengan anggun, itulah kalimat yang terlintas di pikiran saya. Padahal, itu ulangtahun saya yang keduapuluh sembilan. Berumur 29 terasa seperti jam pasir yang pasirnya hampir habis di satu sisi. Atau terasa seperti billboard neon berwarna pink terang dengan huruf-huruf berukuran besar berkelap-kelip bertulisan TIME IS RUNNING OUT! HURRY UP!. Kepanikan yang datang dengan sendirinya tanpa bisa dicegah karena memang alaminya seperti itu karena perempuan lebih sensitif terhadap umur.

Ulang tahun, tahun baru, dan Idul Fitri adalah saat evaluasi buat gue. Melihat ke belakang apa yang telah terjadi, perubahan, dan langkah kedepannya. Momen evaluasi itulah, saya memilih tema atau suatu hal yang digarisbawahi untuk menjadi perhatian. It’s fun to do it, mungkin karena saya suka berpikir dan menganalisis kali yah. Nah karena usia 30 adalah usia yang “istimewa” karena emosi campur-aduk yang unik itu, maka dari jauh hari saya menyiapkan tema. Jika umumnya orang menyiapkan tema pesta, maka saya menyiapkan tema renungan, tema visi. 

Rasa tidak nyaman dan kecemasan memasuki usia 30 ternyata sudah lewat justru ketika di hari saya genap 30 tahun. Usia 30 identik dengan ketuaan, bagi sebagian besar perempuan, karena menurunnya daya tarik fisik. Meski dari artikel yang saya baca, penuaan secara fisik dimulai dari umur 35. Jika secara fisik, usia 30 mengkhawatirkan, tapi tidak dengan kepribadian. Merasa makin matang setelah melalui banyak hal, angka 30 otomatis memberikan rasa percaya diri tentang kedewasaan, kematangan berpikir, dan menentukan tujuan hidup.

Kehebohan sejak setahun lalu, ternyata menguap ketika hari H-nya. Kebetulan tanggal 7 Maret jatuh pada hari Senin, dan saya nggak ambil cuti karena minggu sebelumnya udah cuti 3 hari untuk liburan keluarga. Jadilah Senin kemarin tidak ada kegiatan yang istimewa. Ucapan selamat hanya dari beberapa orang yang memang hafal tanggal ulang tahun saya. Selain karena saya juga sengaja matiin notifikasi di FB. Silent Birthday. Bahkan paginya, sambil bersiap berangkat kerja hanya sekilas-sekilas saja pikiran ‘wow I’m 30!’. Bahkan ada saat-saat meningatkan diri sendiri, ‘hey you are 30 now! Don’t you want to do something? Bungee jumping?!

Sampai kemarin, akhirnya saya menemukan tema untuk ulangtahun saya: comfort kills! Hidup saya, ya khususnya saya, terdiri dari beberapa siklus yang akan selalu mencapai pada suatu titik: mau ngapain lagi? Menurut sahabat saya, itu disebabkan karena tidak banyak hal yang saya lakukan, atau lebih tepatnya tidak banyak petualangan yang mampir dalam hidup saya. Saya terjebak dalam rutinitas sehari-hari. Rutinitas ini membentuk zona nyaman yang mudah membuat bosan, sehingga lama-lama membuat mampet. Saya baru sadar kalau saya nyaris tidak punya impian. Rencana ada, tapi impian tidak. Saya mengkhayal, bukan bermimpi. 

Hal yang saya  butuhkan saat ini adalah memperpanjang siklus untuk sampai pada titik mau ngapain lagi. Sehingga mengurangi rasa bosan karena menghadapi perubahan dan banyak hal yang bisa dilakukan. Bukan hanya rutinitas. 

Sahabat saya meraungkan sirine dalam diri saya yang berbunyi seperti ini: apakah kamu nggak mau jadi orang yang berbeda? Dimulai dari soal penampilan. Merawat diri, berpakaian rapi, dan berdandan adalah salah satu cara untuk menghargai diri sendiri. Kalau kita bisa menghargai diri sendiri dan merasa nyaman, otomatis aura positif akan keluar dari dalam diri kita. Old trick but always works. Atau, contoh lain, mencatat tugas-tugas kecil pekerjaan yang kebanyakan orang mengerjakan hal administratif berdasarkan ingatan karena malas membuat catatan. Hal-hal remeh ini berbanding lurus dengan comfort kills tadi. Kalau dikerjakan sedikit demi sedikit pasti akan lama-lama akan memberikan pengaruh besar.

Pemikiran ini juga yang membawa saya pada ide untuk tidak takut keluar dari zona nyaman saat ini. Sebelumnya, ada kekhawatiran jika saya akan melamar pekerjaan baru yaitu malas berada di jenjang level yang lebih tinggi, sebagai manajer atau supervisor karena jabatan itu hanya akan menggencet saya antara manajemen dan bawahan saya. Tapi sekarang saya tidak berpikiran begitu lagi. Bahkan saya mulai memberanikan diri untuk punya pikiran seperti ini: setiap merasa menemukan zona nyaman, berarti saatnya keluar mencari petualangan lain. Mewujudkan hal itu dengan satu syarat: tidak boleh gampang stress pada tekanan.

Intinya adalah mengalahkan rasa malas dan mengalahkan diri sendiri. sulit kan? Tapi bukan berarti tidak bisa. Semoga saja sejak saat ini saya tetap semangat mencatat tugas-tugas remeh di post-it atau mencuci muka di siang hari supaya muka tidak gampang kusam saat di kantor.

Kado ulang tahun saya yang ke-30 adalah seporsi chocolate melt Canteen dan ide tentang comfort kills yang keduanya didapat dari sahabat saya. Tidak ada perayaan hangar-bingar, sedikit ucapan selamat dari orang yang benar-benar tahu, dan ide yang meningkatkan semangat saya. Sederhana, hangat, dan bermakna.

Categories: Random

Karena Dunia (Saya) Tidak Akan Sama Tanpamu

January 30, 2011 Leave a comment

Perbedaan tidak akan selalu mudah untuk diterima, terutama orang yang dekat dan akrab. Rasanya gatal selalu ingin menseragamkan pendapat dan pemikiran tanpa mengingat bahwa frame of reference tiap orang berbeda. Kekurangan dan kelebihan orang lain adalah penyeimbang kekurangan dan kelebihan kita sendiri. Bahkan ada sedikit celah untuk membuat kita bersyukur akan keadaan kita. Dunia selalu butuh kutub-kutub berlawanan untuk membuatnya lebih hidup, dinamis, beraneka sekaligus sebagai penyeimbang dan tantangan untuk menjadi sesuatu yang lebih baik. Tapi yang harus diingat adalah, meski menerima perbedaan tapi juga harus tetap menjadi diri-sendiri. Jangan ragu mempertahankan nilai dan prinsip yang kita anggap benar. Jangan mudah ikut arus di saat suara hati berkata tidak. Menghadapi perbedaan adalah asahan agar kita menjadi lebih berkilau bijaksana.

Categories: Random