Archive

Archive for January, 2011

Karena Dunia (Saya) Tidak Akan Sama Tanpamu

January 30, 2011 Leave a comment

Perbedaan tidak akan selalu mudah untuk diterima, terutama orang yang dekat dan akrab. Rasanya gatal selalu ingin menseragamkan pendapat dan pemikiran tanpa mengingat bahwa frame of reference tiap orang berbeda. Kekurangan dan kelebihan orang lain adalah penyeimbang kekurangan dan kelebihan kita sendiri. Bahkan ada sedikit celah untuk membuat kita bersyukur akan keadaan kita. Dunia selalu butuh kutub-kutub berlawanan untuk membuatnya lebih hidup, dinamis, beraneka sekaligus sebagai penyeimbang dan tantangan untuk menjadi sesuatu yang lebih baik. Tapi yang harus diingat adalah, meski menerima perbedaan tapi juga harus tetap menjadi diri-sendiri. Jangan ragu mempertahankan nilai dan prinsip yang kita anggap benar. Jangan mudah ikut arus di saat suara hati berkata tidak. Menghadapi perbedaan adalah asahan agar kita menjadi lebih berkilau bijaksana.

Categories: Random

The Way Back

January 30, 2011 Leave a comment

Sutradara: Peter Weir

Pemain: Jim Sturgess, Ed Harris, Colin Farrel

Dijebloskan ke kamp kerja paksa di Siberia tidak membuat Janusz (Jim Sturgess) putus asa menggapai kebebasan. Perkenalannya dengan Smith (Ed Harris), Tomas (Alexandru Potocean), Zoran (Dragos Bucur), Andrei (Dejan Angelov), dan si penjahat kelas teri Valka (Colin Farrel) membawanya pada perjalanan panjang untuk pulang ke Polandia. Di tengah perjalanan, mereka bertemu Irena (Saoirse Ronan), yang juga pelarian tawanan Rusia. Bersama berjalan kaki melintasi Rusia menuju perbatasan Mongolia. Cuaca ekstrim berupa badai salju yang membekukan sampai teriknya gurun yang mematikan mengeliminasi Tomas dan Irena. Janusz, Smith, Zoran, dan Andrei bertahan sampai Tibet. Smith tinggal di Tibet, tiga yang lain berjalan sampai India. Sampai beberapa tahun kemudian setelah komunis runtuh, Janusz berhasil pulang ke Polandia.

Untuk beberapa orang, mungkin film ini membosankan karena konflik dan dramanya kurang. Cobaan terbesar para pelarian ini adalah alam, cuaca, dan keterbatasan makanan sampai mereka harus makan daging mentah, sembarang binatang, atau apapun yang bisa mereka temukan. Bahkan pernah Valka memberi saran pada Janusz untuk memakan Zoran karena kekurangan makanan. Untungnya, kelima pelarian ini cukup solid. Tidak ada drama atau konflik tajam antar mereka. Bahkan Valka pun ternyata tidak segitu jahatnya dengan menunjukkan kesetiaan dengan membawa makanan dari petani. Irena, yang merupakan satu-satunya perempuan, juga aman karena tidak menjadi obyek seksual para lelaki. Bahkan Irena menjadi perekat mereka, dan menyentuh perasaan Smith yang semula sangat sinis.

Bisa jadi The Way Back berfokus pada cara bertahan kelima pelarian tersebut, dan tidak terjebak pada streotip cerita yang awalnya sempat gw tebak begini: Irena diperkosa dan salah satu jadi kanibal karena memakan temannya, minimal membunuh. Ternyata tidak. Musuh mereka benar-benar alam. Namun justru karena inilah, isu kemanusiaan mencuat di sini. Bagaimana mereka menjaga pikiran tetap waras di tengah keputusasaan dan sekarat. Selain itu gambar-gambar film ini disajikan indah dan nyata, membuat saya secara penuh merasakan dinginnya salju dan terik dan indahnya langit gurun pada malam hari. Atau ikut merasa lega ketika melihat Danau Balkan yang dicari Janusz selama berhari-hari. Jadi tidak heran kalau salah satu rumah produksinya adalah National Geographic Films. Agak membosankan tapi tidak rugi juga ditonton untuk merasakan dan sedikit belajar bertahan di alam bebas dengan minimnya logistik.

Categories: Movies

Vintage?

January 30, 2011 2 comments

Categories: Pet Society

Let Me In

January 26, 2011 2 comments

Sutradara: Matt Reeves

Pemain: Kodi Smit-McPhee, Chloe Moretz, Richard Jenkins

Twilight haters would said: this is the way of vampire romance story should made! Menyeramkan, mencekam, dan berdarah-darah adalah atmosfir yang membungkus cinta antara dua remaja Owen (Kodi Smit-McPhee) dan Abby (Chloe Moretz). Orangtua yang bercerai dan menjadi korban kekerasan teman sekolahnya membuat Owen terbuka menerima pertemanan Abby, tetangga barunya yang misterius. Meski akhirnya Owen tahu Abby adalah vampir, Owen tidak keberatan dan bahkan menggantikan posisi laki-laki tua (Richard Jenkins) yang sebelumnya menjadi ‘pelayan’ Abby.

Diadaptasi dari film Swedia berjudul Lat Den Ratte Komma In(Let the Right One In). Secara bersusahpayah menyingkirkan adegan-adegan menyeramkan, saya melihat film ini memadukan berbagai kategori dengan pas. Percintaan, masalah keluarga, horor, dan fantasi menyatu saling berhubungan dengan porsi pas. Chloe Moretz, yang sebelumnya sebagai jagoan di Kick-Ass, berhasil menampilkan kepolosan Abby sebagai gadis berumur 12 tahun yang membutuhkan teman, bukan vampir haus darah yang manipulatif dan kemungkinan berumur ratusan tahun.

Categories: Movies

Bright Star

January 20, 2011 2 comments

Sutradara: Jane Campion

Pemain: Abbie Cornish, Ben Wishaw, Paul Schneider.

Awalnya gw tertarik untuk nonton Bright Star karena trailer-nya. Lagu To Build a Home-nya Cinematic Orchestra lah yang menggiring gw untuk antusias nonton film ini.

Bright Star, berdasarkan nama puisi karangan John Keats, berkisah tentang salah satu periode dalam hidup John Keats (Ben Wishaw) seorang penyair Inggris yang mati muda karena TBC. Film ini memfokuskan pada percintaan John dan Fanny Brawne (Abbie Cornish), tunangannya. John dan Lord Byron (Paul Schneider), sahabatnya, mencari tempat tinggal untuk meneruskan poses kreatif mereka sebagai penyair. Tetangganya, Fanny, menunjukkan ketertarikan pada John yang mendapat sambutan balik. Meski sering disindir oleh Byron yang merasa kehadiran Fanny mengganggu kosentrasi mereka dalam membuat puisi, keduanya tidak peduli dengan tetap menjalin cinta. Sampai ketika John terserang TBC dan harus pindah ke Itali demi kesembuhannya dan meninggal di sana tak lama setelahnya.

Sepi, beralur lambat, dan membosankan tapi tetap masuk ke dalam daftar film bagus versi gw karena hal-hal berikut: gambar indah, emosi yang tergali, romatisme yang manis, akting kedua pemeran utamanya, dan kutipan puisi-puisi John Keats.

Bright Star menampilkan gambar-gambar indah, salah satunya adalah ketika kamar Fanny dipenuhi kupu-kupu. Karakter dan kondisi ditampilkan secara realistis, yang membuat film ini menjadi membosankan. Meski begitu, emosi yang ditampilkan sangat mendalam, terpancar dari akting Ben Wishaw dan Abbie Cornish. Romantisme John dan Fanny pun terukir manis tanpa mengekspos adegan seks. Hal lain yang gw suka dari film ini adalah kutipan-kutipan puisi romantis dari John Keats. Misal, puisi yang juga ada di trailer-nya: ”I almost wish we were butterflies and liv’d but three summer days. Three such days with you I could fill with more delight than fifty common years could ever contain“.  

Juga satu kalimat ini: a thing of beauty is a joy forever.

Categories: Movies

The Social Network

January 19, 2011 Leave a comment

Sutrdara: David Fincher

Pemain: Jesse Eisenberg, Andrew Garfield, Justin Timberlake.

Diangkat dari novel Accidental Billionaire, film dibuka dengan adegan kencan Mark Zuckerberg (Jesse Eisenberg) dengan Jessica Albright (Rooney Mara). Kencan yang seharusnya romantis ini malah berujung perdebatan panas yang membuat Jessica geram dan mendepak Mark. Sakit hati, Mark pun iseng-iseng membuat game membandingkan fisik cewek. Game tersebut disenangi para mahasiswa Harvard dan membuat Mark direkrut oleh si kembar Winklevoss dan Divya Narendra untuk ikut dalam proyek jejaring sosial mereka. Namun Mark mengembangkan proyeknya sendiri bermodalkan suntikan dana dari sahabatnya; Eduardo Saverin (Andrew Garfield). Namun kesuksesan Facebook mendunia didapatnya setelah Mark berjumpa dan memperoleh nasehat dari Sean Parker (Justin Timberlake). Facebook populer namun persahabatan Mark dan Eduardo retak karena Sean Parker. Eduardo pun menuntut hingga ke jalur hukum, bersamaan dengan kubu Winklevoss yang merasa Mark mencuri ide mereka akan Facebook. 

Pada awalnya, gw menganggap The Social Network adalah film tentang pendirian Facebook, thok. Ternyata ada pesan yang lebih disampaikan yaitu tentang persahabatan, kesetiaan, . Bahkan jika porsi pesan ini dilihat lebih seksama, niscaya ‘hal tentang Facebook’ di film ini cuma tempelan. Bahkan pada akhirnya gw merasa kasihan dengan Mark Zuckerberg yang beberapa sifat dan kejadian dalam hidupnya direkayasa, yaitu dibuat lebih dramatis.

Melalui alur cerita dan, terutama, dialog berirama cepat, The Social Network menggiring penonton untuk merasakan serunya drama antara Mark dan orang-orang yang menuntutnya. Mark digambarkan sebagai seorang sangat cerdas namun tidak pandai bergaul, bahkan cenderung antisosial menjadi greget film ini. Salah pendekatan pada gadis pujaannya dan rasa iri terhadap sahabatnya justru membuat Mark menciptakan hal fenomenal yang membuatnya kaya dan terkenal. Mark bahkan tidak peduli pada proyek dengan Winklevoss dan mengabaikannya begitu saja.

Categories: Movies

Kembang Api: Catatan Tahun Baru 2011

January 16, 2011 Leave a comment

Melanjutkan kebiasaan mmbuat ulasan menjelang tahun baru, kali ini agak terlambat karena sudah memasuki pertengahan Januari 2011. Tapi tak apalah, rasa malas yang menjangkiti saya selama beberapa bulan ini memang sangat parah.

Perayaan malam tahun baru lalu saya lewati dengan sangat sederhana tapi, yang mengejutkan, ternyata sangat berkesan. Tepat jam 12 saya menonton kembang api dari balkon rumah. Berdaster dan ditemani susu coklat panas, saya merasa cukup puas menyaksikan bintang-bintang buatan menanjak naik dan meledak dalam berbagai warna di hitamnya langit malam. Selain mengagumi ledakan warna-warni yang bagai lukisan itu, saya berpura-pura kembang api itu adalah bintang naik, bukan bintang jatuh karena melesat naik, yang mengabulkan permintaan dan harapan saya untuk setahun berikutnya. Semoga yang bisa saya capai selama 2011 sama banyaknya dengan letupan kembang api yang saya saksikan di malam tahun baru.

Ketika mengharap hal-hal untuk tahun 2011, otomatis saya memutar kenangan di tahun 2010. Pertemanan masih menjadi masalah utama, berusaha mengerti orang-orang yang berbeda, semakin menyadari pentingnya keluarga, dan perjalanan backpacker pertama saya yang sangat kaya rasa. Pada tahun 2010 juga saya mencoba menikmati jatuh cinta tanpa harus memiliki. Tahun 2010 juga saya berusaha meluangkan lebih banyak waktu dengan orangtua dan berusaha membahagiakan mereka meski masih jauh dari sempurna. Pertemanan menjadi hal utama di tahun 2010. Saya bertemu orang-orang baru, berusaha keras menerima perbedaan karena mempertahankan prinsip dan nilai yang saya anggap benar. Itulah tantangan tersulit saya pada beberapa bulan terakhir.

Masih sama seperti tahun kemarin, bahwa perayaan tahun baru bukan yang terpenting. Resolusi atau janji tahun baru juga bukan sesuatu yang perlu diteriakkan kesana-kemari. Tahun baru buat saya hanya pergantian tanggal untuk keperluan administratif. Sementara janji-janji perbaikan dan harapan bisa dilakukan setiap hari, bahkan tiap menit, tanpa terbatas tanggal. Tahun 2011 saatnya membuat rencana dan mewujudkan, bukan lagi janji dan resolusi.

Categories: Random