Archive

Archive for May, 2010

The Society of S (Susan Hubbard)

May 30, 2010 3 comments

Terbagi menjadi tiga bagian, novel karya Susan Hubbard ini mengambil sudut pandang Ariella Montero alias Ari. Bagian pertama bercerita tentang kehidupan Ari di Saratoga Springs. Gadis remaja berusia dua belas tahun ini tinggal di kota sunyi bernama Saratoga Springs, New York. Ayahnya, Raphael Montero, seorang peneliti yang cerdas, terpelajar, dan tampan. Bersama mereka ada Dennis yang merupakan sahabat Raphael, Mary Ellis Root yang merupakan asistennya, dan Mrs McGarritt yang merupakan koki khusus untuk Ari. Menjalani hidup yang sunyi, ayah Ari terbilang sangat protektif terhadap putrinya dengan tidak memperbolehkan Ari bersosialisasi. Ari pun menjalani gaya hidup yang tidak biasa sebagai vegetarian dan homeschooling dengan pengetahuan di atas rata-rata anak sebayanya. Suatu hari Mrs McGarritt mengajak Ari mengunjungi keluarganya dan Ari pun menjalin pertemanan dengan Kathleen dan Michael. Namun Kathleen terbunuh dan keceriaan Ari pun padam. Kemurungan ini mendorong Ari untuk mencari tahu akan keanehan dan perbedaan dirinya serta pertanyaan-pertanyaan tentang ibunya. Dari cerita-cerita ayahya, Ari pun bahwa dirinya vampir. Setengah vampir karena ibunya manusia dulu adalah manusia.

Bagian kedua mengkisahkan perjalanan Ari ke Florida mencari ibunya, Sara Stephenson. Dalam perjalanan inilah Ari mulai mengenal dirinya sebagai vampir dengan meminum darah manusia, bahkan membunuh orang yang mencoba memerkosanya. Sekaligus mengenali kekuatan dirinya yang bisa menghipnotis, membaca pikiran, dan menghilang. Ari pun berhasil menemukan ibunya dan mengetahui tentang masyarakat S. Masyarakat S atau The Society of S, kependekan dari Sanguin, adalah sekte pecinta lingkungan yang memusatkan perhatian pada etika dan hak asasi manusia.Vampir-vampir masyarakat S hidup dengan manusia dan tidak meminum darah manusia, sebagai gantinya mereka mengembangkan suplemen. Mereka, berbeda dari golongan vampir yang masih memangsa manusia, berpendapat bahwa hidup damai dengan manusia adalah keharusan.

Bagian ketiga adalah reuni keluarga Montero. Sepeninggal Ari, ayahnya “meninggal”, berganti nama menjadi Arthur Gordon Pym, dan hidup di kota lain. Pada bagian terakhir ini pun terungkap bahwa dalang perpisahan Raphael dan Sara adalah Malcolm, sahabat Raphael. Malcolm, yang mengubah orangtua Ari menjadi vampir, ternyata mencintai ayah Ari (heih, vampir homo? yang benar saja!) sehingga berusaha memecah belah Raphael dan Sara juga membunuh Kathleen. Malcolm dibantu Dennis, yang pada akhirnya dianggap oleh Ari dan ayahnya sebagai pengkhianat. Akhir cerita, Malcolm menghilang dari kehidupan mereka setelah suatu kebakaran dan Ari tinggal dengan ibunya.

Sedikit berbeda dengan judulnya, The Society of S sangat sedikit bercerita tentang sekte Sanguin. Novel ini lebih banyak menceritakan kehidupan pribadi Ariella, yaitu seputar pertanyaan dan misteri tentang dirinya sendiri dan orangtuanya. Sekte Sanguin hanya muncul sedikit di bab 2 yang menceritakan kehidupan Sara. Malcolm, yang berpotensi jadi penjahat besar dalam cerita ini pun akhirnya tidak lebih dari vampir homo yang sakit hati pada ayah Ari. The Society of S pun dominan drama ketimbang thriller apalagi horor. Meski demikian, deskripsi yang diberikan Susan Hubbard sangat mengesankan. Terutama tentang teman-teman Ari dan konflik seputar mereka yang terasa nyata, bahwa inilah kehidupan remaja sekarang. Satu poin plus lagi, pembeberan sastra dan ilmu pengetahuan lain, bagai menikmati potongan Dan Brown dalam buku ini.

Dibandingkan dengan Twilight Saga karya Stephenie Meyer, novel ini lebih terasa padat dan berisi. Mungkin karena muatan sastra dan ilmu pengetahuannya serta meyoal tentang riset dan bisnis suplemen darah. Hmmm remind me of Daybreakers. Sedangkan Twilight benar-benar memfokuskan percintaan Edward dan Bella hingga terasa dangkal. Satu buku The Society of S memang terasa lebih mengenyangkan ketimbang empat buku Twilight Saga. Kisah Ari pun berlanjut di The Year of Disappearances.

Categories: Books

Prince of Persia: The Sands of Time

May 30, 2010 2 comments

Dari hanya seorang anak miskin di Persia, Dastan (Jake Gyllenhaal) diangkat anak oleh Raja Sharaman (Ronald Pickup). Dastan pun tumbuh menjadi prajurit perkasa yang berhasil membawa kemenangan ketika pasukan Persia menyerang kota suci Alamut. Dalam penyerbuan tersebut Dastan berhasil merampas belati keramat yang sangat dilindungi oleh Putri Tamina (Gemma Arterton), pemimpin kota Alamut. Tamina yang melihat belati tersebut ada pada Dastan pun setuju menikah dengan Pangeran Tus (Richard Coyle), saudara tertua Dastan. Kemudian Dastan difitnah membunuh sang ayah, hingga terpaksa dia melarikan diri. Bersama Tamina yang juga ikut kabur untuk mengambil belati tersebut, Dastan yang telah menjadi buronan ingin membuktikan pada Tus dirinya tidak bersalah. Sekaligus mengungkap tujuan jahat pamannya, Nizam (Ben Kingsley), ketika menyerang Alamut. Sedangkan Tamina berusaha merebut belati yang bisa membalikkan waktu tersebut ke tempatnya agar tidak terjadi kiamat. Bersama, keduanya berpetualang untuk mencegah Nizam membalikkan waktu demi menjadi raja Persia dan mencegah kehancuran dunia.

Untuk jalan cerita pasti sudah bisa ditebak lah, yaitu tentang cerita heroik Dastan dan belati keramat berisi pasir yang mampu membalikkan waktu. Diangkat dari video game berjudul sama, keistimewaan film arahan Mike Newell terletak pada aksi-aksi parkour Dastan dan akhir cerita Dastan dan Tamina yang dibuat sedikit berbelok-belok. Prince of Persia memang tipikal film liburan yang ringan, kaya efek visual, dan aksi-aksi seru. Meski ga terpesona dengan ketampanan dan otot-otot Jake Gyllenhaal, gw menikmati hal-hal klise film ini dan sangat tidak keberatan untuk sekuel.

Categories: Movies

80s

May 28, 2010 Leave a comment

Categories: Games, Pet Society

Obat Patah Hati

May 25, 2010 1 comment

Tas kerja mirip koper itu terasa lebih gembung dan berat dengan bertambahnya satu benda. Terdiri dari 647 halaman yang mulai menguning itu adalah obat patah hati yang aku punya saat ini: Dokter Zhivago-nya Boris Pasternak. Buku peninggalan salah satu lawyer itu sudah hampir 2 tahun teronggok di lemari kerja. Tak bernafsu aku membacanya, tapi tak ingin juga aku singkirkan karena ini adalah salah satu karya terkenal. Saat ini, cerita Yuri Zhivago mungkin bisa mengalihkan perhatianku dari dirinya.

Malu-malu aku selipkan buku itu hingga ke dasar tas dan menutupinya dengan barang lain. Aku malas ditertawakan teman-temanku yang malam ini perasaannya juga sedang jelek. Bedanya, temanku yang cantik itu memilih alkohol sebagai obat.

“Malem ini gw mau ke club, mabok-mabokan. BT sama pacar dan orang-orang rumah” ujarnya sambil membalas pesan singkat mesra dari seseorang di belahan dunia lain.

Rasanya aku ingin tertawa melihat kekontrasan ini: minum sampai mabuk di club vs baca buku di rumah. Biang dugem vs kutu buku. Jauuuh di lubuk hatiku, ingin rasanya aku bisa mabuk, menikmati ganja, dan merokok. Tenggelam dalam ketidaksadaran dan melupakan masalah yang ada. Sungguh deh, aku benar-benar mendambakan bisa mabuk berat kalau lagi perasaan sedang jelek. Tapi apa daya, minum bir oplosan saja sudah sakit kepala.

Yah, setiap orang punya gaya hidup dan lingkungan masing-masing. Alkohol, ganja, dan rokok buatku adalah buku, film, berpikir, dan berkhayal. Ekstasi adalah ketika aku menemukan makna dari buku dan film. Clubbing adalah ketika aku punya ide dan menuangkannya dalam tulisan. Mungkin itulah caraku bersenang-senang dan aku sangat menyukainya.

Categories: Fiksi Singkat

Kick-Ass

May 25, 2010 Leave a comment

Pada suatu hari, Dave Lizewski (Aaron Johnson) memutuskan untuk menjadi superhero meskipun tanpa kekuatan super, pelatihan apapun atau bahkan alasan yang kuat. Berkostum hijau ketat dan menamakan dirinya Kick-Ass, Dave pun memulai tugas pertamanya dengan… mencari kucing yang hilang. Dari kucing, Dave terlibat perkelahian antar geng yang membuatnya terkenal karena rekamannya di-upload ke Youtube. Namun ternyata ada yang lebih ahli daripada Dave, yaitu pasangan ayah-anak Damon dan Mindy Macready yang menamai diri mereka Big Daddy (Nicholas Cage) dan Hit Girl (Chloe Moretz). Big Daddy dan Hit Girl punya misi balas dendam pada gembong narkoba Frank D’Amico (Mark Strong) yang telah menghancurkan hidup keluarga Macready. D’Amico yang gusar bisninys diacak-acak pun mendapat ide dari putranya, Chris (Christopher Mintz-Plasse) untuk menyamar sebagai jagoan Red Mist. Red Mist akan mendekati Kick-Ass yang tahu tentang Big Daddy dan kemudian Red Mist akan menggiring Big Daddy untuk dibunuh.

Diangkat dari komik karya Mark Millar dan John Romita Jr., meski ceritanya tentang remaja dan diperankan oleh remaja dan anak-anak tapi adegan-adegan sadisnya ga kalah sama Kill Bill selain konten seksualnya. Sebagai film superhero, Kick-Ass terasa lebih ringan karena komedinya sangat terasa. Mark Strong sebagai bos bandar narkoba dan Chloe Moretz sebagai gadis kecil yang mampu membantai penjahat mencuri perhatian.

Categories: Movies

They are Lovers

May 24, 2010 2 comments

Meet Ms. She. Aktris berbakat asal Jerman yang telah meraih berbagai penghargaan untuk film-filmnya. Cantik, memiliki banyak bakat, dan tanpa cela, She adalah sosok sempurna seorang pesohor. Datang dari keluarga terhormat dan disiplin, She memulai karirnya sebagai aktris dari umur 7 tahun. Kakeknya adalah mantan perwira Nazi yang turut terlibat dalam peristiwa holocaust. Kulit pucat bagai pualam, rambut pirang, dan bermata biru, She bersinar dimanapun ia berada. Everybody loves She.

And this is Mr. He. Sutradara film horror kelas dua berdarah Yahudi yang menimbulkan kontroversi karena film-filmnya yang sadis dan dianggap tidak bermutu. Meniti karir dari bawah sebagai kru film, He berasal dari keluarga yang lumayan berpendidikan. Kakek dan neneknya selamat dari peristiwa holocaust di masa perang dunia II. Dengan tinggi hampir 2 meter, berpostur atletis, berambut dan bermata coklat gelap, He cukup tampan. Mengabaikan cibiran para pembencinya, He terus konsisten membuat film-film horror yang sesuai dengan visi dan seleranya. Many people hates He.

They’re lovers.

Categories: Fiksi Singkat

Abu-abu

May 24, 2010 Leave a comment

Suatu pagi di musim panas. Aku terbangun dengan keringat di wajah dan punggung. Aku belum sempat melihat jam, tapi sadar bahwa sudah siang karena sinar matahari mulai menembus jendela kamar. Seperti biasa, hal pertama yang dilakukan otakku adalah secara otomatis mengulang memori sembilan jam sebelumnya. Semalam. Enero. Sore. Bertemu. Semalam aku bahagia karena sorenya bertemu dengan Enero sejak kami putus hubungan sebulan yang lalu. Badannya lebih kurus, tapi mata dan humornya masih membuatku gemas dan tertawa. Dia tidak bahagia dengan pacar barunya. Enero. Tanpa terasa airmataku mengalir begitu saja. Aku tidak terisak, tidak ingin menangis, dan merasakan kerut wajahku datar saja. Namun airmata mengalir membasahi pipi dan membasahi bantal, masih dengan ekspresi datar dan dingin di wajahku. Aku seperti orang lumpuh seluruh tubuhnya tak berdaya dan hanya bisa menggerakkan mata. Memoriku pun berputar bagai rol film yang membentuk adegan-adegan kacau yang meloncat-loncat.

Selama ini aku selalu memandang dalam warna hitam dan putih. Benar atau salah. Pintar atau bodoh. Kanan atau kiri. Tidak ada ‘antara’ dan ‘perpaduan’. Hubungan dengan Enero yang memperkenalkan aku pada warna abu-abu. Akhir-akhir ini, bahkan tidak berwarna. Putihkah? Aku tidak tahu kalau tidak berwarna adalah putih. Jika ada warna lain, maka warna itu lah yang mewakili pandanganku saat ini. Mungkinkah saat ini aku sedang memberontak terhadap nilai-nilai yang selama ini aku percaya? Pemberontakan karena marah dan lelah. Pemberontakan karena pemikiranku yang semakin rumit disebabkan perasaan yang rumit pula. Perasaan yang tidak dapat dijelaskan secara rasional dan normatif.

Sekarang, aku sudah belajar untuk tidak memberikan nilai yang sama pada masing-masing orang. Nilai dan ukuran setiap orang sangat relatif dan pribadi. Jiwa manusia begitu rumit untuk disamaratakan dan dinilai secara pasti. Kebenarannya sejatinya terbungkus fisik tulang berbalut kulit dan senyuman palsu. Duhai, tak akan ada sebaik-baiknya orang menilai orang yang lainnya. Wajahku kembali membentuk senyum. Lagi, Enero mengajarku satu hal melalui caranya sendiri.

Categories: Fiksi Singkat