Archive

Archive for November, 2010

Gorong-gorong adalah Monster Berambut Hitam

November 17, 2010 Leave a comment

Waktu kecil, saya dan adik saya sering memainkan permainan ini: imajinasikan satu kata. Kami bergiliran menyebut satu kata, dan yang lain akan mendeskripsikan kata itu sesuai dengan imajinasi atau yang ada dibenaknya. Misal: adik saya menyebut: gorong-gorong, maka saya akan bilang: gorong-gorong itu monster besar, hitam, seluruh badannya berambut, dan matanya ga keliatan. Meski arti sebenarnya untuk gorong-gorong adalah got atau saluran air, tapi kami bebas menginterpretasikannya sesuai pengertian dan imajinasi kami. Berbeda atau sama, kami akan saling menambahkan dan mendebat imajinasi dan pengertian kami untuk dalam satu kata itu.

Saya lupa darimana kami mendapat ide permainan ini dan sayangnya lupa akan contoh kata-katanya. Pastinya, kami sangat menikmati permainan ini. Baru sekarang saya sadar, permainan itu sangat kreatif karena merangsang imajinasi. Dalam berimajinasi, tidak ada yang benar atau salah. Rumah dari api, kucing bertanduk, atau monster bertangan wortel semua sah saja. Waw… saya masih pensaran darimana kami dapat ide permainan itu.

Kalau menurut kamu ‘gorong-gorong’ itu apa?

Advertisements
Categories: Random

Mandiri Berbahagia

November 12, 2010 Leave a comment

Manusia memang mahluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa sesamanya. Bagaimanapun situasi dan kondisi, kita akan selalu butuh orang untuk mendampingi. Tapi cobalah untuk tidak selalu menggantungkan kebahagiaan pada orang lain. Cobalah untuk mandiri dalam membahagiakan diri sendiri. Menyenangkan kok. Dalam kesendirian pula pikiran akan terasa lebih jernih dan lebih jelas dalam mendengar suara hati. Pengalihan masalah tidak harus selalu pergi ke klub atau nongkrong berramai-ramai. Mencari solusi suatu masalah tidak harus mengumbar dan menceritakan kepada banyak orang. Semua itu tergantung sejauh mana mengenal diri sendiri dan mengintrospeksinya.

Categories: Random

The Girl With The Dragon Tattoo

November 12, 2010 Leave a comment

Mikael Blomkvist (Michael Nyqvist) adalah wartawan yang tengah menghadapi tuntutan hukum perusahaan besar atas kasus fitnah. Mikael diminta oleh Henrik Vanger (Sven-Bertil Taube) untuk menyelidiki atas kasus pembunuhan keponakannya, Hariet Vanger, yang menghilang pada tahun 1960-an. Mikael mendapat bantuan dari Lisbeth Salander (Noomi Rapace), seorang hacker. Keduanya pun menyelidiki dan membongkar kasus Hariet Vanger yang terkait dengan pembunuhan berantai yang terjadi empat puluh tahun yang lalu ini.

Ini pertamakalinya gw nonton film Swedia. Diangkat dari novel karya Stieg Larrson, film yang berjudul asli Man Som Hatar Kvinnor – Men Who Hate Women ini, merupakan thriller yang gelap dan penuh teka-teki. Musik, plot, dan karakterisasi yang menyatu berhasil membangun suasan mencekam dan tegang. Ditambah lagi kekerasan seksual ditampilkan secara brutal, yaitu yang terjadi pada Lisbeth dan Hariet. Karakter Lisbeth Salander juga menjadi cerita tersendiri. Lisbeth yang bergaya nge-punk ini memiliki kehidupan yang keras dan kelam, hingga membuatnya menjadi gadis yang kompleks dan aneh. The Girl merupakan bagian pertama dari trilogi Millenium yang kedua film lanjutannya: The Girl Who Played with Fire dan The Girl Who Kicked the Hornets’ Nest tayang di INAFF 2010.  

Terbiasa dengan gaya film Hollywood, film Eropa masih terasa aneh buat gw. Adegan pemerkosaan dan beberapa gambar mayat yang cukup menganggu bikin gw males untuk nonton dua film berikutnya. Hollywood akan membuat remake-nya, jadi kudu liat versi aslinya sebagai pembanding. Artikel tentang novelnya ada di sini, ternyata lumayan menarik juga ceritanya.

Categories: Movies

Takers

November 3, 2010 Leave a comment

Inilah tampilan sekelompok perampok bank: muda, keren, berpakaian bagus, kendaraan mewah, dan terlihat necis. Mereka mengikuti pergerakan saham dan bahkan menyumbang beberapa persen dari hasil merampok mereka untuk amal. Mereka juga pantang membunuh orang, apalagi polisi. Bekerja setahun sekali kawanan perampok ‘sopan’ dan necis ini dipimpin oleh Gordon Cozier (Idris Elba) dengan beranggotakan John Rahway (Paul Walker), A.J. (Hayden Christensen), dan kakak-beradik Jesse (Chris Brown) dan Jake Attica (Michael Ealy).

Setelah sukses menyelesaikan pekerjaan tahunan mereka, muncul Ghost (T.I. Harris) yang baru keluar penjara. Ghost adalah anggota mereka yang tertangkap pada perampokan tahun 2004. Ghost menawarkan tangkapan besar dengan waktu persiapan yang sempit. Meski curiga Ghost mendendam karena tertangkap dan pacarnya (Zoe Saldana) pindah ke lain hati, Gordon memutuskan menerima tawaran Ghost. Kekhawatiran sebagian besar anggota tim pun terjadi: rencana perampokan berantakan dan menewaskan sebagian dari mereka. Ghost rupanya mengadu domba teman-temannya dengan mafia Rusia hingga saling bunuh. Selain dirusak Ghost, kawanan Gordon juga dihambat detektif Jack Welles (Matt Dillon) yang gigih memecahkan kasus ini.

Takers, seperti film action tingkat menengah pada umumnya, menyuguhkan action dan stereotip yang standar. Tidak ada yang luar biasa pada film ini memang, tapi Takers mampu menonjolkan unsur hiburannya sehingga mampu membuat kita memaklumi kekurangan yang lain.

Categories: Movies

Step Up 3D

November 3, 2010 Leave a comment

Dance, dance, dance. Ga ada yang lain yang perlu diperhatikan selain tarian. Yah mungkin Rick Malambri hehehe. Berpindah setting dari Baltimore ke New York, karakter utama Step Up 3D (yep dengan ‘D’) terpecah menjadi dua: Mouse (Adam Sevani) dan Luke (Rick Malambri). Menurut gw ini adalah salah satu film yang dipaksain jadi 3D juga.

Mouse, tokoh yang ada di Step Up 2, sekarang memasuki masa kuliah di NYU. Meski mengambil jurusan teknik sesuai arahan orangtuanya, Mouse ternyata tetap tidak bisa mengabaikan hobi dan bakat menari yang dimilikinya. Secara tidak sengaja dia berjumpa dengan Luke yang mengelola klub tari. Mouse pun bergabung dan membantu Luke memenangkan kompetisi tari. Luke yang hobi membuat film ini pun punya masalah keuangan hingga klubnya terancam tutup dan diambilalih saingannya, Julien (Joey Slaughter), sementara Luke sendiri jatuh cinta pada adik Julien, Natalie (Sharni Vinson).

Koreografi tari yang lebih keren daripada Step Up 2, tapi jalan ceritanya tetap ga bagus. Cerita seolah tidak rela Mouse menjadi tokoh utama dengan adanya Luke. Tokoh utama yang ‘kembar’ ini membuat cerita menjadi tidak fokus; sebenarnya kisah siapa yang mau diangkat atau digali? Cerita cinta ala Romeo dan Juliet antara Luke dan Natalie pun basi banget dan terasa dipaksakan bahwa setiap seri Step Up harus ada pemeran utama laki-laki ganteng berotot berpasangan dengan perempuan cantik seksi (meski menurut gw Sharni Vinson terlalu kurus dan ga cantik) yang keduanya jago menari. Oh well, jadi fokus lah pada tariannya yang ciamik, terutama saat final kompetisinya. Keren.

Categories: Movies

RED

November 3, 2010 Leave a comment

Para jagoan CIA beraksi. Tapi jagoan yang ini sudah berumur dan pensiun. Frank Moses (Bruce Willis), Marvin Boggs (John Malkovich), Victoria (Helen Mirren), dan Frank Matheson (Morgan Freeman) reuni dalam aksi seru mengungkap pihak yang mengincar nyawa mereka. Agen-agen senior ini harus menghadapi juniornya, William Cooper (Karl Urban), yang diperintahkan menghabisi nyawa satu per satu pensiunan yang terlibat dalam suatu operasi militer milik wakil presiden.

Film yang disutradarai oleh Robert Schwentke ini tidak murni action, melainkan ada unsur romantis dan komedi. Ada cerita romantis antara Frank dan Sarah Ross ( Mary-Louise Parker) yang berniat kopdar setelah mengobrol di telepon. Sedangkan unsur komedinya terutama ditonjolkan oleh Marvin Boggs yang konyol atau penokohan Victoria yang dari luar nampak seperti perempuan paruh baya yang kalem tapi mematikan jika memegang senjata.

RED bisa dibilang komedi romantis untuk para lelaki karena menampilkan action yang mantap, bukan sekedar tempelan seperti Killers-nya Ashton Kutcher. Bahkan lebih seru daripada Knight and Day-nya Tom Cruise. Selamat menikmati aksi para pensiunan. RED, Retired Extremely Dangerous.

Categories: Movies

Wall Street: Money Never Sleep

November 3, 2010 Leave a comment

Sekuel dari Wall Street di tahun 1987, Gordon Gekko punya ‘murid’. Adalah Jake Moore (Shia LaBeouf) yang merupakan tunangan putri Gordon; Winnie (Carey Mulligan). Jake adalah trader di Wall Street yang bekerja pada Louis Zabel (Frank Langella), bos sekaligus mentor yang sangat dia hormati. Ketika Zabel dipailitkan oleh Bretton James (Josh Brolin) hingga putus asa dan bunuh diri, Jake pun mendendam dan berusaha membalas. Jake diam-diam menemui Gekko yang bebas dari penjara pada tahun 2001 ini. ‘Simbosis mutualisme’ pun dimulai, Jake mendapatkan nasihat dari Gekko tentang trading, sedangkan Gekko berusaha mendapatkan kembali kasih sayang Winnie yang memusuhi ayahnya.

Aksi balas dendam Jake tidak lancar. Bretton memecat Jake yang memperjuangkan dana besar untuk berinvestasi di perusahaan energi alternatif. Jake tidak terima dengan mengecam Bretton dan mengungkit kematian Zabel. Masalah Jake pun bertambah ketika Winnie tahu tentang Jake dan Gekko. Gekko pun berhasil mengelabui Jake dengan membawa kabur uang warisan Winnie untuk memulai bisnis di London. Jake yang kehilangan pekerjaan dan tunangannya pun berusaha mengetuk pintu hati Gekko dengan kabar kehamilan Winnie.

Dengan sutradara yang sama, yakni Oliver Stone, sekuel Wall Street dari tahun 1987 ini tetap menghadirkan Gordon Gekko dengan cerita yang berdiri sendiri. Wall Street berhasil meramu naik-turunnya lantai bursa, trik perusahaan besar, krisis perbankan (Amerika), dan drama cinta. Apik, detil, dan intrik yang menggigit, Wall Street produksi tahun 2010 ini merupakan drama yang sayang dilewatkan.

Tapi ada satu hal yang mengganggu. Setelah turun-naik konflik dan tebak-tebakan plot yang menyuguhkan pahitnya dunia keuangan dan trading, akhir ceritanya dipaksakan untuk bahagia: Gekko peduli pada anak-cucunya dan Winni menerima kembali Jake. Padahal gw udah menyiapkan mental dan maklum kalau Gekko tetap tega dan jahat serta Winnie tidak menerima Jake kembali. Terutama Gekko tetap tega. Kayaknya kalau Gekko dibiarkan tetap tega dan akhirnya confirm menjadi karakter antagonis, Wall Street 2 akan lebih menarik. Tapi nampaknya, sekali lagi, pembuat cerita tetap setia formula klasik film, mungkin takut ga disukai: akhir cerita selalu membahagiakan.

Categories: Movies