Archive

Archive for August, 2011

Madre (Dee)

August 7, 2011 Leave a comment

Madre adalah kumpulan cerpen dan puisi karya Dee atau Dewi Lestari. Melalui ketigabelas karyanya yang dihimpun dari tahun 2006-2011, Dee membagi ide dan pemikirannya melalui rangkaian kata yang cerdas, lugas, dan indah. Terakhir saya baca Perahu Kertas. Sebagai pembanding, Madre lebih berat dari Perahu Kertas yang sangat ringan. Dalam Madre, ada cerpen dan banyak puisi yang saya tidak paham dan perlu lebih dari sekali membacanya untuk mengerti.

Madre, Rimba Amniotik, 33, dan Menunggu Layang-layang adalah kesukaan saya. Madre adalah cerpen pertama yang dijadikan judul antologi ini. Ceritanya unik, yaitu tentang biang roti bernama Madre yang ‘hidup’ dan mengubah hidup pemuda bernama Tansen. Madre membuat Tansen menemukan ‘rumah’nya di toko roti lawas yang bangkrut bernama Tan de Bekker dengan bantuan pak Hadi serta persahabatan istimewa dengan Mei. Alur sebenarnya mudah ditebak, tapi tetap saja saya bertanya-tanya apakah Dee akan menjadikan kisah ini tidak biasa mengingat Dee adalah penulis yang tidak biasa juga. Tapi ternyata akhir Madre sesuai rumus, dan fiksi ini menjadi lebih manis.

Tebakan yang sama juga pada cerpen Menanti Layang-layang. Adalah dua sahabat karib lawan jenis bernama Che/Christian dan Starla. Bertahunan Che, seorang arsitek yang manut pada rutinitas dan penyendiri ini, menjadi tempat curhat tentang pacar-pacar Starla. Che marah ketika Rako, sahabatnya, menjadi korban Starla dan memprotes perilaku Starla yang berganti-ganti pacar. Ohya sebagai pengkontras, Starla adalah desainer interior yang terbuka dan tidak bisa hidup tanpa pasangan. Konflik Che dan Starla berujung pada perasaan yang mereka simpan satu sama lain.

Kisah Che dan Starla sangat mirip dan dekat dengan diri saya sendiri. Saya mirip dengan Che yang setia pada rutinitas, merekayasa mood dalam lagu-lagu di iPod, bisa bertahan dalam kesendirian, dan takut jatuh cinta.  Sedangkan Starla adalah kebalikan dari Che, yang mirip dengan beberapa teman saya. Starla spontan, harus selalu punya pasangan, dan selalu butuh keramain meski di keramaian itu sebenarnya sendiri dan kesepian. Intinya, Che dan Starla sama-sama kesepian tapi memilih cara yang berbeda untuk mengatasinya. Maka ketika cinta tergali antara keduanya, saya yang penggemar cerita cinta opposites attract, tersenyum puas dengan akhir Menanti Layang-layang.

Rimba Amniotik, yang lebih mirip esai, adalah percakapan batin antara calon ibu dan bayi yang dikandungnya. Yaitu Dee dan anaknya Atisha. Pemujaan sang ibu terhadap bayi di rahimnya dengan menyebutnya sebagai sahabat yang berjodoh dengannya. Rimba Amniotik, buat saya, membuktikan keaslian ide dan kedalaman berpikir Dee sangat mengesankan. Ide percakapan batin antara ibu dan bayi adalah orisnil, kuat, dan menyentuh. Tulisan ini membuktikan bahwa menulis dari hati berdasarkan perasaan cinta yang dalam akan membuahkan karya terbaik.

33, nampaknya serupa dengan Rimba Amniotik, adalah hadiah Dee untuk salah satu anggota keluarganya yang saya duga adalah suaminya. 33 memaparkan sisi magis angka kembar ini dan kaitannya dengan umur si penerima puisi hadiah ini yang berusia 33 tahun, 33 hari. Sama dengan cerpen Menunggu Layang-layang, puisi 33 terasa akrab dengan saya karena kesamaan kami memberi hadiah pada seseorang berupa puisi.

Itulah empat karya dalam Madre yang paling menggugah saya. Selebihnya, terutama puisi agak sulit dicerna karena menyimpan banyak makna tersembunyi. Saya mencoba memahami cerpen Guruji dan Have You Ever tapi masih gagal. Sedangkan Semangkok Acar Untuk Cinta dan Tuhan terasa sangat filosofis, sedikit saya bisa memahami. Tapi kegagalan ini justru membuat saya semakin tertantang untuk mamahami hubungan mengupas bawang dan pertanyaan tentang arti Tuhan dan cinta atau cerita unik lain dalam Guruji.

Categories: Books

Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2

August 7, 2011 Leave a comment

Sutradara: David Yates

Pemain: Daniel Radcliffe, Emma Watson, Rupert Grint

Tuntas sudah perjalanan 10 tahun kisah Harry Potter di layar lebar. Film pamungkas ini adalah lanjutan perburuan horcrux trio Harry, Hermione, dan Ron untuk melemahkan Voldemort hingga tidak punya ‘penyangga’ untuk hidup abadi dan mudah untuk dibunuh. Trio¬†Harry, Hermione, dan Ron membobol Gringotts untuk mengambil piala Helga Hupplepuff yang merupakan salah satu horcrux. Berhasil kabur dengan melepas naga penjaga, trio ini menuju Hogwarts untuk membinasakan horcrux berikutnya: diadem Rowena Ravenclaw. Kembalinya trio ini menyulut pemberontakan di Hogwarts yang kelam sejak di bawah kepemimpinan Snape. Perang pun dimulai. Orde Phoenix, guru-guru Hogwarts, dan para penyihir pro Harry melawan mati-matian serangan pasukan Voldemort yang terdiri dari pelahap maut, manusia serigala, dan troll.

Harry menemukan fakta mengejutkan tentang horcrux, dirinya, Dumbledore, dan Snape. Bahwa Harry adalah accidental horcrux yang tercipta ketika Voldemort berusaha membunuhnya. Dumbledore mengetahuinya, maka ia membuat skenario agar Harry merelakan diri untuk mati karena dia adalah sama seperti horcrux yang lain yang harus musnah. Pandangan Harry tentang Snape pun berbalik ketika tahu tentang masa lalu guru yang paling dibencinya itu. Bahwa Snape sangat mencintai Lily, ibu Harry, berulangkali melindungi Harry secara diam-diam, dan menempatkan dirinya dalam bahaya sebagai mata-mata Voldemort untuk Dumbledore.

Beruntunglah penonton yang ‘fasih’ dan hafal jalan cerita seri Harry Potter dan sudah membaca bukunya. Jadi menonton film HPDP 2 ini hanya sebagai pengulangan penceritaan. Sedangkan buat yang setengah hafal atau sama sekali tidak tahu jalan cerita seri Potter dipastikan bakal agak bingung dan hanya menikmati visual efeknya saja.

Memang antara buku dan film tidak akan pernah sama karena format media yang berbeda. Sebagai seri pamungkas, HPDP 2 terasa kelam, menggetarkan, dan mengharukan. Musik dan efek visual nampaknya faktor utama menghidupkan suasana kelam Hogwarts saat pertempuran, sebagai klimaksnya. Selain itu akting aktor senior Alan Rickman sebagai Severus Snape yang bagus. Harry Potter pun bertransformasi dari film fantasi anak-anak menjadi film fantasi action untuk remaja dan dewasa.

Selamat tinggal Harry, Hermione, dan Ron. “It all ends” well. EPIC.

Categories: Movies