Archive

Archive for March, 2011

London Boulevard

March 12, 2011 Leave a comment

Sutradara: William Monahan

Pemain: Colin Farrell, Keira Knightley, Ray Winstone

Mitchell (Farrell), seorang anggota gangster, baru bebas dari penjara dan tidak punya pekerjaan. Perjumpaannya dengan Penny (Ophelia Lovibond) membawanya pada selebriti bermasalah, Charlotte (Knightley) yang butuh pengawal untuk melindunginya dari papparazi. Sementara Mitchell “hanya” bekerja sebagai pengawal Charlotte, bos Mitchell bernama Gant (Ray Winstone) mencoba merekrutnya kembali untuk pekerjaan kriminal. Mitchell terang-terangan menolak dan membuat Gant murka. Siapapun yang berhubungan dengan Mitchell pun dibunuh, termasuk adiknya, Briony (Anna Friel) yang orientasi hidupnya hanya uang dan alkohol. Mitchell marah dan balas dendam membunuh Gant. Sayangnya, ketika pekerjaannya selesai dan dalam perjalanan menyusul Charlotte ke AS, Mitchell malah terbunuh oleh pemuda tanggung yang semula justru hendak dihabisinya atas balas dendam terhadap sahabatnya.

Menampilkan usaha Mitchell yang mencoba hidup lurus dengan tidak kembali ke pekerjaan lamanya sebagai anggota gangster, adalah ide film ini yang didukung dengan karakter-karakter bermasalah namun menarik. Charlotte adalah aktris yang pernikahannya bermasalah, dituduh berzina, dan pernah diperkosa. Briony yang bisa disebut sebagai orang yang tidak berguna karena kecanduan alkohol dan mata duitan. Billy (Ben Chaplin), antek Gant, teman Mitchell yang menusuk dari belakang. Ada juga Jordan (David Thewlis) yang  kelihatan seperti aktor frustrasi yang tidak punya masa depan ketika ia mengabdikan diri sebagai manajer, pengurus rumah tangga, dan mungkin kekasih kadang-kadang Charlotte.

Dikelilingi orang-orang bermasalah dan menjalani hidup keras bertahun-tahun nampaknya membuat Mitchell sulit untuk menjadi orang baik dan lurus namun berhasil menolak pekerjaan kriminal Gant. Hatinya bahkan cair dengan kehadiran Charlotte. Ironisnya, usaha Mitchell untuk menjadi orang baik justru yang membuatnya terbunuh. Karakter abu-abu para tokoh dan aksi kekerasan masih menjadi inti dari London Boulevard, seperti film gangster yang lain. Bumbu lain yang terasa menyengat adalah musiknya yang mencuatkan kesan retro film Inggris ini. Sergio Pizzorno yang membuat scoring film ini memasukkan The Yardbirds, Bob Dylan, dan The Rolling Stones sebagai soundtrack film ini.

Categories: Movies

Coolest Gank

March 12, 2011 Leave a comment

Selama ini, saya tidak pernah menginginkan suatu episode atau periode dalam hidup saya untuk diulang. Tapi ketika saya menemukan foto-foto lama, saya menginginkan masa itu kembali. Meski pendek tapi inilah gank terkeren yang saya pernah punya.  I really miss the good old days with Lydia, Daya, Lucky, and Ina at 2008. Before we had problems and everything’s alright.

We are cool because we’re good looking and working in a prestigious lawfirm. Setiap kumpul sama mereka selalu lupa waktu dan sangat nyaman. Bisa ngomong dan bercanda apapun. Saya bisa jadi diri sendiri dan gila-gilaan tanpa canggung atau salah ngomong. And the most important is we can having fun without alcohol, weeds, and even smoking – karena cuma satu atau dua orang yang merokok. Bahkan segelas teh manis yang disedot rame-rame di Emax pun cukup untuk bikin seru karena intinya adalah chemistry kita. Segitu kuatnya chemistry kami, jadi gak perlu “bumbu tambahan” karena semuanya terasa pas.

Categories: Random

Silent Birthday

March 10, 2011 Leave a comment

Tujuh Maret, setahun yang lalu, saya sudah berpikir tentang penuaan secara fisik. Bahkan tanpa sadar membayangkan diri saya sebagai sosok perempuan tua yang anggun dengan rambut dicepol model French twist, kerutan di wajah, dan berbadan ramping. Menua dengan anggun, itulah kalimat yang terlintas di pikiran saya. Padahal, itu ulangtahun saya yang keduapuluh sembilan. Berumur 29 terasa seperti jam pasir yang pasirnya hampir habis di satu sisi. Atau terasa seperti billboard neon berwarna pink terang dengan huruf-huruf berukuran besar berkelap-kelip bertulisan TIME IS RUNNING OUT! HURRY UP!. Kepanikan yang datang dengan sendirinya tanpa bisa dicegah karena memang alaminya seperti itu karena perempuan lebih sensitif terhadap umur.

Ulang tahun, tahun baru, dan Idul Fitri adalah saat evaluasi buat gue. Melihat ke belakang apa yang telah terjadi, perubahan, dan langkah kedepannya. Momen evaluasi itulah, saya memilih tema atau suatu hal yang digarisbawahi untuk menjadi perhatian. It’s fun to do it, mungkin karena saya suka berpikir dan menganalisis kali yah. Nah karena usia 30 adalah usia yang “istimewa” karena emosi campur-aduk yang unik itu, maka dari jauh hari saya menyiapkan tema. Jika umumnya orang menyiapkan tema pesta, maka saya menyiapkan tema renungan, tema visi. 

Rasa tidak nyaman dan kecemasan memasuki usia 30 ternyata sudah lewat justru ketika di hari saya genap 30 tahun. Usia 30 identik dengan ketuaan, bagi sebagian besar perempuan, karena menurunnya daya tarik fisik. Meski dari artikel yang saya baca, penuaan secara fisik dimulai dari umur 35. Jika secara fisik, usia 30 mengkhawatirkan, tapi tidak dengan kepribadian. Merasa makin matang setelah melalui banyak hal, angka 30 otomatis memberikan rasa percaya diri tentang kedewasaan, kematangan berpikir, dan menentukan tujuan hidup.

Kehebohan sejak setahun lalu, ternyata menguap ketika hari H-nya. Kebetulan tanggal 7 Maret jatuh pada hari Senin, dan saya nggak ambil cuti karena minggu sebelumnya udah cuti 3 hari untuk liburan keluarga. Jadilah Senin kemarin tidak ada kegiatan yang istimewa. Ucapan selamat hanya dari beberapa orang yang memang hafal tanggal ulang tahun saya. Selain karena saya juga sengaja matiin notifikasi di FB. Silent Birthday. Bahkan paginya, sambil bersiap berangkat kerja hanya sekilas-sekilas saja pikiran ‘wow I’m 30!’. Bahkan ada saat-saat meningatkan diri sendiri, ‘hey you are 30 now! Don’t you want to do something? Bungee jumping?!

Sampai kemarin, akhirnya saya menemukan tema untuk ulangtahun saya: comfort kills! Hidup saya, ya khususnya saya, terdiri dari beberapa siklus yang akan selalu mencapai pada suatu titik: mau ngapain lagi? Menurut sahabat saya, itu disebabkan karena tidak banyak hal yang saya lakukan, atau lebih tepatnya tidak banyak petualangan yang mampir dalam hidup saya. Saya terjebak dalam rutinitas sehari-hari. Rutinitas ini membentuk zona nyaman yang mudah membuat bosan, sehingga lama-lama membuat mampet. Saya baru sadar kalau saya nyaris tidak punya impian. Rencana ada, tapi impian tidak. Saya mengkhayal, bukan bermimpi. 

Hal yang saya  butuhkan saat ini adalah memperpanjang siklus untuk sampai pada titik mau ngapain lagi. Sehingga mengurangi rasa bosan karena menghadapi perubahan dan banyak hal yang bisa dilakukan. Bukan hanya rutinitas. 

Sahabat saya meraungkan sirine dalam diri saya yang berbunyi seperti ini: apakah kamu nggak mau jadi orang yang berbeda? Dimulai dari soal penampilan. Merawat diri, berpakaian rapi, dan berdandan adalah salah satu cara untuk menghargai diri sendiri. Kalau kita bisa menghargai diri sendiri dan merasa nyaman, otomatis aura positif akan keluar dari dalam diri kita. Old trick but always works. Atau, contoh lain, mencatat tugas-tugas kecil pekerjaan yang kebanyakan orang mengerjakan hal administratif berdasarkan ingatan karena malas membuat catatan. Hal-hal remeh ini berbanding lurus dengan comfort kills tadi. Kalau dikerjakan sedikit demi sedikit pasti akan lama-lama akan memberikan pengaruh besar.

Pemikiran ini juga yang membawa saya pada ide untuk tidak takut keluar dari zona nyaman saat ini. Sebelumnya, ada kekhawatiran jika saya akan melamar pekerjaan baru yaitu malas berada di jenjang level yang lebih tinggi, sebagai manajer atau supervisor karena jabatan itu hanya akan menggencet saya antara manajemen dan bawahan saya. Tapi sekarang saya tidak berpikiran begitu lagi. Bahkan saya mulai memberanikan diri untuk punya pikiran seperti ini: setiap merasa menemukan zona nyaman, berarti saatnya keluar mencari petualangan lain. Mewujudkan hal itu dengan satu syarat: tidak boleh gampang stress pada tekanan.

Intinya adalah mengalahkan rasa malas dan mengalahkan diri sendiri. sulit kan? Tapi bukan berarti tidak bisa. Semoga saja sejak saat ini saya tetap semangat mencatat tugas-tugas remeh di post-it atau mencuci muka di siang hari supaya muka tidak gampang kusam saat di kantor.

Kado ulang tahun saya yang ke-30 adalah seporsi chocolate melt Canteen dan ide tentang comfort kills yang keduanya didapat dari sahabat saya. Tidak ada perayaan hangar-bingar, sedikit ucapan selamat dari orang yang benar-benar tahu, dan ide yang meningkatkan semangat saya. Sederhana, hangat, dan bermakna.

Categories: Random