Archive

Archive for October, 2010

Rawatlah Jakarta

October 26, 2010 Leave a comment

Senin kemarin malam nampaknya menjadi malam yang tidak terlupakan bagi kebanyakan warga dan komuter Jakarta. Hujan yang mengguyur dari siang sampai malam ini menghasilkan banjir, macet, dan kecelakaan. Kalimat “jam 1 (malam) baru sampai rumah” adalah jawaban seragam dari yang terkena kekacauan Senin malam itu. Gw sendiri sudah pasti terkena imbasnya, meski sudah berusaha menghabiskan waktu di bioskop sampai jam 9, tapi ternyata tetap macet dan sampai rumah jam 12 melalui jalur alternatif.

Banyak yang menyalahkan gubernur atau marah pada Jakarta. Setiap macet dan banjir, dua hal yang paling bikin orang Jakarta senewen, maka otomatis menyalahkan pemerintah kota. Sah saja menyalahkan karena mereka yang punya kuasa mengatur Jakarta melalui kebijakannya. Tapi sudahkan kita bercermin dan introspeksi diri? Hal yang paling sederhana: sudahkah buang sampah pada tempatnya? Masihkah merokok sembarangan?Atau hal-hal kecil lain yang tanpa disadari baru akan terasa efeknya beberapa tahun kemudian. Memang hal-hal kecil itu akan langsung menghentikan banjir dan macet tapi setidaknya mengurangi dan memberikan pengaruh.

Pandangan gw sebagai orang awam melihat Jakarta makin parah karena polusi, terlalu banyak mal, serta orang-orangnya egois dan tidak disiplin. Transportasi umum yang tidak nyaman dan tidak aman mendorong orang untuk memakai kendaraan pribadi. Itu tidak bisa disalahkan karena memang transportasi umumnya…hmmm…sungguh kacrut. Tapi kalau satu keluarga satu kendaraan, wajar lah, tapi satu keluarga bisa dua atau tiga kendaraan? Mobilnya papa, mobilnya mama, motornya si anak. Wow. Macet pun ‘berbonus’ polusi udara. Belum lagi polusi yang disebabkan rokok. Banyak orang egois yang merokok sembarangan tanpa peduli non-perokok. Mall sampai pun melonggarkan aturannya demi para perokok. Luar biasa pengaruh para perokok ini. Luar biasa egoisnya.

Nampaknya, bencana-bencana di Jakarta bukan hanya disebabkan oleh kelalaian pemerintah atau ‘masalah yang udah dari sononya’, tapi juga take and give antara suatu kota dan warganya. Kalau warga sudah tidak merawat kotanya, jangan salahkan jika kota itu semrawut dan tidak nyaman. Sikap cuek dan indisplin warganya yang pelan tapi pasti membuat masalah di Jakarta semakin akut dan rumit. Kebiasaan buang sampah atau merokok sembarangan yang dilakukan satu orang memang tidak akan terasa dampak buruknya dalam satu atau dua hari, tapi bayangkan ada berjuta orang dan dilakukan berulang-ulang. Berjamaah dan terakumulasi. Lima atau sepuluh tahun ke depan, I do believe Jakarta bukan hanya macet total tapi juga harus pakai masker setiap hari.

Advertisements
Categories: Random

The Other Guys

October 11, 2010 Leave a comment

Pasangan detektif di NYPD Allen Gamble (Will Ferrel) dan Terry Hoitz (Mark Walhberg) berusaha menapaki karir menggantikan posisi duo detektif keren Dansen dan Highsmith yang mati konyol. Allen dan Terry pun berusaha keras mempertahankan kasus besar yang mereka hadapi, meski dilarang oleh atasan mereka Kapten Mauch (Michael Keaton). Dengan segala ketidakcocokan dan masalah pribadi masing-masing, Allen dan Terry pun menguak kasus keuangan yang melibatkan pengusaha ternama David Ershon (Steve Coogan).

Menghadirkan cerita klasik tentang polisi dan penjahat dan plot cerita komedi yang mudah ditebak, The Other Guys bertumpu pada naskah dan karakternya terutama karakter Allen Gamble yang terbiasa bekerja di belakang meja, culun, dan cenderung aneh ini justru selalu ditaksir perempuan cantik. Sedangkan Terry selalu terlihat emosional dan tidak sabaran. Hubungan ‘bromance (brother romance)’ yang menjadi salah satu kekonyolan film ini. Selain komedi, action-nya pun lumayan seru. Kalau agak lelah dengan drama atau action polisi yang serius, The Other Guys lumayan menyegarkan.

Categories: Movies

Karimunjawa Dalam Lima Bagian

October 10, 2010 1 comment

Bad beginning

Ini adalah liburan tergila gw. Diiringi mood yang naik–turun selama 5 hari, liburan ke Karimunjawa tidak hanya sekedar bersenang-senang dan menyegarkan pikiran, tapi ada hal untuk direnungi. Kecelakaan kereta menjadi pembuka pahit liburan gw kali ini. Argo Anggrek yang gw tumpangi menabrak Senja Utama. Tabrakan kereta itu bikin gw parno, ga tenang, dan seolah membuka pintu kejadian-kejadian aneh berikutnya kayak gw denger suara adzan pas di kapal atau terasa ada yang mengelus pipi gw atau tur malam di Lawang Sewu. Hadah hadah ini perjalanan liburan atau apa sih. Mistik deh.

Dari Pemalang, lanjut ke jalur Pantura untuk nyambung bis ke Pelabuhan Emas pake becak. Dari ngobrol-ngobrol sesama penumpang Argo, kenalan sama ibu asal Semarang yang jadi nunjukkin jalan. Selama di bis gw ga bisa tidur karena merasa ga aman, ditambah lagi cerita orang di bis yang melihat langsung korban-korbannya. Mood gw turun sampai ke nol. Sesampainya di Pelabuhan Tanjung Emas dan ngecek detik.com, gw baru sadar bahwa itu kecelakaan besar. Mood gw turun sampai minus 2. Naik lagi waktu ketemu mas Gadang di depan kapal cepat. Turun lagi pas teler di karena gelombang di kapal dan denger suara adzan sampe dua kali dan terasa nyata ada yang mengelus pipi gw. Mood pun turun kembali ke nol. Hadah hadah…

My heaven looks like

Sore hari pertama diisi dengan jalan ke pantai Nirwana dan memotret sunset di dermaga tempat kapal-kapal nelayan berlabuh. Pemandangan dermaga, sunset, dan udara laut yang segar sedikit mengobati kegelisahan gw. Malamnya jalan-jalan di alun-alun yang ramai karena ada acara Sail Indonesia. Kembali ke penginapan, mood gw mulai turun lagi karena masih berdua aja sama Liza, belum keliatan ada orang baru bisa diajak ngobrol dan kenalan. Wufh, I need distraction. Mengobrol dengan banyak orang adalah salah satu pengalihan yang jitu. Untuk pertamakalinya setelah sekian lama: gw takut sendirian.

Hari kedua dan ketiga jadwalnya sama: jalan ke pulau-pulau sekitar Karimunjawa. Gw ga hafal nama pulau-pulaunya tapi semuanya memiliki ciri yang sama: cantik. Pasir putihnya yang lembut, airnya bening, dan pemandangan pulaunya yang indah. Breathtaking view! Snorkeling, penangkaran hiu, berenang, dan jalan-jalan di pantai adalah kegiatan selama dua hari itu. Tiga pulau yang paling menarik perhatian gw adalah Pulau Geleang, Pulau Kecil, dan Pulau Gosong. Pulau Geleang adalah perwujudan nyata gambar-gambar home screen komputer yang selama ini gw tatap nelangsa di jam-jam kantor yang membosankan, lalu hoop! gw langsung ada di dalam gambar itu.

Pulau Kecil serupa dengan Pulau Geleang tapi terasa lebih enak untuk duduk bengong di sini. My heaven looks like. Pulau Gosong adalah yang paling unik. Terletak di dekat Gunung Karimun, pulau unik ini hanya berbentuk gundukan pasir seukuran satu ruangan. Ga ada pohon sama sekali. Gw jadi penasaran penyebab terjadinya pulau ini. Sementara yang lain sibuk snorkeling dan berenang, gw memuaskan diri jalan-jalan di pantai dan tiduran di perahu menikmati udara dan aroma laut, riak ombak, dan pemandangan pulau sambil mengirim e-mail ke temen yang pasti lagi sibuk bekerja dan bikin sirik mereka. Hihihihi.

I was lucky to meet them...

I was lucky to meet them

Selain pemandangan cantik yang memuaskan batin, teman-teman baru adalah berkah yang lain lagi. Berawal dari satu perahu selama dua hari itu, akhirnya gw dan Liza pun jadi akrab sama gank Jakarta dan gank Jogja. Gank Jakarta cewek semua: Indie, Joe, dan Mira langsung akrab sama gw dan Liza. Sementara gw masih terheran-heran dengan gank Jogja yang berisik dan doyan bercanda itu. Gank Jogja yang cowok semua itu had a great laughing out loud: lepas, riang, dan tanpa beban. Pertemanan kami pun berlanjut sampai bikin grup BBM.

nongkrong di alun-alun

Nongkrong di alun-alun adalah saat yang paling seru. Malam terakhir, bahkan sampe diusir sama tukang bakso ikan karena mereka udah mau tutup sementara kita ga ada niat mau bangun. Hits banget emang nih alun-alun yang nampaknya jadi tempat paling gaul se-Karimunjawa.

Orang Jakarta gaul: ‘janjian ngopi di starbucks GI’.

Orang Karimun gaul: ‘janjian makan mi ayam di alun-alun’

Ah, I was lucky to meet them 🙂

Lost in Semarang

Keliling pulau pake becak, beli suvenir, dan sarapan sama gank Jakarta jadi kegiatan setengah hari terakhir di Karimunjawa. Sayang cuma sampe jam 10, karena kapal ke Semarang berangkat jam 11. Transit di Jepara 45 menit, sampai di Semarang jam 5.30 sore. Gw dan Liza sempat sebal karena Argo Anggrek ke Jakarta hanya ada yang jam 12 malam! Padahal gw dan Liza niat ga bakal ada mampir lagi, langsung pulang karena udah capek banget. Yah, apa boleh buat karena pakai kereta lain malah lebih lama dan kurang nyaman. Sekaligus menghadapi trauma deh.

spooky Lawang Sewu

Killing time menunggu Argo, kita nerima tawaran tukang becak untuk keliling Semarang. Kota tua, Simpang Lima, dan Lawang Sewu jadi tujuan kita sore itu. Mood gw ga enak lagi, but I’m trying to enjoy it. Tur malam di Lawang Sewu adalah puncak kegelisahan gw. Gelap dan horor menenani rombongan tur. Belum lagi tampilan patahan arwah di kamera kita bikin gw makin gelisah dan teringat lagi tragedi kecelakaan kereta. Akhirnya setelah 2,5 jam keliling, kita balik ke Stasiun Tawang nunggu sampe jam 12. Stasiun Tawang ini bersih dan nyaman, terutama toilet dan ruang tunggunya. Toko-toko yang buka 24 jam pun memberikan rasa aman karena stasiunnya jadi ga sepi.

lovely new friends

The after feeling

Jakarta at last. Meski agak molor, seharusnya tiba jam 6 tapi jadi 7.30, gw lega perjalanan keretanya lancar. Total 24 jam gw ga mandi dan ganti baju, cuci muka pun terakhir di Semarang. Dari Gambir, masih ada perjalanan terakhir untuk sampai ke rumah: kereta express ke Bekasi. Di dalam kereta jam 8.30 itu, memori gw flashback 5 hari terakhir. Many things happened bercampur dengan mood naik-turun yang nyaris ekstrim. Senang, sedih, takut, semangat, dan ngeri yang muncul bergantian selama 5 hari. Ya Allah, terimakasih atas perlindungan, pengalaman, dan berkah yang dilimpahkan dalam 5 hari itu. Lima hari itu adalah rapelan dan jawaban atas keluhan ‘duh-hidup-gw-membosankan-datar-datar-aja’ selama ini, plus penyeimbang logika dan hati. Mulailah timbul rasa kangen akan rumah, kantor, bioskop, dan rutinitas membosankan. Tapi juga kangen sama Karimunjawa dan orang-orang yang gw temui selama di sana. Rasa kangen yang berlawanan itu bagai dua kutub yang saling tarik-menarik. Tanpa sadar, air mata pun mengalir.

Well, be careful what you wish for. Meski pada akhirnya semua kejadian itu menjadikan hidup makin berwarna, tapi saat menjalaninya sangat tidak enak. Menyerempet kematian dan hal-hal gaib bukanlah petualangan yang gw nikmati, terutama pada saat berniat liburan!

Liburan yang komplit rasa.

Categories: Random