Archive

Archive for September, 2010

A Silent Monday: Sebuah Catatan Duka

September 27, 2010 1 comment

Ada yang berbeda di hari Senin ini. Tumben saya bisa tenang menggunakan toilet eksekutif tanpa terburu-buru atau kahawatir ada yang mengantri. Tidak terdengar juga sebuah suara keras dan nyaring yang sangat akrab di telinga saya, juga ketukan hak sepatunya. Sosok dari suara itu tidak akan pernah dilupakan oleh para kolega dan stafnya. Senin ini, tepat sebulan sesudah ulangtahunnya, beliau berpulang ke pangkuan-Nya.

Tiga tahun “saja” saya mengakrabi sosoknya. Meski jarang berhadapan langsung dengan beliau, tapi kehadirannya sangat terasa dan terasa timpang ketika hilang. Berita duka di hari Sabtu tak urung membuat saya kaget dan sedih. Serangan asma akut membuat beliau menghembuskan nafas terakhir setelah sebelumnya dipicu oleh semprotan hairspray. Kaget, sedih dan masih tidak percaya, malam itu saya tidak bisa tidur nyenyak dan bermimpi buruk. Memang nyaris tidak ada ikatan emosional antara kami, dan saya pun bertanya-tanya mengapa sampai terpengaruh dengan kepergian beliau? Jawabnya adalah mungkin karena keterbiasaan melihat dalam keseharian. Bagaimanapun, jika anda melihat orang yang sama setiap hari maka ikatan emosional akan muncul meski sangat minim.

Kepergian beliau yang mendadak juga menyentak saya akan satu hal: betapa kita buta akan umur sendiri. Ibarat antrian, kita bahkan tidak tahu di antrian nomor berapa berada dan kapan dipanggil. Ini juga menyentak: bahwa manusia itu sama dan tidak berdaya di tangan maut. Tidak terkecuali seorang yang berkuasa, cerdas, dan kaya. Di saat maut menjemput dan takdir telah menggoreskan pena penentuan, maka atribut keduniawiannya pun sama sekali tidak berguna.

Ketika banyak orang mengungkapkan simpati dan duka cita melalui status di FB dan Twitter, saya diam. Ketika hari ini tak putus membicarakan kenangan tentang beliau, saya diam. Ketika saat doa bersama dan mengheningkan cipta mereka menangis, saya diam. Hanya saja saya tidak henti menatap fotonya dengan nanar. Mungkin ada yang menganggap saya tidak peduli dan tidak berduka. Tapi dalam diam, saya merenung dan merasa kehilangan. Meski kehilangan itu cuma saat-saat antri di restroom atau ingatan saya tentang sepatu dan suara beliau. Bahwa suara nyaring itu tidak akan terdengar lagi selamanya.Bahwa kini ruangannya berisi rangkaian mawar putih. Bagi saya kesedihan dan simpati, bahkan empati, kadang tidak harus diucapkan atau diekspresikan.  Saya merasa kehilangan dan berduka dalam diam dan tanpa air mata.

Selamat jalan mbak Tuti Dewi Hadinoto.

Semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah Subhanahu Wataala dan dilapangkan jalannya. Amin.

Senin, 27 September 2010.

Advertisements
Categories: Random

School for Scoundrels

September 27, 2010 Leave a comment

Roger (Jon Heder) adalah sosok pecundang. Petugas tilang parkir ini gampang gugup dan panik sehingga mudah pingsan. Atas saran temannya, Ian (David Cross), Roger pun ikut kelas untuk membangkitkan rasa percaya diri. Kelas yang dijalankan oleh Dr. P (Billy Bob Thornton) menjadikan Roger dan teman-temannya lebih agresif dan percaya diri. Masalah muncul ketika Roger muncul sebagai murid terpandai. Dr. P mulai menjalankan siasat untuk merebut hati Amanda (Jacinda Barett), gadis yang ditaksir Roger. Ketika Roger tahu dan marah, Dr. P justru berdalih bahwa ini adalah bagian dari pembelajaran, agar Roger mendapat tantangan. Kompetisi mendapatkan Amanda pun semakin sengit, hingga Roger menemukan bukti bahwa Dr. P bermaksud buruk terhadap Amanda. Bersama teman-temannya, Roger mengejar dan berusaha membuktikan pada Amanda untuk membuka kedok Dr. P.

Ketika Roger berhasil mengambil hati Amanda kurang dari setengah waktu film ini, gw mulai bertanya-tanya; oke dimana masalahnya?! Karena tebakan gw, berdasarkan film-film dengan plot serupa, misi dari si tokoh protagonis adalah menjadi PD dan memenangkan gadis pujaannya dengan bantuan seorang guru. Tapi ternyata masalah yang harus dibereskan adalah gurunya sendiri yang tadinya berperan sebagai “sesepuh” menjadi musuh. Adegan yang menarik adalah waktu Roger membongkar kedok Dr. P di bandara tapi kena tipu lagi hingga Roger menunggu Amanda di terminal yang salah. Bisa dibilang itu klimaks dari film garapan Tod Phillips ini.

Cerita dan plot yang menarik serta humor yang pas membuat film ini bisa dikategorikan sebagai komedi yang bagus. Komedi yang tidak bertumpu pada slapstick semata tapi juga ada ketegangan dan romantisme. Meski produksi tahun 2006 dan baru diputar di bioskop (Indonesia) tahun 2010, tapi tetap worth to watch.

Categories: Movies

Sssshhhh…

September 19, 2010 Leave a comment

Facebook, Twitter, WordPress, dan Foursquare. Siapa, sedang apa, apa yang dipikirkan, dan dimana. Atas alasan pergaulan, orang dengan sukarela membuka berbagai informasi tentang mereka dari mulai tanggal lahir sampai posisi kaki mereka detik itu juga. Orang sekarang makin seperti buku terbuka yang gampang dibaca. Mudah terbaca, bagai buku yang terbuka lebar. Kita dengan mudah menilai dan memetakan orang berdadasarkan postingan mereka di situs-situs jejaring sosial. Hmmm, tugas detektif dan intel pun semakin gampang karena orang dengan sukarela mengumbar dan meng-update hal-hal pribadi. Narsisme kayaknya juga makin subur menjangkiti. Ga sedikit orang yang sangat menjaga page FB-nya untuk tetap “sempurna” sesuai seleranya dengan melarang atau menghapus komen dan tag dari teman-temannya yang dianggap tidak keren. HALAH. Satu hal lagi: miskomunikasi dan kesalahpahaman. Pernah ga merasa kalau kita sedang bermasalah sama pacar atau teman, situs jejaring sosial justru menambah kesalahpahaman? Status, foto, dan pameran tempat nongkrong malah makin berprasangka dan menyebabkan kemandegan komunikasi. Ah ga heran kalau hidup ini semakin rumit. It’s complicated, katanya. Tapi gw ga anti dengan situs-situs jejaring sosial. Blog dan FB menjadi salah satu wadah berekspresi gw. Bagaimanapun kita ga bisa mengelak fenomena seperti ini. Melawannya hanya akan membuat kita terlihat aneh.

Akhir-akhir ini gw merasa privasi menjadi sesuatu yang langka di tengah tren buka-bukaan informasi. Adalah sesuatu yang menyenangkan kalau ga ada temen yang tahu gw lagi malem mingguan sama siapa dan dimana. Atau siapa pacar gw, atau gw lagi suka sama siapa, atau aktivitas gw, atau makanan yang lagi gw kunyah. Situs jejaring sosial membuat penggunanya menjadi lebih ekspresif, spontan, bahkan kreatif. Ekspresif dan kreatif oke, tapi spontan? Bila berlebihan, spontanitas dapat mengikis privasi. Buat gw menyimpan privasi, dengan seminim mungkin memposting hal-hal remeh-temeh, adalah suatu yang penting. Menyenangkan menyimpan suatu rahasia, meski itu rahasia kecil.

Categories: Random

Hello Stranger

September 19, 2010 2 comments

Kecintaan pada film drama Korea membawa seorang gadis (Nuengtida Sopon) berwisata ke Korea Selatan. Si gadis tanpa sengaja berkenalan dengan seorang pemuda (Chantavit Dhanasevi) yang mengambil paket tur karena patah hati. Sama-sama berasal dari Thailand, si gadis pun akhirnya bersedia “menemani” si pemuda yang tersesat karena mabuk dan tertidur sehingga tertinggal rombongan tur. Mereka pun semakin akrab setelah si gadis diputuskan pacarnya karena berbohong. Mengobati patah hati mereka pun bersenang-senang bersama dan sepakat tidak bertukar nama. Sampai ketika menyadari saling jatuh cinta, muncul seseorang yang tidak terduga.

Terinspirasi dari “serbuan” drama Korea yang mewabah di beberapa negara Asia, termasuk Indonesia, film Thailand ini dengan manis mengangkat dan mengembangkannya sebagai film komedi romantis yang menyenangkan. Mimik dan gestur dua aktor utamanya jadi modal gw buat ketawa dan menikmati film ini, karena masih sangat asing dengan bahasa dan teksnya yang agak kacau. Endingnya pun dibuat unik dan tidak membosankan. Meski diarahkan oleh sutradara film horor, Banjong Pisanthanakun, tapi Hello Stranger ga kaku sebagai komedi romantis. Jika bosan dengan film romcom Jennifer Aniston akhir-akhir ini yang mulai basi, film ini bisa jadi alternatif yang menyegarkan.

Categories: Movies

Centurion

September 19, 2010 1 comment

Seorang perwira Romawi, Centurion Quintus Dias (Michael Fassbender), bertahan hidup setelah benteng diserang oleh bangsa Picts yang melawan penjajahan Romawi di tanah Britania/Skotlandia pada tahun 117 M. Setelah lolos dari Picts, Centurion bergabung dengan Legiun Kesembilan pinpinan Jenderal Titus Flavius Virilus (Dominic West). Virilus mendapat perintah untuk menyerang Picts dan membunuh rajanya, Gorcalon (Ulrich Thomsen) dengan bantuan Etain (Olga Kurylenko), prajurit perempuan Picts yang berpihak pada Romawi. Pasukan Virilus pun masuk perangkap karena pengkhianatan Etain yang ternyata kaki tangan Gorlacon. Centurion dan beberapa orang yang tersisa pun menempuh jalan panjang untuk pulang ke Roma, setelah sebelumnya gagal menyelamatkan Virilus yang ditawan. Diburu Etain yang ganas dan pencari jejak ulung, Centurion pun harus menerima kematian teman-temannya dan penolakan bangsanya sendiri.

Olga Kurylenko adalah salah satu alasan utama gw untuk nonton Centurion, selain aspek sejarah dan Michael Fassbender. Bisu, bengis, dan ganas, si manis Bond girl ini berhasil menghidupkan karakter Etain yang mendendam seumur hidupnya terhadap pasukan Romawi. Sementara Michael Fassbender yang sebelumnya di Inglourious Basterd standar aja memerankan jagoan yang bertahan hidup. Etain dan adegan-adegan penuh darah lah yang menjadi nyawa film ini, bukan akurasi sejarahnya. Film arahan sutradara Neil Marshall ini tidak menghaluskan gambar-gambar keras dari suatu perang. Beberapa adegan sadis seolah ingin memperlihatkan pada penonton tentang kekejaman perang di ribuan tahun lalu ini. Maka formula perang, darah, dan perempuan prajurit pun menjadikan Centurion lumayan enak dinikmati sebagai fiksi sejarah.

Categories: Movies

Darah Garuda: Merah Putih II

September 19, 2010 Leave a comment

Lanjutan dari Merah Putih. Kelompok Amir (Lukman Sardi) cs melanjutkan petualangannya. Setelah menghancurkan iring-iringan pembawa bahan bakar tentara Belanda, mereka bertemu dengan pasukan Jenderal Sudirman. Misi mereka kali ini adalah menghancurkan pangkalan udara untuk menangkal serangan Belanda. Bersama Sersan Yanto (Ario Bayu), Amir menuju pangkalan udara tersebut. Malangnya, sebelum sampai, mereka dihadang dan dihancurkan lebih dahulu oleh Belanda pimpinan Mayor Van Gaartner (Rudy Wowor). Dalam keadaan kocar-kacir ini, pasukan Amir yang tersisa bertemu dengan kelompok milisi berbasis Islam. Dari kelompok ini, Amir mendapat dinamit untuk meledakkan pangkalan udara.

Patriotisme, cinta, dan pengkhianatan mewarnai film arahan Yadi Sugandi dan Conor Allyn ini. Inilah film perjuangan tentang Indonesia dengan rasa Hollywood yang sangat kental. Salah satu sutradaranya, penulis skenario, tim make-up, dan tim efek khusus adalah bukan orang Indonesia. Hal ini membuat Darah Garuda bagusnya terasa pincang. Untuk efek khusus dan make-up memang bagus, ga kalah sama film action Hollywood. Sedangkan untuk cerita, terutama dialog, terasa sangat kurang. Kekakuan dialog, yang gw curiga, “diterjemahkan” mentah-mentah dari dialog berbahasa Inggris membuat karakter-karakternya kurang terasa emosinya dan jadi kaku.  Rudy Wowor yang langganan peran orang Belanda memang bermain bagus, tapi karakternya kurang dalam. Jadilah gw melihat Rudy Wowor ga istimewa lagi. Jadilah film ini terasa pincang karena emosinya kurang. Coba kalau sutradara dan penulis skenarionya lebih mumpuni, Darah Garuda pasti akan sempurna.

Categories: Movies

Dwilogi Padang Bulan (Andrea Hirata)

September 19, 2010 Leave a comment

Pada bagian pertama, yaitu Padang Bulan, cerita dibuka dengan tragedi yang menimpa keluarga Zamzani. Zamzani yang kuli tambang timah ini meninggal dalam kecelakaan. Posisinya sebagai pencari nafkah pun digantikan Enong, putri sulungnya, yang terpaksa putus sekolah demi bekerja keras menghidupi keluarganya. Kisah Enong yang mengharubiru ini berganti dengan kisah Ikal yang masih berusaha mendapatkan cinta A Ling. Ikal yang lulusan sekolah luar negeri ini memilih menetap di Belitong sebagai pelayan warung kopi milik pamannya, ketimbang merantau di Jakarta. Ikal patah hati ketika tahu A Ling akan menikah dengan Zinar, pemuda Tionghoa yang ganteng dan ramah. Setelah berusaha membuktikan diri lewat sejumlah perlombaan tujuhbelasan, meski kalah Ikal merasa puas dan akhirnya terbukti bahwa pertunangan A Ling dan Zinar adalah salah paham.

Kisah Enong yang nama aslinya Maryamah ini berlanjut di bagian kedua dwilogi Padang Bulan; Cinta di Dalam Gelas. Maryamah ingin bertanding catur melawan mantan suami yang pernah menyengsarakannya. Dibantu teman-temannya; Ikal, detektif M. Nur, Preman Cebol, Selamot, dan Giok Nio, Maryamah tekun belajar catur dari nol. Demi mengukur kekuatan lawan dan menyusun strategi, mereka mendapat bantuan dari grand master catur Nochka yang merupakan teman kuliah Ikal di Inggris. Pertandingan catur pun menjadi ajang balas dendam Maryamah atas luka-luka masalalunya sekaligus kebangkitan hak perempuan di desa Ikal.

Cerita dwilogi inilah seharusnya yang menjadi isi Maryamah Karpov, karena cerita banyak tentang Enong alias Maryamah. Awalnya gw kurang simpati pada Ikal yang “bodoh” karena tetap berkubang di Belitong karena patah hati pada cinta pertama dan sebagai pelayan warung kopi, ketimbang ke Jakarta mencari pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya. Tapi kemudian, cerita di Belitong lebih menarik daripada cerita, bila jadi, Ikal di Jakarta. Ikal adalah Andrea Hirata, jadi mungkin juga Andrea mengungkapkan keinginannya bila dia jalan hidupnya berbeda. Di kampungnya, Ikal berhasil membuat pembaharuan tentang emansipasi perempuan. Suatu sekrup besar di perahu kecil. Suatu hal yang tidak akan terjadi bila Ikal bekerja di Jakarta sebagai pegawai perusahaan. Sekrup kecil di perahu besar.

Meski meski agak mengecewakan karena belum bisa melepas sosok Ikal, Dwilogi Padang Bulan masih menampilkan bacaan yang enak dinikmati berbungkus humor melayu yang menjadi ciri khas Andrea Hirata. Semoga di karya berikutnya, Andrea Hirata tidak lagi menggunakan Ikal untuk menghasilkan cerita yang sama menariknya.

Categories: Books