Archive

Archive for September, 2011

Pabrikasi Maaf

September 4, 2011 Leave a comment

Kartun Mice di Kompas hari ini tentang bermaaf-maafan saat Lebaran. Pada salah satu kotak cerita, Mice bingung menerima SMS berisi untaian puisi ucapan selamat Idul Fitri dari orang yang baru sekali ditemuinya. Mice membatin, ‘1 SMS buat ratusan orang… Baru ketemu sekali doang, salahnya apa ya??? Hmmm kayanya nggak perlu dibales deh’.

Saya pun spontan tertawa membacanya karena mengalami kejadian yang sama. Sejak merasakan betapa mengganggunya beberapa broadcast message (BM) BBM (Blackberry Messenger) yang sangat tidak penting, saya jadi mengurungkan niat untuk mengirim pesan massal itu kepada beberapa teman muslim di daftar kontak BBM. Memang sih BM yang satu ini adalah ucapan Selamat Idul Fitri, salah satu sikap perayaan, bukan pesan omong kosong atau lelucon norak yang kerap saya terima. Kurang afdol berhari raya tanpa mengucapkan ‘Selamat Hari Raya Idul Fitri. Maafkan Lahir dan Batin’. Untuk lebih berkesan, dua kalimat inti itu biasanya ditambahkan puisi dan diseling beberapa patah kalimat berbahasa Arab, yang saya yakim banyak orang yang mengirim tidak tahu artinya.

Contoh:

Taqobalallaahu Minna Wa Minkum Taqobal Yaa Kariim.. 

Andai tangan tidak sempat berjabat..,maka dengan penuh kerendahan hati ijinkan kami skeluarga mengucapkan:

“Selamat Hari Raya Idul Fitri

1 Syawal 1432 H”

Minal Aidin Wal Faizin

Mohon Maaf Lahir & BathinSemoga kita semua menjadi insan yang fitri kembali dan selalu dalam limpahan ridho dan rahmat Allah SWT.

Ucapan ini cukup di-copas atau forward ke belasan, puluhan, bahkan ratusan penerima, teman, keluarga, rekan kerja, atau siapapun yang ada di daftar kontak akun kita, dengan sekali kirim hanya dalam hitungan menit.

Praktis dan massal.

Tidak salah tapi saya merasa kurang nyaman. Teknologi seringkali menghasilkan sesuatu yang praktis, instan, mudah, dan massal tapi tidak personalized dan kurang menyentuh. Kerepotan-kerepotan yang bernilai sentimental seperti memilih kartu, menulis dengan tangan kalimat-kalimat tambahan, dan memilih menuliskan alamat si penerima adalah hal-hal yang tidak penting bagi kita sebagai orang-orang yang terbiasa praktis dan instan.

Lompatan teknologi komunikasi bagai lari cepat yang harus disusul semua orang. Masih teringat waktu sekolah dan kuliah pergi ke toko buku untuk beli kartu lebaran. Bisa berjam-jam memilih kartu Lebaran karena saya memilih kartu berdasarkan keakraban dan sifat teman dan saudara. Misal si A yang ceria, saya pilihkan kartu yang banyak warna, atau si B yang kocak, saya pilihkan kartu dengan kalimat yang lucu dan konyol. Bahkan kalau lagi rajin, saya bikin sendiri.

Kartu tercetak mulai tergeser ketika saya punya e-mail saat kuliah tingkat akhir. E-card menjadi pilihan meski kadang gagal terkirim karena koneksi internet terputus atau error saat dibuka, gambarnya tidak terlihat. E-card dengan cepat tergeser dengan SMS yang lebih mudah cara pengirimannya meski tidak ada gambar dan warna-warni menarik. Cukup menunggu satu orang pertama mengirim atau memilih kalimat yang paling bagus, lalu forward ke beberapa orang. Ketika BB jadi HP sejuta umat, pulsa jadi lebih hemat dengan mengirimkan ucapan melalui BBM. Tidak hanya kata-kata dengan variasi abjad dan emoticons, pesan suara (voice message) bisa jadi pilihan jika ingin berbeda dari yang lain.

Praktis dan massal.

Bagi saya, sesuatu yang bersifat praktis dan instan lama-lama sama membosankan seperti halnya rutinitas. Lima puluh ucapan dalam lima menit. Selesai. Lalu?

Dimanakah kesenangan dan kegairahan memilih, menghias, dan membuat kartu Lebaran? Dimanakah kepuasan ketika selesai menulis ungkapan pribadi pada sahabat dan kerabat? Kenangan dan hubungan kita dengan masing-masing orang adalah unik, tidak pernah sama satu sama lain. Saya mengingat si A sebagai teman sekolah yang sudah lama tidak bertemu, maka saya tambahkan di kartu itu ‘Apa kabarnya, kapan main ke sini?’ Atau tulisan saya pada si B yang teman kuliah, ‘Nanti kalo masuk kuliah, bawa kastangel sisa Lebaran’. Hal-hal personal yang unik inilah membuat penerima kartu merasa istimewa karena tidak sekedar menerima ucapan Selamat Idul Fitri, tapi juga diingat dan akrab.

Kenangan lain yang mengesankan adalah kartu Lebaran buatan papa. Proses kreatifnya adalah menempelkan foto keluarga dan ucapan Selamat Idul Fitri dari rugos yang hurufnya digosok satu per satu, kemudian diperbanyak. Hahay jadi kangen penggosok rugos yang bentuknya mirip pulpen, punya dua sisi merah dan hitam. Sisi satu lebih lancip untuk huruf kecil, sisi satu lagi lebih tumpul untuk huruf besar dan tebal. Merugos, Rugos ini sebenarnya merk, harus telaten dan perlahan supaya hurufnya tidak rusak atau putus. Rasanya puas ketika selesai kalimat Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H. Maafkan Lahir dan Batin, hurufnya utuh dan rapi. Pernah merasa puas setelah mencipta atau mengerjakan suatu yang bagus dan berlama-lama memandangnya? Itulah rasa senang dan puas yang sama.

Itu dulu, sebelum ‘revolusi handphone’.

Mungkin saya termasuk orang yang repot, sentimentil, kuno dan mungkin juga gaptek. Saya merasa hal-hal yang massal dan  instan menghilangkan nilai pribadi. Seperti barang pabrikan yang tidak lagi terasa istimewa, mengutamakan fungsi semata. Untuk momen istimewa seperti Idul Fitri, ‘barang mewah buatan tangan’ lebih berkesan daripada ‘barang pabrikan’. Untaian kalimat pernyataan maaf dibuat dan disebarluaskan secara massal tanpa diedit atau diberi sentuhan pribadi untuk si penerima. Pabrikasi maaf.

Saya akan membalas pesan pribadi yang biasanya diawali dengan nama panggilan, dan melewatkan pesan instan yang pabrikan hasil copas dan forward. Bukannya tidak menghargai si pengirim, tapi membaca puluhan pesan yang sama terasa buang waktu, toh yang mengirim tak sampai satu menit mencentang nama penerima apalagi kalau sudah ada grup akan lebih cepat lagi.

Meski demikian, terimakasih untuk semua yang sempat mengucapkan Selamat Idul Fitri di semua media, baik yang mengetik, mencentang, maupun forward dan copas. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Advertisements
Categories: Random