Archive

Archive for April, 2011

Gnomeo and Juliet

April 24, 2011 2 comments

Sutradara: Kelly Asbury

Pengisi suara: James McAvoy, Emily Blunt, Maggie Smith

Seperti yang dibilang si kurcaci pada pembukaan film ini, bahwa kisah cinta Romeo dan Juliet telah banyak diadaptasi. Kali ini dalam bentuk animasi, kisah cinta terkenal karya Shakepeare ini mengambil bentuk patung kurcaci penghuni kebun atau gnome. Maka jadilah Gnomeo and Juliet.

Perawan tua Ms. Montague dan bujang lapuk Mr. Capulet adalah tetangga di Jalan Verona yang masing-masing memiliki kebun indah yang dihiasi gnome. Mengikuti permusuhan ‘majikan’ mereka, para gnome dan patung taman lainnya juga bermusuhan. Para gnome bertopi merah, milik Mr. Capulet, dipimpin oleh Lord Redbrick memiliki seorang putri bernama Juliet (Blunt). Sedangkan para gnome bertopi biru milik Ms. Montague dipimpin oleh Lady Bluebury (Smith) memiliki seorang putra bernama Gnomeo (McAvoy).

Perseteruan mereka meruncing ketika Gnomeo menyerang sumur milik Tybalt setelah dicurangi dalam adu balap mesin pemotong rumput. Berhasil kabur dari sergapan Tybalt, Gnomeo berjumpa dengan Juliet yang sedang berusaha mengambil bunga anggrek. Mereka pun jatuh cinta dan tidak peduli ketika mengetahui identitas masing-masing. Keadaan makin gawat ketika Gnomeo tanpa sengaja menghancurkan Tybalt, Gnomeo tertabrak truk, dan para gnome topi biru menuntut balas dengan melepas mesin pemotong rumput maut, Terrafirminator. Berhasilkah Gnomeo dan Juliet berakhir bahagia? Tidak mengikuti kata si patung Shakespeare, sang penulis cerita asli, yang bilang ‘I told you so!’ ketika Gnomeo menerima kabar buruk bahwa Juliet dilem ayahnya?

Adaptasi cerita cinta yang sangat terkenal ini segar dan lucu, cocok untuk anak-anak dan semua umur. Unik karena mengambil sosok yang tidak biasa, yaitu kurcaci kebun, bukan manusia. Tokoh-tokoh kocak seperti si kodok Nanette atau Featherstone, si flamingo plastik menyegarkan film animasi ini. Atau iklan Terrafirminator yang ‘seram’ tapi sangat lucu. Gnomeo and Juliet, di satu sisi, menjadi parodi dari cerita aslinya dan beberapa hal dalam kehidupan nyata. Durasinya yang singkat, hanya 84 menit, menyelamatkan film ini dari kebosanan jika ceritanya diulur. Terutama untuk penonton anak-anak yang cepat bosan.

Advertisements
Categories: Movies

Libri di Luca (Mikkel Birkegaard)

April 3, 2011 Leave a comment

Buku yang selalu identik dengan pengarang seolah mengesampingkan peran pembaca. Mikkel Birkegaard menggali peran penting pembaca buku dan Libri di Luca, atau yang mempunyai judul lain The Library of Shadows ini. Bahwa sebuah buku menjadi ‘hidup’ karena penafsiran dan fantasi pembacanya.

Bersetting di Kopenhagen, Denmark, Libri di Luca dibuka dengan kematian Luca Campelli yang misterius. Luca seolah dikendalikan kekuatan tak terlihat yang terus memaksanya membaca buku hingga tewas. Toko buku Libri di Luca pun diwariskan pada putra Luca, Jon yang seorang pengacara dan memiliki hubungan tidak harmonis dengan sang ayah sejak kematian ibunya.

Jon terpaksa terlibat jauh ketika Libri di Luca diserang orang tak dikenal. Dibantu Iversen, asisten Luca, dan Katherina, Jon memasuki dunia para pecinta buku yang terdiri dari sekelompok orang berbakat yang disebut pemancar dan penerima. Di tangan mereka, buku menjadi alat mematikan untuk mempengaruhi dan membunuh orang. Jon pun semakin tertarik, terlebih setelah dipecat karena ulah Remer, klien kantor yang mengincar toko buku ayahnya dan dirinya. Bersama Katherina dan Muhammad, temannya yang jago komputer, Jon bertualang hingga ke Alexandria untuk menghentikan ambisi jahat Remer.

Ide cerita sangat bagus. Mikkel Birkegaard menyuguhkan sudut pandang yang jarang: para pecinta buku. Bahwa mereka lebih dari sekedar kutu buku yang culun, para pemancar dan penerima ini memiliki bakat dan kekuatan dahsyat. Berkat buku ini juga saya jadi menyadari pentingnya hal ini: sebuah tulisan akan ‘hidup’, menangis, tertawa, dan berteriak jika ada yang membacanya. Tak peduli sehebat apapun pendapat si penulis, jika tulisannya tidak ada yang membaca, maka tulisan itu akan mati dan tidak ada gunanya.

Karakterisasi juga lumayan. Katherina, misalnya, menjadi karakter yang unik karena dyslexia. Bayangkan seorang pecinta buku adalah pengidap dyslexia, penyakit yang memiliki kesulitan untuk membaca. Katherina menikmati buku dengan mendengarkan pikiran seseorang.

Ide dan penokohan bagus, tapi intriknya kurang. Sejak awal saya bisa dengan mudah menebak bahwa Remer adalah tokoh antagonisnya. Remer adalah dalang dari pemecatan Jon dan pembunuhan Luca. Menurut saya akan lebih menarik kalau ‘dipelintir’ dengan mengalihkan dalang sebenarnya adalah Iversen. Pelintiran hanya kepada Pau yang menjadi pengkhianat di kelompok mereka.

Buat pecinta buku dan novel thriller, Libri di Luca adalah paduan pas untuk dinikmati. Tidak banyak novel tentang pecinta buku dan perpustakaan. Mudah-mudahan diadaptasi menjadi film.

Categories: Books