Archive

Archive for the ‘Fiksi Singkat’ Category

Kiamat di Kamar Bata Merah

June 6, 2010 2 comments

Why does the sun go on shining?
Why does the sea rush to shore?
Don’t they know it’s the end of the world,
‘Cause you don’t love me any more?

Lagu lawas yang dinyanyikan Skeeter Davis itu memenuhi sebuah ruang kamar berbata merah. Perpaduan bata merah dan furnitur berwarna krem memberikan kesan hangat kamar tersebut. Beberapa majalah bertebaran di atas meja kopi yang dipernis mengkilap. Rak-rak sarat buku, CD, dan pajangan memenuhi dinding berdampingan dengan lukisan dan foto-foto. Pot-pot tanaman rambat di dekat jendela tampak terawat dengan baik. Satu pot berisi mawar berwarna merah pudar terlihat indah dengan latar bata merah. Angin menerobos masuk ke dalam kamar yang dikelilingi jendela itu. Tirai berayun-ayun dipermainkan angin yang masuk jendela yang dibuka lebar. Sinar matahari menyinari kamar itu dengan sempurna.

Why do the birds go on singing?
Why do the stars glow above?
Don’t they know it’s the end of the world
It ended when I lost your love

Lelaki itu menyesap kopinya dengan perasaan hampa, tidak ada ekspresi istimewa meski dia sadar bahwa bisa jadi ini adalah kopi terakhir dalam hidupnya. Sinar matahari menyinari bola matanya yang coklat muda hingga terlihat bening. Ditatapnya siluet gedung-gedung pencakar langit dengan sinar matahari diantaranya. Hatinya hancur mengenang belahan jiwa yang berhenti mencintainya. Betapa cinta bisa menghancurkan semestanya dalam waktu singkat. Rasa sesak dan sakit menggores hatinya dengan sangat dalam hingga keputusasaan mengambilalih dan dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Dia kemudian bangkit dan berjalan perlahan menuju jendela. Ini akan jadi pemandangan terakhir yang dinikmatinya.

Why does my heart go on beating?
Why do these eyes of mine cry?
Don’t they know it’s the end of the world
It ended when you said goodbye.

Lagu itu mengiringinya ketika menaiki railing untuk loncat. Dia menutup matanya, merasakan angin menerpa wajah dan rambutnya. Selangkah lagi dia akan terjun, terbang bebas dari penderitaannya. Sebentar lagi perasaan hampa itu akan hilang, berganti dengan sesuatu yang ia sendiri tidak tahu. Hatinya benar-benar gelap.

Don’t they know it’s the end of the world
It ended when you said goodbye…

The end of the world.

Advertisements
Categories: Fiksi Singkat

Obat Patah Hati

May 25, 2010 1 comment

Tas kerja mirip koper itu terasa lebih gembung dan berat dengan bertambahnya satu benda. Terdiri dari 647 halaman yang mulai menguning itu adalah obat patah hati yang aku punya saat ini: Dokter Zhivago-nya Boris Pasternak. Buku peninggalan salah satu lawyer itu sudah hampir 2 tahun teronggok di lemari kerja. Tak bernafsu aku membacanya, tapi tak ingin juga aku singkirkan karena ini adalah salah satu karya terkenal. Saat ini, cerita Yuri Zhivago mungkin bisa mengalihkan perhatianku dari dirinya.

Malu-malu aku selipkan buku itu hingga ke dasar tas dan menutupinya dengan barang lain. Aku malas ditertawakan teman-temanku yang malam ini perasaannya juga sedang jelek. Bedanya, temanku yang cantik itu memilih alkohol sebagai obat.

“Malem ini gw mau ke club, mabok-mabokan. BT sama pacar dan orang-orang rumah” ujarnya sambil membalas pesan singkat mesra dari seseorang di belahan dunia lain.

Rasanya aku ingin tertawa melihat kekontrasan ini: minum sampai mabuk di club vs baca buku di rumah. Biang dugem vs kutu buku. Jauuuh di lubuk hatiku, ingin rasanya aku bisa mabuk, menikmati ganja, dan merokok. Tenggelam dalam ketidaksadaran dan melupakan masalah yang ada. Sungguh deh, aku benar-benar mendambakan bisa mabuk berat kalau lagi perasaan sedang jelek. Tapi apa daya, minum bir oplosan saja sudah sakit kepala.

Yah, setiap orang punya gaya hidup dan lingkungan masing-masing. Alkohol, ganja, dan rokok buatku adalah buku, film, berpikir, dan berkhayal. Ekstasi adalah ketika aku menemukan makna dari buku dan film. Clubbing adalah ketika aku punya ide dan menuangkannya dalam tulisan. Mungkin itulah caraku bersenang-senang dan aku sangat menyukainya.

Categories: Fiksi Singkat

They are Lovers

May 24, 2010 2 comments

Meet Ms. She. Aktris berbakat asal Jerman yang telah meraih berbagai penghargaan untuk film-filmnya. Cantik, memiliki banyak bakat, dan tanpa cela, She adalah sosok sempurna seorang pesohor. Datang dari keluarga terhormat dan disiplin, She memulai karirnya sebagai aktris dari umur 7 tahun. Kakeknya adalah mantan perwira Nazi yang turut terlibat dalam peristiwa holocaust. Kulit pucat bagai pualam, rambut pirang, dan bermata biru, She bersinar dimanapun ia berada. Everybody loves She.

And this is Mr. He. Sutradara film horror kelas dua berdarah Yahudi yang menimbulkan kontroversi karena film-filmnya yang sadis dan dianggap tidak bermutu. Meniti karir dari bawah sebagai kru film, He berasal dari keluarga yang lumayan berpendidikan. Kakek dan neneknya selamat dari peristiwa holocaust di masa perang dunia II. Dengan tinggi hampir 2 meter, berpostur atletis, berambut dan bermata coklat gelap, He cukup tampan. Mengabaikan cibiran para pembencinya, He terus konsisten membuat film-film horror yang sesuai dengan visi dan seleranya. Many people hates He.

They’re lovers.

Categories: Fiksi Singkat

Abu-abu

May 24, 2010 Leave a comment

Suatu pagi di musim panas. Aku terbangun dengan keringat di wajah dan punggung. Aku belum sempat melihat jam, tapi sadar bahwa sudah siang karena sinar matahari mulai menembus jendela kamar. Seperti biasa, hal pertama yang dilakukan otakku adalah secara otomatis mengulang memori sembilan jam sebelumnya. Semalam. Enero. Sore. Bertemu. Semalam aku bahagia karena sorenya bertemu dengan Enero sejak kami putus hubungan sebulan yang lalu. Badannya lebih kurus, tapi mata dan humornya masih membuatku gemas dan tertawa. Dia tidak bahagia dengan pacar barunya. Enero. Tanpa terasa airmataku mengalir begitu saja. Aku tidak terisak, tidak ingin menangis, dan merasakan kerut wajahku datar saja. Namun airmata mengalir membasahi pipi dan membasahi bantal, masih dengan ekspresi datar dan dingin di wajahku. Aku seperti orang lumpuh seluruh tubuhnya tak berdaya dan hanya bisa menggerakkan mata. Memoriku pun berputar bagai rol film yang membentuk adegan-adegan kacau yang meloncat-loncat.

Selama ini aku selalu memandang dalam warna hitam dan putih. Benar atau salah. Pintar atau bodoh. Kanan atau kiri. Tidak ada ‘antara’ dan ‘perpaduan’. Hubungan dengan Enero yang memperkenalkan aku pada warna abu-abu. Akhir-akhir ini, bahkan tidak berwarna. Putihkah? Aku tidak tahu kalau tidak berwarna adalah putih. Jika ada warna lain, maka warna itu lah yang mewakili pandanganku saat ini. Mungkinkah saat ini aku sedang memberontak terhadap nilai-nilai yang selama ini aku percaya? Pemberontakan karena marah dan lelah. Pemberontakan karena pemikiranku yang semakin rumit disebabkan perasaan yang rumit pula. Perasaan yang tidak dapat dijelaskan secara rasional dan normatif.

Sekarang, aku sudah belajar untuk tidak memberikan nilai yang sama pada masing-masing orang. Nilai dan ukuran setiap orang sangat relatif dan pribadi. Jiwa manusia begitu rumit untuk disamaratakan dan dinilai secara pasti. Kebenarannya sejatinya terbungkus fisik tulang berbalut kulit dan senyuman palsu. Duhai, tak akan ada sebaik-baiknya orang menilai orang yang lainnya. Wajahku kembali membentuk senyum. Lagi, Enero mengajarku satu hal melalui caranya sendiri.

Categories: Fiksi Singkat