Archive

Archive for the ‘Books’ Category

Madre (Dee)

August 7, 2011 Leave a comment

Madre adalah kumpulan cerpen dan puisi karya Dee atau Dewi Lestari. Melalui ketigabelas karyanya yang dihimpun dari tahun 2006-2011, Dee membagi ide dan pemikirannya melalui rangkaian kata yang cerdas, lugas, dan indah. Terakhir saya baca Perahu Kertas. Sebagai pembanding, Madre lebih berat dari Perahu Kertas yang sangat ringan. Dalam Madre, ada cerpen dan banyak puisi yang saya tidak paham dan perlu lebih dari sekali membacanya untuk mengerti.

Madre, Rimba Amniotik, 33, dan Menunggu Layang-layang adalah kesukaan saya. Madre adalah cerpen pertama yang dijadikan judul antologi ini. Ceritanya unik, yaitu tentang biang roti bernama Madre yang ‘hidup’ dan mengubah hidup pemuda bernama Tansen. Madre membuat Tansen menemukan ‘rumah’nya di toko roti lawas yang bangkrut bernama Tan de Bekker dengan bantuan pak Hadi serta persahabatan istimewa dengan Mei. Alur sebenarnya mudah ditebak, tapi tetap saja saya bertanya-tanya apakah Dee akan menjadikan kisah ini tidak biasa mengingat Dee adalah penulis yang tidak biasa juga. Tapi ternyata akhir Madre sesuai rumus, dan fiksi ini menjadi lebih manis.

Tebakan yang sama juga pada cerpen Menanti Layang-layang. Adalah dua sahabat karib lawan jenis bernama Che/Christian dan Starla. Bertahunan Che, seorang arsitek yang manut pada rutinitas dan penyendiri ini, menjadi tempat curhat tentang pacar-pacar Starla. Che marah ketika Rako, sahabatnya, menjadi korban Starla dan memprotes perilaku Starla yang berganti-ganti pacar. Ohya sebagai pengkontras, Starla adalah desainer interior yang terbuka dan tidak bisa hidup tanpa pasangan. Konflik Che dan Starla berujung pada perasaan yang mereka simpan satu sama lain.

Kisah Che dan Starla sangat mirip dan dekat dengan diri saya sendiri. Saya mirip dengan Che yang setia pada rutinitas, merekayasa mood dalam lagu-lagu di iPod, bisa bertahan dalam kesendirian, dan takut jatuh cinta.  Sedangkan Starla adalah kebalikan dari Che, yang mirip dengan beberapa teman saya. Starla spontan, harus selalu punya pasangan, dan selalu butuh keramain meski di keramaian itu sebenarnya sendiri dan kesepian. Intinya, Che dan Starla sama-sama kesepian tapi memilih cara yang berbeda untuk mengatasinya. Maka ketika cinta tergali antara keduanya, saya yang penggemar cerita cinta opposites attract, tersenyum puas dengan akhir Menanti Layang-layang.

Rimba Amniotik, yang lebih mirip esai, adalah percakapan batin antara calon ibu dan bayi yang dikandungnya. Yaitu Dee dan anaknya Atisha. Pemujaan sang ibu terhadap bayi di rahimnya dengan menyebutnya sebagai sahabat yang berjodoh dengannya. Rimba Amniotik, buat saya, membuktikan keaslian ide dan kedalaman berpikir Dee sangat mengesankan. Ide percakapan batin antara ibu dan bayi adalah orisnil, kuat, dan menyentuh. Tulisan ini membuktikan bahwa menulis dari hati berdasarkan perasaan cinta yang dalam akan membuahkan karya terbaik.

33, nampaknya serupa dengan Rimba Amniotik, adalah hadiah Dee untuk salah satu anggota keluarganya yang saya duga adalah suaminya. 33 memaparkan sisi magis angka kembar ini dan kaitannya dengan umur si penerima puisi hadiah ini yang berusia 33 tahun, 33 hari. Sama dengan cerpen Menunggu Layang-layang, puisi 33 terasa akrab dengan saya karena kesamaan kami memberi hadiah pada seseorang berupa puisi.

Itulah empat karya dalam Madre yang paling menggugah saya. Selebihnya, terutama puisi agak sulit dicerna karena menyimpan banyak makna tersembunyi. Saya mencoba memahami cerpen Guruji dan Have You Ever tapi masih gagal. Sedangkan Semangkok Acar Untuk Cinta dan Tuhan terasa sangat filosofis, sedikit saya bisa memahami. Tapi kegagalan ini justru membuat saya semakin tertantang untuk mamahami hubungan mengupas bawang dan pertanyaan tentang arti Tuhan dan cinta atau cerita unik lain dalam Guruji.

Categories: Books

Libri di Luca (Mikkel Birkegaard)

April 3, 2011 Leave a comment

Buku yang selalu identik dengan pengarang seolah mengesampingkan peran pembaca. Mikkel Birkegaard menggali peran penting pembaca buku dan Libri di Luca, atau yang mempunyai judul lain The Library of Shadows ini. Bahwa sebuah buku menjadi ‘hidup’ karena penafsiran dan fantasi pembacanya.

Bersetting di Kopenhagen, Denmark, Libri di Luca dibuka dengan kematian Luca Campelli yang misterius. Luca seolah dikendalikan kekuatan tak terlihat yang terus memaksanya membaca buku hingga tewas. Toko buku Libri di Luca pun diwariskan pada putra Luca, Jon yang seorang pengacara dan memiliki hubungan tidak harmonis dengan sang ayah sejak kematian ibunya.

Jon terpaksa terlibat jauh ketika Libri di Luca diserang orang tak dikenal. Dibantu Iversen, asisten Luca, dan Katherina, Jon memasuki dunia para pecinta buku yang terdiri dari sekelompok orang berbakat yang disebut pemancar dan penerima. Di tangan mereka, buku menjadi alat mematikan untuk mempengaruhi dan membunuh orang. Jon pun semakin tertarik, terlebih setelah dipecat karena ulah Remer, klien kantor yang mengincar toko buku ayahnya dan dirinya. Bersama Katherina dan Muhammad, temannya yang jago komputer, Jon bertualang hingga ke Alexandria untuk menghentikan ambisi jahat Remer.

Ide cerita sangat bagus. Mikkel Birkegaard menyuguhkan sudut pandang yang jarang: para pecinta buku. Bahwa mereka lebih dari sekedar kutu buku yang culun, para pemancar dan penerima ini memiliki bakat dan kekuatan dahsyat. Berkat buku ini juga saya jadi menyadari pentingnya hal ini: sebuah tulisan akan ‘hidup’, menangis, tertawa, dan berteriak jika ada yang membacanya. Tak peduli sehebat apapun pendapat si penulis, jika tulisannya tidak ada yang membaca, maka tulisan itu akan mati dan tidak ada gunanya.

Karakterisasi juga lumayan. Katherina, misalnya, menjadi karakter yang unik karena dyslexia. Bayangkan seorang pecinta buku adalah pengidap dyslexia, penyakit yang memiliki kesulitan untuk membaca. Katherina menikmati buku dengan mendengarkan pikiran seseorang.

Ide dan penokohan bagus, tapi intriknya kurang. Sejak awal saya bisa dengan mudah menebak bahwa Remer adalah tokoh antagonisnya. Remer adalah dalang dari pemecatan Jon dan pembunuhan Luca. Menurut saya akan lebih menarik kalau ‘dipelintir’ dengan mengalihkan dalang sebenarnya adalah Iversen. Pelintiran hanya kepada Pau yang menjadi pengkhianat di kelompok mereka.

Buat pecinta buku dan novel thriller, Libri di Luca adalah paduan pas untuk dinikmati. Tidak banyak novel tentang pecinta buku dan perpustakaan. Mudah-mudahan diadaptasi menjadi film.

Categories: Books

Dwilogi Padang Bulan (Andrea Hirata)

September 19, 2010 Leave a comment

Pada bagian pertama, yaitu Padang Bulan, cerita dibuka dengan tragedi yang menimpa keluarga Zamzani. Zamzani yang kuli tambang timah ini meninggal dalam kecelakaan. Posisinya sebagai pencari nafkah pun digantikan Enong, putri sulungnya, yang terpaksa putus sekolah demi bekerja keras menghidupi keluarganya. Kisah Enong yang mengharubiru ini berganti dengan kisah Ikal yang masih berusaha mendapatkan cinta A Ling. Ikal yang lulusan sekolah luar negeri ini memilih menetap di Belitong sebagai pelayan warung kopi milik pamannya, ketimbang merantau di Jakarta. Ikal patah hati ketika tahu A Ling akan menikah dengan Zinar, pemuda Tionghoa yang ganteng dan ramah. Setelah berusaha membuktikan diri lewat sejumlah perlombaan tujuhbelasan, meski kalah Ikal merasa puas dan akhirnya terbukti bahwa pertunangan A Ling dan Zinar adalah salah paham.

Kisah Enong yang nama aslinya Maryamah ini berlanjut di bagian kedua dwilogi Padang Bulan; Cinta di Dalam Gelas. Maryamah ingin bertanding catur melawan mantan suami yang pernah menyengsarakannya. Dibantu teman-temannya; Ikal, detektif M. Nur, Preman Cebol, Selamot, dan Giok Nio, Maryamah tekun belajar catur dari nol. Demi mengukur kekuatan lawan dan menyusun strategi, mereka mendapat bantuan dari grand master catur Nochka yang merupakan teman kuliah Ikal di Inggris. Pertandingan catur pun menjadi ajang balas dendam Maryamah atas luka-luka masalalunya sekaligus kebangkitan hak perempuan di desa Ikal.

Cerita dwilogi inilah seharusnya yang menjadi isi Maryamah Karpov, karena cerita banyak tentang Enong alias Maryamah. Awalnya gw kurang simpati pada Ikal yang “bodoh” karena tetap berkubang di Belitong karena patah hati pada cinta pertama dan sebagai pelayan warung kopi, ketimbang ke Jakarta mencari pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya. Tapi kemudian, cerita di Belitong lebih menarik daripada cerita, bila jadi, Ikal di Jakarta. Ikal adalah Andrea Hirata, jadi mungkin juga Andrea mengungkapkan keinginannya bila dia jalan hidupnya berbeda. Di kampungnya, Ikal berhasil membuat pembaharuan tentang emansipasi perempuan. Suatu sekrup besar di perahu kecil. Suatu hal yang tidak akan terjadi bila Ikal bekerja di Jakarta sebagai pegawai perusahaan. Sekrup kecil di perahu besar.

Meski meski agak mengecewakan karena belum bisa melepas sosok Ikal, Dwilogi Padang Bulan masih menampilkan bacaan yang enak dinikmati berbungkus humor melayu yang menjadi ciri khas Andrea Hirata. Semoga di karya berikutnya, Andrea Hirata tidak lagi menggunakan Ikal untuk menghasilkan cerita yang sama menariknya.

Categories: Books

The Society of S (Susan Hubbard)

May 30, 2010 3 comments

Terbagi menjadi tiga bagian, novel karya Susan Hubbard ini mengambil sudut pandang Ariella Montero alias Ari. Bagian pertama bercerita tentang kehidupan Ari di Saratoga Springs. Gadis remaja berusia dua belas tahun ini tinggal di kota sunyi bernama Saratoga Springs, New York. Ayahnya, Raphael Montero, seorang peneliti yang cerdas, terpelajar, dan tampan. Bersama mereka ada Dennis yang merupakan sahabat Raphael, Mary Ellis Root yang merupakan asistennya, dan Mrs McGarritt yang merupakan koki khusus untuk Ari. Menjalani hidup yang sunyi, ayah Ari terbilang sangat protektif terhadap putrinya dengan tidak memperbolehkan Ari bersosialisasi. Ari pun menjalani gaya hidup yang tidak biasa sebagai vegetarian dan homeschooling dengan pengetahuan di atas rata-rata anak sebayanya. Suatu hari Mrs McGarritt mengajak Ari mengunjungi keluarganya dan Ari pun menjalin pertemanan dengan Kathleen dan Michael. Namun Kathleen terbunuh dan keceriaan Ari pun padam. Kemurungan ini mendorong Ari untuk mencari tahu akan keanehan dan perbedaan dirinya serta pertanyaan-pertanyaan tentang ibunya. Dari cerita-cerita ayahya, Ari pun bahwa dirinya vampir. Setengah vampir karena ibunya manusia dulu adalah manusia.

Bagian kedua mengkisahkan perjalanan Ari ke Florida mencari ibunya, Sara Stephenson. Dalam perjalanan inilah Ari mulai mengenal dirinya sebagai vampir dengan meminum darah manusia, bahkan membunuh orang yang mencoba memerkosanya. Sekaligus mengenali kekuatan dirinya yang bisa menghipnotis, membaca pikiran, dan menghilang. Ari pun berhasil menemukan ibunya dan mengetahui tentang masyarakat S. Masyarakat S atau The Society of S, kependekan dari Sanguin, adalah sekte pecinta lingkungan yang memusatkan perhatian pada etika dan hak asasi manusia.Vampir-vampir masyarakat S hidup dengan manusia dan tidak meminum darah manusia, sebagai gantinya mereka mengembangkan suplemen. Mereka, berbeda dari golongan vampir yang masih memangsa manusia, berpendapat bahwa hidup damai dengan manusia adalah keharusan.

Bagian ketiga adalah reuni keluarga Montero. Sepeninggal Ari, ayahnya “meninggal”, berganti nama menjadi Arthur Gordon Pym, dan hidup di kota lain. Pada bagian terakhir ini pun terungkap bahwa dalang perpisahan Raphael dan Sara adalah Malcolm, sahabat Raphael. Malcolm, yang mengubah orangtua Ari menjadi vampir, ternyata mencintai ayah Ari (heih, vampir homo? yang benar saja!) sehingga berusaha memecah belah Raphael dan Sara juga membunuh Kathleen. Malcolm dibantu Dennis, yang pada akhirnya dianggap oleh Ari dan ayahnya sebagai pengkhianat. Akhir cerita, Malcolm menghilang dari kehidupan mereka setelah suatu kebakaran dan Ari tinggal dengan ibunya.

Sedikit berbeda dengan judulnya, The Society of S sangat sedikit bercerita tentang sekte Sanguin. Novel ini lebih banyak menceritakan kehidupan pribadi Ariella, yaitu seputar pertanyaan dan misteri tentang dirinya sendiri dan orangtuanya. Sekte Sanguin hanya muncul sedikit di bab 2 yang menceritakan kehidupan Sara. Malcolm, yang berpotensi jadi penjahat besar dalam cerita ini pun akhirnya tidak lebih dari vampir homo yang sakit hati pada ayah Ari. The Society of S pun dominan drama ketimbang thriller apalagi horor. Meski demikian, deskripsi yang diberikan Susan Hubbard sangat mengesankan. Terutama tentang teman-teman Ari dan konflik seputar mereka yang terasa nyata, bahwa inilah kehidupan remaja sekarang. Satu poin plus lagi, pembeberan sastra dan ilmu pengetahuan lain, bagai menikmati potongan Dan Brown dalam buku ini.

Dibandingkan dengan Twilight Saga karya Stephenie Meyer, novel ini lebih terasa padat dan berisi. Mungkin karena muatan sastra dan ilmu pengetahuannya serta meyoal tentang riset dan bisnis suplemen darah. Hmmm remind me of Daybreakers. Sedangkan Twilight benar-benar memfokuskan percintaan Edward dan Bella hingga terasa dangkal. Satu buku The Society of S memang terasa lebih mengenyangkan ketimbang empat buku Twilight Saga. Kisah Ari pun berlanjut di The Year of Disappearances.

Categories: Books

Negeri 5 Menara

May 14, 2010 Leave a comment

Meet Alif Fikri, anak asal Maninjau di Sumatera Barat, yang menuntut ilmu agama ke Pondok Madani, disingkat PM, di Ponorogo, Jawa Tengah. Alif  setengah hati sekolah di PM karena desakan amaknya yang menginginkan putranya menjadi ahli agama. Amak yang lurus hati ini prihatin, sekolah agama selalu jadi cadangan para penuntut ilmu, hingga ahli-ahli agama hanyalah orang-orang buangan yang gagal menggapai pilihan utama mereka. Alif pun dipaksa betah dengan sistem pendidikan PM yang sangat disiplin dari mulai jam belajar, ibadah, dan olahraga yang sangat teratur sampai penggunaan bahasa. Di PM, percakapan sehari-hari hanya boleh bahasa Arab dan Inggris, sebaliknya bahasa Indonesia dilarang.

Alif pun berkenalan dengan teman-teman barunya yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Ada Said asal Surabaya, Raja dari Medan, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung, dan Baso dari Gowa. Bersama kelima temannya, para sahibul menara, Alif pun bermimpi dan bercita-cita tinggi menuju benua impian mereka masing-masing. Berbagai suka-duka sebagai santri berusaha mereka jalani dengan ikhlas.

Alhamdulillah selesai baca buku ini serasa melepas beban. Gw akui, setelah lewat satu bab, agak malas untuk melanjutkan karena unsur hiburannya kurang. Konflik dalam diri Alif yang berkeinginan untuk bersekolah di sekolah umum tidak diekspos. Pada satu titik, Negeri 5 Menara terasa seperti biografi penulisnya, yaitu Ahmad Fuadi, yang nyaris datar dan minim konflik. Bab-bab hanya sebagai deskripsi kehidupan para santri di pesantren. Meski demikian, tidak disangkal bahwa buku ini membangkitkan semangat dan sangat inspiratif. Mengutip komentar Emha Ainun Najib: Ahmad Fuadi berhasil mengolah sampah masa lalu menjadi permata.

Banyak yang membandingkan Negeri 5 Menara dengan Laskar Pelangi yang lebih dulu lahir. Buat gw, kedua buku ini sama bagusnya. Tapi unsur hiburan Laskar Pelangi mengungguli Negeri 5 Menara. Laskar Pelangi lebih mengaduk emosi dengan latar kemiskinan yang kontras dengan semangat belajar serta humornya lebih menggigit. Pada akhirnya setelah selesai gw baca, Negeri 5 Menara tetap bisa membakar semangat untuk terus belajar dan mengalahkan diri sendiri. Gw mendukung banget buku-buku semacam ini, jadi penasaran sama lanjutannya; Ranah 3 Warna.

Categories: Books, Uncategorized

Stephanides Brothers’ Greek Mythology

April 18, 2010 2 comments

My oh my! These are my favorite books ever: series of Stephanides Brothers’ Greek Mythology. Diceritakan ulang oleh Menelaos dan Yannis Stephanides, buku-buku ini terbagi ke dalam tiga seri dan 17 buku. Versi bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Dicky Komar dan Aris Munandar ini diterbitkan Pustaka Utama Grafiti di tahun 1991. Seri A: Dewa-dewa Olimpus bercerita tentang kelahiran dan riwayat 12 dewa utama Olimpus: Zeus, Hera, Afrodite, Apolo, Hermes, Demeter, Hades, Hefestus, Ares, Atena, Poseidon, dan Hestia serta para Titan penguasa dunia sebelum Zeus naik tahta. Seri B: Dewa dan Manusia berkisan tentang hubungan dewa dan manusia. Tahukah bahwa nama ‘Eropa’ berasal dari seorang gadis Asia (Timur)? Zeus menculik Eropa dan dibawa ke Yunani (Barat) untuk dinikahi. Sejak itu, suatu benua di barat menyandang namanya: Eropa. Atau penerbangan manusia pertama oleh Dedalus dan Ikarus yang menjalin bulu-bulu burung untuk melarikan diri dari labirin. Ada juga cerita tentang Pandora, seorang wanita yang membuka kotak terlarang hingga timbul bencana besar. Juga permintaan raja Midas pada dewa Dionisus agar semua yang disentuhnya menjadi emas. Seri C: Para Pahlawan menceritakan keberanian dan penaklukan besar Herakles, Teseus, Perseus, Jason, Akhiles dan Odisius. Dari 12 karya penaklukan Herakles sampai kisah perang Troya yang terkenal.

Tentang mitologi

Jauh di masa lampau, manusia tak ubahnya anak kecil yang menyukai cerita dongeng. Pada zaman itu manusia sama sekali tidak berdaya menghadapi kekuatan alam yang dahsyat, sehingga hidup mereka sangat sulit. Kekuatan-kekuatan hebat penyebab bencana sekaligus membuat kagum, adalah teka-teki kehidupan yang membuat manusia mencari penyebab kekuatan dan fenomena alam tersebut. Namun pengetahuan mereka yang masih sangat terbatas “kalah” oleh daya khayal yang kuat. Kekayaan imajinasi mereka melahirkan kisah-kisah indah yang menyentuh sekaligus mengungkapkan dalamnya kepedihan sebagai akibat dari sulitnya kehidupan mereka di bumi.

Demikianlah maka lahir mitos – dan mitologi.

Dalam catatan untuk pembaca, mitologi ini ditulis dengan tujuan menyediakan bagi anak-anak bahan bacaan yang mengandung pelajaran dan bersifat mendidik sekaligus mampu menanamkan kecintaan terhadap buku-buku bermutu dan menjauhkan dari materi yang dangkal. Well, it works for me. Mitologi Yunani sarat dengan pendidikan, dan karena ini buku anak-anak yang menekankan edukasi maka kata-kata dan ilustrasinya pun dipoles hingga sesuai dengan pembacanya. Dewa-dewa dalam mitologi Yunani digambarkan memiliki sifat yang sama dengan manusia, baik dalam kekurangan dan kelebihannya. Orang-orang kuno menciptakan dewa-dewa mereka dari realitas sehari-hari. Realitas, pada masa yang sulit itu, memang sering tidak adil.

Sesuai coretan tangan gw pada salah satu halaman judul, gw baca buku ini mulai dari kelas 6 SD. Gw inget waktu itu, beli buku harus ke Multi Media di proyek (area pertokoan Bekasi sebelum menjamurnya mal di deket rumah), belum ada Gramedia atau Gunung Agung di sekitar rumah. Buku mitologi Yunani ini harganya lumayan mahal untuk tahun 1991; Rp12.500. Setiap bokap gw beliin satu buku, keseluruhan ada 17 buku, rasanya lebih seneng daripada dibeliin mainan. Bahkan di saat gw nangis diomelin bokap, mendekap buku ini bisa menenangkan gw. Buku-buku ini adalah suatu kemewahan tersendiri buat gw.

Tidak hanya terpesona dengan ceritanya yang imajinatif, ilustrasi buku ini pun bikin gw enggan membalik halaman berikutnya dan berlama-lama melototin gambarnya. Berhubung gw suka menggambar juga, ada beberapa gambar yang gw jiplak pake kertas karbon saking sukanya sama gambar itu. Tapi karena bikin kotor dan jelek, jadi gw tiruin tanpa kertas karbon. Dari sinilah gw belajar menggambar orang dan memperhatikan detil gambar. Salah satu yang bikin ilustrasi buku-buku ini bagus, selain warnanya yang cerah, garis pinggir gambarnya berwarna putih bukan hitam seperti kebanyakan gambar atau ilustrasi buku cerita lainnya.

Categories: Books

Miss Jinjing #3: Pantang Mati Gaya (Amelia Masniari)

April 4, 2010 Leave a comment

Pantang Mati Gaya adalah seri Miss Jinjing kedua yang gw baca, setelah yang pertama. Gw beli buku ini karena titipan kakak gw. Pantang Mati Gaya bercerita seputar belanja, detil fashion items, tips berpakaian, dan kehidupan Miss Jinjing setelah namanya meroket, teman-teman Miss Jinjing, dan bahkan cara bermain saham dalam rangka menambah penghasilan supaya ga mati gaya dalam bergaya. Catet… Beberapa tidak ada hubungan dengan seputar belanja atau mati gaya. Isinya cukup menambah pengetahuan tentang dunia belanja dan fashion terutama tentang barang-barang super mahal. Salah satu yang gw kaget adalah memesan tas Birkin Hermes nunggunya harus 5 tahun? SINTING!

Bab-bab kesukaan gw adalah Selera Fashion Orang Indonesia, 100 Ways To Be Smart and Stylish Ala Miss Jinjing, Wajib Punya, dan 20 Indonesia Fashion Products You Have To Love. Dalam bab Selera Fashion Orang Indonesia, dipaparkan bahwa orang Indonesia seleranya tidak ditentukan oleh tren yang dibuat para perancang dunia. Meski fashion menjadi bahasan dominan dalam majalah tapi hanya segelintir yang mengikutinya. Bisa jadi yang sedang tren di belahan dunia Barat, belum tentu tren di sini. Orang Indonesia tidak disetir apa yang sedang tren di London, Paris, dan Milan. Bab 100 Ways To Be Smart and Stylish Ala Miss Jinjing dan Wajib Punya memberikan tips-tips yang sangat berguna seputar baju, sepatu, tas, dan aksesori. Sedangkan 20 Indonesia Fashion Products You Have To Love, Miss Jinjing mendaftar para perancang Indonesia dan produk-produk unggulannya.

Gw cukup kagum dengan Amelia Masniari yang bisa menuangkan pengalamannya menjadi buku berseri. Sukses Miss Jinjing terletak pada tema, belanja dan fashion, yang menjadi tema favorit setiap perempuan. Dikemas dalam bahasa sehari-hari yang ringan yang sayangnya, saking ringannya malah terkesan asal. Menurut gw, meski menggunakan bahas yang ringan, tapi bukan berarti tanda baca dan tata bahasanya ga diperhatikan. Ada juga kata-kata berbahasa Inggris yang sebenarnya bisa diterjemahkan, tapi tidak diterjemahkan sehingga terbaca aneh. Salah tik terdapat di beberapa bab buku. Salah satu salah yang membuat gw ketawa adalah Titi DJ jadi, maap, Titit DJ. Ya ampun. Tampaknya editor buku ini bekerja kurang maksimal 😀 .

Categories: Books