Archive

Archive for February, 2011

King’s Speech

February 20, 2011 Leave a comment

Sutradara: Tom Hooper

Pemain: Colin Firth, Helen Bonham Carter, Geoffrey Rush

Pangeran Albert (Firth), yang kemudian bertahta dengan gelar Raja George VI, menderita gagap sejak kecil karena beberapa trauma. Akibatnya, Bertie, panggilan akrabnya, selalu menemui kesulitan setiap berpidato dan membuatnya merasa dipermalukan. Atas inisiatif Elizabeth (Bonham Carter), istri Bertie, mereka pun menemui Lionel Logue (Rush) seorang terapis bicara. Melalui metodenya yang kontroversial dan keras, Bertie dan Lionel pun menjalin persahabatan sampai Bertie naik tahta menggantikan Edward (Pearce) yang menyerahkan tahtanya demi menikahi Wallis Simpson. Lionel pun mendorong Bertie untuk lebih berani dan mengantarkan pada momen terbaiknya; pidato perang Inggris melawan Jerman.

Menghadirkan cerita yang tidak biasa: raja yang gagap belajar pidato, King’s Speech dihadirkan melalui dialog-dialog cerdas sekaligus lucu di beberapa saat dan sekaligus menyentuh. Sesi-sesi latihan Bertie dan Lionel lah yang banyak mengekspos itu. Chemistry Colin Firth dan Geoffrey Rush sangat pas. Firth sebagai pangeran/raja yang sejatinya membutuhkan teman untuk mendukung dan memberinya keberanian menghadapi ketakutan-ketakutannya yang berakibat penyakit gagap. Sementara Elizabeth sebagai istri yang sangat mendukung suaminya dimainkan dengan baik oleh Helena Bonham Carter.

Sutradara Tom Hooper dan penulis naskah David Seidler berhasil membuat kisah raja gagap ini dengan indah, menyentuh sekaligus lucu. Nggak heran kalau film ini jadi jawara Oscar dan menuai pujian banyak orang. Setelah hiburan ringan No Strings Attached dan Green Hornet, saatnya mengisi lagi dengan sesuatu yang berkualitas, tontonlah King’s Speech sebelum film ini ditarik dari peredaran karena masalah pajak.

Advertisements
Categories: Movies

Pada Suatu Masa Ketika Bioskop Indonesia Diisi Pocong Ngesot Cs.

February 20, 2011 1 comment

Kabar mengejutkan datang Jumat, 19 Februari kemarin, bahwa MPA (Motion Pictures Association) menarik peredaran film Hollywood di Indonesia karena menolak peraturan Ditjen Bea dan Cukai tentang bea masuk hak edar distribusi. Karena berita ini, gue pun langsung buru-buru ke bioskop nonton King’s Speech sebelum film ini ditarik dari peredaran.

Kata seorang tokoh masyarakat, kejadian ini bisa jadi peluang dan tantangan bagi perfilman Indonesia. Tapi menurut gue film Indonesia belum siap menggantikan kekosongan besar yang ditinggalkan film Hollywood, bisa jadi menyusul film Eropa, Mandarin dan India. Mungkin beberapa (puluh) tahun ke depan bioskop Indonesia bisa hidup tanpa film Hollywood, tapi sekarang? Hmmm kayaknya nggak deh. Seperti yang kita tahu, film Indonesia saat ini didominasi horor-seks, komedi-seks, drama-seks, dan percintaan ABG. Ada sih satu-dua yang bagus dan mendingan tapi apa itu muncul setiap minggu atau setiap bulan? Akankah film-film sekelas Laskar Pelangi, Sang Pemimpi atau Sang Pencerah muncul setiap minggu? Itu soal kualitas, kuantitas juga belum terpenuhi. Kalau memang itu tujuan dari menaikkan pajak impor film, maka sangat maksa jadinya.

Nonton film bukan cuma hiburan tapi juga bisa jadi pengetahuan dan menstimulus ide dan kreativitas. Menonton film sama asyiknya dengan membaca buku dan merupakan alternatif hiburan yang cukup murah meriah. “Sayang”nya, dan harus menerima kenyataan saat ini juga, yang bisa memenuhi kepuasan penonton adalah sebagian besar film buatan Hollywood karena cerita menarik dan akting dan efek yang bagus. Bukannya gua nggak nasionalis tapi kenyataannya memang begitu. Kenapa orang protes adalah karena lihat aja film-film Indonesia yang tayang sekarang nggak jauh-jauh dari pamer dada, paha, dan mengumbar adegan seks murahan. Sekali lagi, akan ada saatnya film Indonesia merajai bioskop tapi tidak bisa dipaksakan sekarang.

Semoga ini hanya sementara, dan secepatnya gue bisa nonton Black Swan, 127 Hours, dan Harry Potter!

Categories: Movies

No Strings Attached

February 15, 2011 Leave a comment

Sutradara: Ivan Reitman.

Pemain: Ashton Kutcher, Natalie Portman.

Pertama-tama, ini adalah komedi dewasa. Jadi kurang tepat untuk ABG atau di bawah umur 25 karena butuh pengertian lebih tentang seks dan komitmen, selain tidak sesuai dengan kultur masyarakat Indonesia secara umum tentang seks bebas. Menurut gue No Strings Attached cocok untuk penonton dewasa yang berumur di atas 25 dan tinggal di kota besar karena tidak asing dengan seks bebas, commitment phobia, dan complicated relationship jadi sudah bisa menyaring film ini. Duh pergaulan anak jaman sekarang yah hehehehe.

Adam (Kutcher) dan Emma (Portman) sudah kenal sejak usia 14 tahun ketika ikut kemping bareng, dan tadinya hanya sekedar kenal sampai Adam kesal bahwa mantan pacarnya dipacari ayahnya (Kevin Kline). Adam yang mabuk pun terbangun di apartemen Emma dan berhubungan seks dengan Emma. Dari situlah mereka membuat kesepakatan (bukan komitmen?) untuk jadi teman bercinta yang murni seks, tanpa cinta. Tapi, Adam yang suka beneran pun berusaha menjadikan hubungan mereka lebih dengan mengajak Emma berkencan. Emma yang benci komitmen pun marah, mereka putus komunikasi, tapi kemudian Emma sadar bahwa dia juga suka, daaaaaaaan akhirnya jadian juga.

Trauma sama Valentine’s Days setahun lalu, dimana Ashton Kutcher berbaju pink dan bawa-bawa bunga mawar selama dua jam yang bikin eneg dan di film terakhirnya dia jadi pembunuh profesional yang terlalu manis di Killers bikin gue males untuk nonton ini. Tapi kangen juga nonton rom-com dan ada Natalie Portman, maka jadi juga meluncur ke bioskop.

No Strings Attached menampilkan realita percintaan anak muda sekarang: complicated feeling akibat takut berkomitmen. Bedanya, jika selama ini kebanyakan laki-laki sebagai tokoh yang takut komitmen maka di sini justru si perempuannya; Emma. Emma digambarkan sebagai alpha-female yang cerdas, kuat, dan ogah berada dalam hubungan yang serius.  Plot cerita yang unik, naskah yang bagus, dan akting Natalie Portman yang tidak mengecewakan kelebihan film ini. Salah satu ide yang gue suka adalah waktu Adam bikinin CD kompilasi lagu tentang menstruasi. Hahahaha, period mix songs. Mungkin karena gue bukan penggemar Ashton Kutcher, jadi nggak merasa ada chemistry dia sama Natalie Portman yah.

Kekurangan film ini, terlalu sexist melalui adegan-adegan seks karena memang menyesuaikan sama temanya. Kembali pada peringatan awal tadi, pada beberapa bagian, gue merasa film ini turut mempromosikan seks bebas. Kalau ditonton sama anak-anak muda yang belum dewasa dan menganggap seks bebas adalah hal biasa dan komitmen itu complicated, maka bisa menjadi petunjuk yang salah. Sedangkan untuk yang sudah bisa menyaring pesan film ini, hal-hal itu nggak akan berpengaruh.

Categories: Movies

Mentok yang Menyenangkan

February 14, 2011 Leave a comment

Jumat sore kemarin, 11 Januari 2011, saya berkesempatan hadir dalam acara kopi darat anggota milis Perpushukum-net di Dan Lev Library, Kuningan, Jakarta. Passionate meeting! Saya pun mendapat suntikan vitamin dalam dosis tinggi berdasarkan diskusi para anggota milis yang membahas ‘mau dibawa kemana hubungan kita’, yaitu ingin meningkatkan hubungan profesional dari sekedar berbagi informasi di milis menjadi suatu wadah bagi pustakawan hukum, dalam hal ini pustakawan yang bekerja di lawfirm. Kedepannya, diharapkan bisa terbentuk suatu asoasiasi, perkumpulan, ikatan, atau apapun sebutannya sebagai organisasi yang menaungi para pustakawan ini. Dari situlah akan lahir standar, kompetensi, advokasi, dan kode etik yang akan berguna bagi pengembangan profesi kelak. Sehingga profesi ini dapat diperhitungkan dan menambah nilai para profesionalnya secara moril dan materil.

Saya memperhatikan bahwa profesi pustakawan cakupannya semakin spesifik dan mengerucut. Kekhususan inilah yang belum banyak tergarap, padahal potensinya sangat besar. Sumber daya berupa manusia (personil), pengetahuan, dan data yang sedemikian besar merupakan kekuatan tersendiri dalam bidang informasi hukum. Hukum, dalam pandangan saya, merupakan bidang jasa yang timeless. Segala aspek kehidupan selalu bersentuhan dengan hukum, begitu juga semua bidang jasa dan produksi. Selama peradaban manusia ada, selama itulah hukum berjalan. Perpustakaan sebagai institusi yang menyediakan informasi memegang peranan penting dalam meningkatkan kinerja dan kualitas para profesional bidang hukum. Pustakawan hukum sebagai pengelola merupakan

Mbak Cici, salah satu senior saya lah yang menguatkan tekad saya untuk terus mendalami profesi sebagai pustakawan hukum. Untuk menjadikan pekerjaan ini sebagai bagian dari hidup saya. Mbak Cici adalah pustakawan pada salah satu lawfirm di Jakarta. Pengalamannya 17 tahun sebagai pustakawan hukum, bercampur dengan titik jenuh, dan kementokan juga, mbak Cici justru tidak kendor kinerjanya dalam melayani lawyer. Pekerjaannya bisa dibilang setara lawyer dalam meriset peraturan. Salah satu kunci sukses mbak Cici adalah: mandiri dalam bekerja dan memiliki prinsip mem-back-up diri sendiri. Dalam bekerja dan beraktivitas yang berkaitan dengan pekerjaannya, mbak Cici tidak pernah mengatasnamakan institusi tempatnya bekerja, tapi diri sendiri. Dia tidak tergantung pada fasilitas kantor dan bekerja dengan laptopnya karena memiliki waktu yang fleksibel.

Saya sangat setuju dengan konsep mem-back-up diri ala mbak Cici. Bahwa kita harus bekerja untuk diri sendiri, jangan tergantung pada keadaan kantor, baik itu fasilitas atau orang-orangnya. Firma hukum sangat rentan perpecahan. Partner atau lawyer senior bisa kapan saja keluar dan mendirikan kantor yang baru. Intinya bekerja dengan tulus, dari hati, dan disertai gairah, maka ruang lingkup kerja tidak terbatas pada dinding kantor, jam kerja 8-5, atau seberapa canggih komputer yang disediakan kantor. Kita bekerja mandiri dank arena diri kita sendiri.

Ada suatu titik dalam masa kerja ketika seseorang akhirnya pasrah pada profesi yang dijalaninnya. Begitu juga dengan saya. Menjadi pustakawan adalah bukan cita-cita awal, tapi seiring waktu saya menikmati pekerjaan ini dan ingin mengembangkannya. Akhirnya saya sadari bahwa saya telah menginvestasikan uang dan waktu saya menjadi pustakawan hukum. Uang untuk sekolah meraih gelar sarjana dan waktu bertahun-tahun bekerja sebagai pustakawan hukum. Jadi, ya sudahlah. Mulai mentok. Tapi mentok yang menyenangkan dan sukarela mementokkan diri sebagai pustakawan hukum. Toh alih profesi juga tidak mungkin karena selain harus memulai investasi dari nol, saya juga harus bersaing dengan angkatan di bawah saya. Jadi buat apa alih profesi sementara yang ada belum tergali dan tergarap?!

Sekarang saya mantap menapaki karir sebagai pustakawan hukum. Satu hal yang utama akan ketertarikan saya menjadi pustakawan hukum adalah menyumbangkan ide, pikiran, dan pendapat untuk perkembangan dunia perpustakaan hukum. Bahwa sekarang teknologi perpustakaan berkembang pesat, jadi pekerjaan pustakawan hukum bukan lagi mengurus bahan pustaka secara old-fashioned tapi lebih kepada mendapatkan dan menyebarkan data dan informasi kepada lawyer. Sejauh mana informasi dan data tersebut akurat dan bisa dipercaya adalah menjadi salah satu tugas pustakawan hukum.

Banyak hal yang harus saya pelajari dan proses untuk menjadi ahli pun masih panjang. Tapi setidaknya saya mulai mastering something. Kalau cari kerja sudah tidak labil lagi. Idealis dan menyempit memang jadinya, tapi itu adalah konsekuensi dari keputusan saya untuk mastering something tadi.. Menurut saya, apapun pekerjaannya, pada suatu waktu memang harus fokus pada satu bidang karena tidak bisa selamanya loncat-loncat.

Ada satu hal yang terlupakan oleh saya: materi, gaji, bayaran, upah, atau uang yang didapat dari bekerja sebagai pustakawan hukum. Bukan hanya pustakawan hukum, pustakawan pada umumnya pun jarang bergaji besar. Kasarnya: jadi pustakawan gak bakal kaya. Belum image gak gaul, gak keren, atau cupu yang melekat rekat pada diri seorang pustakawan. Bersandar pada kenyataan itu, saya beruntung bekerja di suatu firma hukum besar berskala internasional dengan rate gaji yang lumayan. Bersandar pada kenyataan ini, carilah firm hukum atau kantor besar yang menawarkan rate gaji yang besar atau lumayan. Rate gaji ini setidaknya tidak akan menjadi beban jika kita tetap ingin idealis. Tapi bukan berarti ini syarat yang mutlak dan paling penting. Ada banyak cara untuk jatuh cinta dan tetap mencintai pekerjaan kita meski gaji tidak besar. Kembali lagi ke awal, ketulusan lah yang paling penting. Banyak contoh besar-kecilnya gaji menjamin seseorang akan kecintaan pada pekerjaannya. Ada yang bergaji besar dan berpangkat tapi kerjanya kendor tapi juga ada yang bergaji pas-pasan tapi mampu berdedikasi penuh.

Jadi mulailah bekerja untuk diri sendiri. Mem-backup diri sendiri. Seperti kata salah satu penulis favorit saya, ketulusan dan keikhlasan dalam bekerja dengan sendirinya akan mendatangkan uang.

Categories: Law firm library