Archive

Archive for the ‘Movies’ Category

Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2

August 7, 2011 Leave a comment

Sutradara: David Yates

Pemain: Daniel Radcliffe, Emma Watson, Rupert Grint

Tuntas sudah perjalanan 10 tahun kisah Harry Potter di layar lebar. Film pamungkas ini adalah lanjutan perburuan horcrux trio Harry, Hermione, dan Ron untuk melemahkan Voldemort hingga tidak punya ‘penyangga’ untuk hidup abadi dan mudah untuk dibunuh. Trio Harry, Hermione, dan Ron membobol Gringotts untuk mengambil piala Helga Hupplepuff yang merupakan salah satu horcrux. Berhasil kabur dengan melepas naga penjaga, trio ini menuju Hogwarts untuk membinasakan horcrux berikutnya: diadem Rowena Ravenclaw. Kembalinya trio ini menyulut pemberontakan di Hogwarts yang kelam sejak di bawah kepemimpinan Snape. Perang pun dimulai. Orde Phoenix, guru-guru Hogwarts, dan para penyihir pro Harry melawan mati-matian serangan pasukan Voldemort yang terdiri dari pelahap maut, manusia serigala, dan troll.

Harry menemukan fakta mengejutkan tentang horcrux, dirinya, Dumbledore, dan Snape. Bahwa Harry adalah accidental horcrux yang tercipta ketika Voldemort berusaha membunuhnya. Dumbledore mengetahuinya, maka ia membuat skenario agar Harry merelakan diri untuk mati karena dia adalah sama seperti horcrux yang lain yang harus musnah. Pandangan Harry tentang Snape pun berbalik ketika tahu tentang masa lalu guru yang paling dibencinya itu. Bahwa Snape sangat mencintai Lily, ibu Harry, berulangkali melindungi Harry secara diam-diam, dan menempatkan dirinya dalam bahaya sebagai mata-mata Voldemort untuk Dumbledore.

Beruntunglah penonton yang ‘fasih’ dan hafal jalan cerita seri Harry Potter dan sudah membaca bukunya. Jadi menonton film HPDP 2 ini hanya sebagai pengulangan penceritaan. Sedangkan buat yang setengah hafal atau sama sekali tidak tahu jalan cerita seri Potter dipastikan bakal agak bingung dan hanya menikmati visual efeknya saja.

Memang antara buku dan film tidak akan pernah sama karena format media yang berbeda. Sebagai seri pamungkas, HPDP 2 terasa kelam, menggetarkan, dan mengharukan. Musik dan efek visual nampaknya faktor utama menghidupkan suasana kelam Hogwarts saat pertempuran, sebagai klimaksnya. Selain itu akting aktor senior Alan Rickman sebagai Severus Snape yang bagus. Harry Potter pun bertransformasi dari film fantasi anak-anak menjadi film fantasi action untuk remaja dan dewasa.

Selamat tinggal Harry, Hermione, dan Ron. “It all ends” well. EPIC.

Categories: Movies

Kejarlah Harry Sampai Ke Negeri Singa

July 30, 2011 Leave a comment

Akhirnya! Harry Potter tayang juga di Indonesia setelah masalah pajak dan beberapa bulan nggak ada film blockbuster Hollywood. Selama masa kosong itu, film-film yang tayang adalah rata-rata film kelas B dan film Asia. Banyak orang yang sampe ke Singapur atau negara tetangga lainnya demi bisa nonton Potter dan film laris lainnya. Menurut berita yang gue baca di detik, ada banyak cara ke Singapur nonton film blockbuster, dari promo tiket murah sampe kuis. Singapur pun memanfaatkan peluang ini dengan membuat paket promo tiket pesawat dan kerjasama dengan operator bikin kuis yang pemenangnya bisa nonton film blockbuster yang nggak tayang di Indonesia.

Gue sendiri baru sadar kalo bukan die hard fan yang segitunya pergi ke Singapur atau Malaysia atau Vietnam demi nonton film. Bisa jadi juga sayang duit dan nggak ada temen. Hehehehe. Untunglah masalah pajak selesai, mudah-mudahan selesai beneran, jadi film blockbuster (nampaknya) bisa tayang lagi. Setidaknya tayangnya Harry Potter sebagai awal yang bagus. Transformer 3 dan Kungfu Panda 2 katanya menyusul. Terlepas dari kendala teknis untuk ke luar negeri demi nonton film, gue merasa gerah dengan ‘bedol desa’ orang-orang Indonesia ke Singapur untuk nonton film. Singapur dapet tambahan devisa sementara penghasilan bioskop Indonesia turun drastis. Seremnya kalo sampe dibiarin beberapa bulan lagi, bioskop-bioskop terancam tutup. Artinya pengangguran makin banyak dan orang Indonesia kurang hiburan. Wih. Semakin rumit kalo begitu, siapa yang salah siapa akibat gimana udah nggak jelas.

Wahai para aparat yang berwenang dan pengusaha hebat, jangan ada masalah lagi donk tentang distribusi film. Gue nggak peduli soal peraturannya kek, korupsinya kek, atau apanya kek. Sebagai orang awam pecinta film yang butuh hiburan, gue berharap bisa tetep nonton film bagus dan menghibur. Orang terhibur, bisnis jalan, negara dapet devisa, pengusaha untung, pekerja bioskop tetep hidup nggak jadi penggangguran. Gak perlu memperkaya negeri orang karena konflik negeri sendiri. Gitu aja. Selesai. Mari kita nonton.

Categories: Movies, Random

Something Borrowed

July 24, 2011 Leave a comment

Sutradara: Luke Greenfield

Pemain: Ginnifer Goodwin, Kate Hudson, Colin Egglesfield

Bersahabat sejak kecil, Rachel (Goodwin) dan Darcy (Hudson) adalah dua kepribadian yang berlawanan. Rachel yang tipe gadis baik dan manis selalu berada di bawah bayang-bayang dan tak pernah menolak keinginan Darcy yang terbuka, dominan, dan egois. Bayang-bayang masa lalu menjadi masalah ketika Rachel selingkuh dengan Dex (Egglesfield), tunangan Darcy sekaligus gebatan Rachel ketika kuliah. Flashback pun dihadirkan, menceritakan awalnya Dex dan Rachel dekat tapi diselak Darcy karena baik Dex maupun Rachel tidak ada yang berani maju dan tidak mampu berkata tidak pada Darcy. Rachel pun dilema menyimpan rahasia perselingkuhan dari sahabatnya. Dex pun dilanda keraguan ketika tahu perasaan Rachel yang sebenarnya.

Sebagai film komedi-romantis dan drama, tidak ada yang istimewa dari Something Borrowed. Pemainnya yang tampan dan cantik, baju modis, setting indah sudah cukup memenuhi standar romcom yang sangat menghibur mata. Sekilas, tema film ini tidak ada yang menarik tapi kalau didalami ada pergulatan tentang pertemanan dan cinta yang menarik. Rachel, si protagonis adalah tipe gadis baik-baik, cerdas, serius, dan sahabat setia. Sementara Darcy adalah orang terbuka, mendapatkan segala keinginannya, serta egois. Rachel selalu pasrah dan memberikan banyak hal pada Darcy, termasuk cintanya pada Dex. Saat tertekan dan dilema, Rachel pun memberontak diam-diam dengan cara berkhianat. Batas percintaan dan pertemanan memang sering kabur. Kebanyakan, yang menjadi pengkhianat adalah tipe Darcy tapi ini sebaliknya. Meski akhirnya Darcy juga berkhianat pada Dex: selingkuh dengan Marcus yang merupakan teman Dex.

Mungkin karena berdasarkan buku, novel karya Emily Giffin, jadi pergulatannya lebih terasa. Gue kurang puas sama akhir ceritanya, gue pengen Rachel jadi sama Ethan. Ethan adalah teman Rachel dan Darcy yang sangat mendukung Rachel dan diam-diam menyimpan perasaan khusus. Gue lebih suka Rachel sama Ethan yang lucu, sarkastik, ceplas-ceplos, dan sahabat sejak awal. ‘You are home’, kata Ethan menggambarkan kenyamanan dan perasaannya terhadap Rachel. Tapi sayangnya cinta tidak bisa begitu saja berpaling. Rachel fall for Dex, maka Dex lah yang tetap dihatinya.

Tentang judulnya, karena penasaran sama istilah ‘something borrowed, gue googling dan dapet dari sini bahwa istilah ini bagian dari puisi Inggris tentang hari pernikahan:

Something old, something new
Something borrowed, something blue
And a silver sixpence in her shoe.
Something borrowed – an item from a happily married friend or family member, whose good fortune in marriage is supposed to carry over to the new bride.

Tapi tetep nggak ngerti hubungannya sama film ini. Hehehe. Ada yang bisa menjelaskan apa maksudnya?

Categories: Movies

Beastly

July 16, 2011 Leave a comment

Sutradara: Daniel Banz

Pemain: Alex Pettyfer, Vanessa Hudgens, Neil Patrick Harris

Ketampanan dan kesempurnaan fisik membuat Kyle Kingson (Pettyfer) sangat percaya diri di sekolahnya. Kepercayaan diri itulah yang membuat Kyle congkak dan tak segan menghina teman-temannya, salah satunya adalah Kendra. Kendra yang nyentrik dan ternyata penyihir ini pun mengutuk Kyle menjadi buruk rupa. Kyle diberi waktu setahun untuk menemukan cinta sejatinya atau buruk rupa selamanya. Kyle pun kesal dan putus asa “dikurung” ayahnya dengan ditemani guru privat, Will (Harris) dan seorang pelayan, Zola.

Saat-saat putus asa itulah Kyle menemukan ketertarikan pada Lindy (Hudgens) yang telah lama naksir pada Kyle. Lindy yang berbeda dari kebanyakan gadis yang ia kenal, berhasil menyentuh hati Kyle. Pada Lindy ia mengaku bernama Hunter, teman lama ayah Lindy yang dititipkan demi keselamatan Lindy. Saat Kyle merasa telah menemukan cinta sejati dan menagih janji pada Kendra, saat itulah Kyle menyadari kepeduliannya terhadap orang lain juga diuji.

Beastly, diangkat dari novel karya Alex Flinn, adalah adaptasi modern kisah klasih Beauty and the Best. Meski rata-rata ulasan di IMDB jelek, tapi gue tetep suka film ini. Iya sih akting Alex Pettyfer dan Vanessa Hudgens biasa aja dan make-up the beast nggak ada serem-seremnya bahkan cenderung bergaya emo. Emo beast mungkin maksudnya, sesuai tren anak muda sekarang. Beberapa adegan sangat mudah ditebak dan standar banget. Tapi entah kenapa tetap berhasil menyentuh emosi. Tsah! Berhasil menyentuh sisi feminin yang tergila-gila dongeng romantis. Hahahahaha.

Gambar-gambarnya cukup bangus. Terutama setting rumah kaca yang buat Kyle untuk Lindy. Salah satu yang menyentuh adalah tentang surat. Bahwa di jaman digital ini, orang sudah melupakan surat bertulisan tangan. Padahal surat bertulisan tangan lebih punya roh dan nilai emosional, sentimentil, dan romantisme yang tinggi.

Categories: Movies

Limitless

July 16, 2011 Leave a comment

Sutradara: Neil Burger

Pemain: Bradley Cooper, Robert De Niro, Abby Cornish

Sebagai penulis, hidup Eddie Morra (Cooper) nyaris frustrasi. Selain tidak ada prestasi yang dibanggakan, ia mengalami writer’s block sementara ada kontrak yang harus diselesaikan. Tak sengaja, Eddie bertemu mantan adik iparnya, Vernon. Vernon memberi pil yang katanya mampu mengakses kemampuan otak manusia hingga 100 persen dan membuat pemakainya menjadi cerdas. Pil bernama NZT tersebut terbukti ampuh, pikiran Eddie menjadi cerah dan terang. Inspirasi dan memori tergali secara maksimal. Hasilnya, naskah bukunya selesai dalam waktu singkat dan disukai editornya. Ketika khasiat NTZ hilang, Eddie yang bermaksud meminta lagi pada Vernon, malah menemukan mantan iparnya ini tewas dibunuh. Meski berhasil mengambil pil milik Vernon, Eddie dibuntuti lelaki tak dikenal.

Sepak terjang Eddie makin cemerlang. Sukses menjadi penulis, Eddie merambah lantai bursa untuk meraup uang. Aksi cemerlang Eddie di lantai bursa diminati Carl Van Loon (De Niro), seorang kaya dan berkuasa. Eddie pun bekerja untuk Van Loon dalam merger-merger perusahaan besar. Sukses Eddie tersendat dengan kasus pembunuhan sosialita, pemerasan lintah darat, dan mulai menipisnya persediaan NTZ. Eddie yang telah kecanduan NTZ pun mulai menghalalkan segala cara untuk membereskan masalahnya satu per satu.

Limitless memiliki tema yang menarik, yaitu tentang kemampuan-kemampuan tersembunyi otak manusia. Bisakah memori sekilas muncul saat diperlukan? Bisakah kita berpikir tanpa halangan hingga menjadi orang yang cerdas dan rajin? Berawal dari pertanyaan inilah cerita menjadi misteri dan kemudian thriller yang menegangkan. Selain ceritanya yang orisinil, polesan visual di beberapa adegan membuat film ini tidak terasa berat. Contohnya adegan ketika Eddie yang lancar menulis, huruf-huruf berjatuhan dari langit-langit kamarnya.

Dalam satu review tentang Limitless, film ini adalah metafora the America dreams dan kapitalisme. Pada akhir cerita ketika Eddie Morra berhasil menjadi senator dan kaya raya adalah impian orang Amerika akan kekuasaan dan kekayaan. Pesan moral Limitless bukanlah tentang narkoba, yaitu pil NTZ, dan dampak kecanduannya tapi tentang tidak ada kejayaan yang dapat diraih secara instan. Orang-orang yang meroket cepat dan mendadak kaya pasti menyimpan rahasia kelam.

Categories: Movies

Source Code

May 22, 2011 Leave a comment

Sutradara: Duncan Jones

Pemain: Jake Gyllenhaal, Michelle Monaghan, Vera Farmiga

Pilot gugur di Afghanistan, bom meledak di kereta, dan teknologi baru tentang ‘permainan waktu’ menjadi jalinan cerita Source Code. Hal terakhir yang diingat Kapten Colter Stevens (Gyllenhaal) adalah bertugas sebagai pilot tempur di Afghanistan tapi terbangun di kereta menuju Chicago bersama seorang perempuan bernama Christina (Monaghan). Tambah bingung mendapati bahwa ia dalam tubuh Sean Fentress, seorang guru. Belum sempat mendapat jawaban, kereta meledak dan Colter terlempar dimensi lain, ke dalam kapsul dengan berondongan pertanyaan dari Goodwin (Farmiga) tentang siapa pengebom kereta.

Colter pun ‘dilempar’ kembali pada 8 menit sebelum kereta meledak dan ditekan untuk menemukan pelaku sebelum ancaman berikutnya terwujud: mengebom Chicago. Begitu seterusnya sampai pelakunya terungkap dan kebingungan Colter terjawab tentang dirinya dan teknologi bernama source code. Delapan menit yang terus berulang membuat Colter berimprovisasi dalam menemukan pelaku dan menggali perasaannya terhadap Christina. Setelah misinya selesai, Colter minta tambahan 8 menit pada Goodwin untuk menyelamatkan seluruh penumpang, terutama Christina, dan berbaikan dengan ayahnya.

Quantum Leap. Buat yang sering nonton serial ini di RCTI dulu, akan punya bekal tentang sci-fi berdasarkan dunia paralel dan fisika kuantum. Dalam Quantum Leap, Sam Beckett (Scott Bakula yang jadi cameo film ini sebagai ayahnya Colter) berpetualang menembus waktu dan mengisi berbagai raga untuk menyelesaikan masalah dalam hidup orang yang raganya dihinggapi. Tidak jauh beda ceritanya dengan Source Code.

Source Code seru dan mengasyikkan karena bersama Colter Stevens, penonton ditantang untuk menyusun teka-teki dan menebak tentang pengebom dan keadaan Colter yang sebenarnya. Pengulangan 8 menit dalam beberapa kali yaitu kalimat Christina ‘I took your advise’, tumpahan kopi, dan gerutu penumpang lain membuat gemas sekaligus penasaran. Atau kapsul Colter yang misterius dan tidak dapat dibuka, yang ternyata hanya ‘bayangan’. Colter secara fisik sudah mati, tubuhnya bahkan sudah tidak utuh. Saat Goodwin membuka kapsul tempat fisik Colter disimpan dan terlihat hanya beberapa bagian otak yang berfungsi dan dimanfaatkan untuk source code, saat itulah merasa kasihan. Adegan buka kapsul ini seiring dengan kesempatan 8 menit terakhir untuk menyelamatkan seluruh penumpang dan mengubah sejarah.

Sebagai dongeng yang baik, Source Code berakhir sangat bahagia: Colter berhasil menyelamatkan kereta, menangkap si pengebom, dan bahagia bersama Christina. Tapi ending terlalu bahagia ini ‘harus’-nya cuma jadi alternate ending di DVD. Kalau saja akhir cerita dibuat tragis dengan bom tetap meledak, Source Code akan tetap dijalurnya, sesuai dengan perkataan Goodwin: bahwa source code dibuat bukan untuk mengubah masa depan.

Categories: Movies

Gnomeo and Juliet

April 24, 2011 2 comments

Sutradara: Kelly Asbury

Pengisi suara: James McAvoy, Emily Blunt, Maggie Smith

Seperti yang dibilang si kurcaci pada pembukaan film ini, bahwa kisah cinta Romeo dan Juliet telah banyak diadaptasi. Kali ini dalam bentuk animasi, kisah cinta terkenal karya Shakepeare ini mengambil bentuk patung kurcaci penghuni kebun atau gnome. Maka jadilah Gnomeo and Juliet.

Perawan tua Ms. Montague dan bujang lapuk Mr. Capulet adalah tetangga di Jalan Verona yang masing-masing memiliki kebun indah yang dihiasi gnome. Mengikuti permusuhan ‘majikan’ mereka, para gnome dan patung taman lainnya juga bermusuhan. Para gnome bertopi merah, milik Mr. Capulet, dipimpin oleh Lord Redbrick memiliki seorang putri bernama Juliet (Blunt). Sedangkan para gnome bertopi biru milik Ms. Montague dipimpin oleh Lady Bluebury (Smith) memiliki seorang putra bernama Gnomeo (McAvoy).

Perseteruan mereka meruncing ketika Gnomeo menyerang sumur milik Tybalt setelah dicurangi dalam adu balap mesin pemotong rumput. Berhasil kabur dari sergapan Tybalt, Gnomeo berjumpa dengan Juliet yang sedang berusaha mengambil bunga anggrek. Mereka pun jatuh cinta dan tidak peduli ketika mengetahui identitas masing-masing. Keadaan makin gawat ketika Gnomeo tanpa sengaja menghancurkan Tybalt, Gnomeo tertabrak truk, dan para gnome topi biru menuntut balas dengan melepas mesin pemotong rumput maut, Terrafirminator. Berhasilkah Gnomeo dan Juliet berakhir bahagia? Tidak mengikuti kata si patung Shakespeare, sang penulis cerita asli, yang bilang ‘I told you so!’ ketika Gnomeo menerima kabar buruk bahwa Juliet dilem ayahnya?

Adaptasi cerita cinta yang sangat terkenal ini segar dan lucu, cocok untuk anak-anak dan semua umur. Unik karena mengambil sosok yang tidak biasa, yaitu kurcaci kebun, bukan manusia. Tokoh-tokoh kocak seperti si kodok Nanette atau Featherstone, si flamingo plastik menyegarkan film animasi ini. Atau iklan Terrafirminator yang ‘seram’ tapi sangat lucu. Gnomeo and Juliet, di satu sisi, menjadi parodi dari cerita aslinya dan beberapa hal dalam kehidupan nyata. Durasinya yang singkat, hanya 84 menit, menyelamatkan film ini dari kebosanan jika ceritanya diulur. Terutama untuk penonton anak-anak yang cepat bosan.

Categories: Movies