Archive

Archive for April, 2010

The Men Who Stare at Goats

April 29, 2010 2 comments

Didorong perasaan patah hati ditinggal istrinya, Bob Wilton (Ewan McGregor) memutuskan ikut “berperang” ke Irak. Kesempatan untuk membuktikan diri terhadap istri dan dirinya sendiri tak kunjung datang sampai Bob bertemu dengan Lyn Cassady (George Clooney). Cassady adalah pasukan khusus AS yang dilatih untuk memiliki kemampuan supranatural bak cenayang. Pasukan ini berperang tidak secara fisik, melainkan dengan kekuatan pikiran. Petualangan Bob dan Cassady pun bercampur dengan flashback ke tahun 1970-an ketika pasukan ini dibentuk atas inisiatif Bill Django (Jeff Bridges) yang bergaya hippie. Django melatih tentara-tentara pilihan dengan gaya yang nyaris konyol sampai akhirnya dipecat karena ulah Larry Hooper (Kevin Spacey).

Ada dua alasan akhirnya gw seneng begitu The Men Who Stare at Goats tayang: trailer-nya dan Ewan McGregor.Ditambah review-nya bagus. They said its a smart film. Kenyataannya, gw nyaris bosan menonton film arahan sutradara Grant Heslov ini. The Men adalah campuran drama, komedi, satir, action sekaligus sci-fi (?). Sebagai film drama dan satir, cukup berhasil tapi sebagai komedi? meehh. Gw berusaha tertawa untuk adegan-adegan yang seharusnya lucu tapi ga berhasil. Just giggles not laughs.

Dengan konsep cerita yang unik dan casting yang oke, film ini bisa jadi cerdas dan mengesankan. Tapi ga berlaku buat gw karena ga ada yang nempel di otak begitu keluar dari gedung bioskop. Beda waktu gw nonton Up in the Air, Doctor Parnassus, dan The Ghost Writer yang juga termasuk kategori film ‘cerdas’, The Men ga meninggalkan kesan setelah keluar dari gedung bioskop. Bahkan dialog Cassady dan Bob ketika ditawan, yang sebenarnya inspiratif ga mampu gw ingat karena terlanjur bingung dan bosan.

Meski mungkin gw ga cukup cerdas untuk menikmati dan memahami komedi satir ini, The Men Who Staring at Goats cukup layak ditonton karena casting dan keunikan ceritanya.Tonton kalau ada waktu tapi terlewatkan juga ga rugi. By the way, si kambing yang merupakan eksperimen percobaan tentara cenayang ini mendapat kehormatan berpose di poster film bareng empat bintang utamanya.Inilah salah satu unsur komedi selain sebutan Jedi untuk anggota Pasukan Dunia Baru.

Advertisements
Categories: Movies

Date Night

April 27, 2010 Leave a comment

Pasangan suami-istri Phil dan Claire Foster (Steve Carell dan Tina Fey) mencoba membangkitkan romantisme yang pernikahan mereka yang luntur karen a rutinitas pekerjaan dan rumah tangga. Phil yang ingin kecan rutin mereka terasa istimewa pun mengajak Claire makan malam di The Claw, restoran mahal di Manhattan. Masalah bermulai ketika mereka tidak mendapat meja tapi Phil ngotot untuk tinggal dan mengambil pesanan meja atas nama pasangan Tripplehorn (James Franco dan Mila Kunis). Karena mencatut nama inilah pasangan Foster pun terlibat masalah dikejar anak buah Joe Miletto (Ray Liotta) yang menginginkan flash disk berisi rahasia yang digunakan untuk memeras kliennya. Phil dan Claire meminta bantuan pada Holbrooke Grant (Mark Wahlberg), ahli masalah keamanan yang merupakan klien Claire. Pasangan suami istri biasa yang hanya mencari romantisme pun berpetualang dikejar-kejar penjahat dan polisi korup.

Gw berharap banyak pada Date Night, dan ga kecewa. Steve Carell dan Tina Fey berhasil menghidupkan kepanikan “orang biasa” yang terjebak dalam “situsasi yang tidak biasa”. Bagaimana di tengah kepanikan mencari flash disk, terselip masalah rumah tangga mereka, dari hal yang remeh seperti Phil yang selalu lupa menutup laci sampai kekhawatiran akan perceraian. Kelucuan pun tidak bertumpu pada adegan slapstick dan dialog tapi juga karakter-karakternya. Seperti Holbrooke yang, selama film ini, selalu bertelanjang dada yang mungkin merasa PD dengan badannya yang bagus. Atau Phil dan Claire yang membuat lelucon tentang pasangan-pasangan yang mereka lihat di restoran

Adegan-adegan yang paling bikin gw ketawa adalah waktu mobil Phil dan Tina nabrak taksi dan ketika mereka di klub striptease untuk menemui Jaksa yang menjadi subyek pemerasan Miletto. Asli lucu banget pas mereka pertama-tama berusaha nge-dance mesum. Tina Fey adalah aktris yang lebih banyak sebagai penulis dan produser ini memang ga terkenal di Indonesia but I consider myself as her fan after I watched Date Night. Untuk Steve Carell, gw lebih suka penampilannya di film ini daripada di Get Smart .Well enjoy the movie and pay attention pada adegan-adegan yang gw sebutkan tadi.

Categories: Movies

When friendships go bad

April 24, 2010 6 comments

Friends Forever.

Tidak ada orang bisa hidup tanpa teman, khususnya sahabat. Ungkapan sahabat adalah keluarga yang kita pilih adalah benar adanya. Gw kenal seseorang yang ga bisa hidup tanpa pacar. Pokoknya meski cuma pacaran beberapa minggu, setiap putus dia ga pernah kosong karena selalu ada yang menemani. Later I know, buat dia pacar adalah sahabat. Dia selalu bilang, ‘saya ga pernah punya sahabat. Pacar saya adalah sahabat saya’. Itu menunjukkan pentingnya sahabat yang bisa hadir dalam wujud teman, pacar, saudara, orangtua, apapun statusnya. Ga ada yang bisa bertahan tanpa teman dan sahabat seindividualis apapun kita.

Friends Forever.

Siapapun yang tidak setuju dengan kalimat sakti itu, berarti bukan teman yang baik. Kalimat yang kadang disertai dengan gambar beruang imut memegang hati ini, seolah turut membakukan bahwa pertemanan akan selalu baik-baik saja dan tidak boleh putus. Kenyataannya tidak seperti itu. Pertemanan atau friendship, just like any other relationship, juga mengalami pasang surut dan memiliki “tombol on-off”. Pertemanan atau friendship, just like any other relationship, juga membutuhkan kecocokan, keterbukaan, dan bisa berubah. Hidup ini dinamis, tidak ada yang tidak berubah. Sifat seseorang berubah sehingga ada kalanya perubahan itu menimbulkan konflik. Kalau ga mau teman kita berubah, ya jangan berteman dengan manusia. Have a pet; a dog, cat, goldfish, or hamster. Ahah, itu mungkin alasan beberapa orang lebih memilih hidup menyendiri dengan binatang peliharaan ketimbang menghadapi pasang surut emosi orang lain dalam pertemanan.

Friends Forever.

Setelah mengalami sendiri pasang-surut pertemanan, gw udah ga merasa berdosa lagi setiap ga setuju dengan kalimat sakti itu. Ga perlu merasa bersalah juga ketika ga nyaman lagi dengan suatu pertemanan. Buat gw, pertemanan sama penting dan istimewanya dengan pacaran atau hubungan lainnya. Pertemanan atau persahabatan tidak kebal dari sakit hati, kecewa, dendam, dan posesif. Friendship is just like any other relationship yang kita ga perlu takut untuk menjauh di saat tidak nyaman sekaligus dihormati keistimewaannya. Menjadi teman yang baik dan memiliki teman yang baik mempunyai banyak wajah dan versi untuk ditunjukkan.

Categories: Random

The Ghost Writer

April 22, 2010 Leave a comment

Mantan Perdana Menteri Inggris, Adam Lang (Pierce Brosnan) mempekerjakan penulis untuk menyelesaikan memoarnya setelah penulis lamanya tewas tenggelam. Penulis tersebut atau The Ghost Writer (Ewan McGregor), yang memang namanya aslinya tidak pernah diberitahu, menemukan kejanggalan dalam pekerjaan barunya ini. Bayaran besar menghantarkan The Ghost pada konspirasi dan intrik politik Inggris dan Amerika. The Ghost pun berusaha mencari jawabannya yang ternyata melibatkan istri Lang, Ruth (Olivia Williams) dan temannya, Prof. Paul Emmett (Tom Wilkinson) yang diduga sebagai agen CIA.

The Ghost Writer diadaptasi dari novel karya Robert Harris, dengan judul yang sama dan disutradarai oleh Roman Polanski. Meski mengangkat tema yang cukup berat yaitu konspirasi politik, film bergenre thriller ini tidak terasa membosankan dan berat. Justru terasa menyenangkan, thanks to Roman Polanski dan Robert Haris. Konon, karakter pasangan Lang yaitu Adam dan Ruth adalah potret dari Tony dan Cherie Blair, mantan PM Inggris.

Selain itu penampilan Kim Cattrall adalah salah satu kejutan juga. Pemeran Samantha di Sex and The City ini ternyata bisa juga membawakan karakter Amelia Bly yang serius dan profesional plus aksen Inggrisnya yang kental, kebalikan dari karakter Samantha, New Yorker yang genit. Amelia adalah asisten sekaligus selingkuhan Adam Lang. Karena nama asli The Ghost tidak pernah terungkap, maka Ewan McGregor menamainya sendiri:Gordon McFarquor.

Categories: Movies

Stephanides Brothers’ Greek Mythology

April 18, 2010 2 comments

My oh my! These are my favorite books ever: series of Stephanides Brothers’ Greek Mythology. Diceritakan ulang oleh Menelaos dan Yannis Stephanides, buku-buku ini terbagi ke dalam tiga seri dan 17 buku. Versi bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Dicky Komar dan Aris Munandar ini diterbitkan Pustaka Utama Grafiti di tahun 1991. Seri A: Dewa-dewa Olimpus bercerita tentang kelahiran dan riwayat 12 dewa utama Olimpus: Zeus, Hera, Afrodite, Apolo, Hermes, Demeter, Hades, Hefestus, Ares, Atena, Poseidon, dan Hestia serta para Titan penguasa dunia sebelum Zeus naik tahta. Seri B: Dewa dan Manusia berkisan tentang hubungan dewa dan manusia. Tahukah bahwa nama ‘Eropa’ berasal dari seorang gadis Asia (Timur)? Zeus menculik Eropa dan dibawa ke Yunani (Barat) untuk dinikahi. Sejak itu, suatu benua di barat menyandang namanya: Eropa. Atau penerbangan manusia pertama oleh Dedalus dan Ikarus yang menjalin bulu-bulu burung untuk melarikan diri dari labirin. Ada juga cerita tentang Pandora, seorang wanita yang membuka kotak terlarang hingga timbul bencana besar. Juga permintaan raja Midas pada dewa Dionisus agar semua yang disentuhnya menjadi emas. Seri C: Para Pahlawan menceritakan keberanian dan penaklukan besar Herakles, Teseus, Perseus, Jason, Akhiles dan Odisius. Dari 12 karya penaklukan Herakles sampai kisah perang Troya yang terkenal.

Tentang mitologi

Jauh di masa lampau, manusia tak ubahnya anak kecil yang menyukai cerita dongeng. Pada zaman itu manusia sama sekali tidak berdaya menghadapi kekuatan alam yang dahsyat, sehingga hidup mereka sangat sulit. Kekuatan-kekuatan hebat penyebab bencana sekaligus membuat kagum, adalah teka-teki kehidupan yang membuat manusia mencari penyebab kekuatan dan fenomena alam tersebut. Namun pengetahuan mereka yang masih sangat terbatas “kalah” oleh daya khayal yang kuat. Kekayaan imajinasi mereka melahirkan kisah-kisah indah yang menyentuh sekaligus mengungkapkan dalamnya kepedihan sebagai akibat dari sulitnya kehidupan mereka di bumi.

Demikianlah maka lahir mitos – dan mitologi.

Dalam catatan untuk pembaca, mitologi ini ditulis dengan tujuan menyediakan bagi anak-anak bahan bacaan yang mengandung pelajaran dan bersifat mendidik sekaligus mampu menanamkan kecintaan terhadap buku-buku bermutu dan menjauhkan dari materi yang dangkal. Well, it works for me. Mitologi Yunani sarat dengan pendidikan, dan karena ini buku anak-anak yang menekankan edukasi maka kata-kata dan ilustrasinya pun dipoles hingga sesuai dengan pembacanya. Dewa-dewa dalam mitologi Yunani digambarkan memiliki sifat yang sama dengan manusia, baik dalam kekurangan dan kelebihannya. Orang-orang kuno menciptakan dewa-dewa mereka dari realitas sehari-hari. Realitas, pada masa yang sulit itu, memang sering tidak adil.

Sesuai coretan tangan gw pada salah satu halaman judul, gw baca buku ini mulai dari kelas 6 SD. Gw inget waktu itu, beli buku harus ke Multi Media di proyek (area pertokoan Bekasi sebelum menjamurnya mal di deket rumah), belum ada Gramedia atau Gunung Agung di sekitar rumah. Buku mitologi Yunani ini harganya lumayan mahal untuk tahun 1991; Rp12.500. Setiap bokap gw beliin satu buku, keseluruhan ada 17 buku, rasanya lebih seneng daripada dibeliin mainan. Bahkan di saat gw nangis diomelin bokap, mendekap buku ini bisa menenangkan gw. Buku-buku ini adalah suatu kemewahan tersendiri buat gw.

Tidak hanya terpesona dengan ceritanya yang imajinatif, ilustrasi buku ini pun bikin gw enggan membalik halaman berikutnya dan berlama-lama melototin gambarnya. Berhubung gw suka menggambar juga, ada beberapa gambar yang gw jiplak pake kertas karbon saking sukanya sama gambar itu. Tapi karena bikin kotor dan jelek, jadi gw tiruin tanpa kertas karbon. Dari sinilah gw belajar menggambar orang dan memperhatikan detil gambar. Salah satu yang bikin ilustrasi buku-buku ini bagus, selain warnanya yang cerah, garis pinggir gambarnya berwarna putih bukan hitam seperti kebanyakan gambar atau ilustrasi buku cerita lainnya.

Categories: Books

The Book of Eli

April 18, 2010 Leave a comment

Dunia masa depan, setelah perang besar. Lapisan ozon yang rusak membuat tanaman tidak dapat hidup, gersang, membunuh banyak orang, dan membuat dunia kembali dalam keadaan barbar. Eli (Denzel Washington) berjalan kaki menuju barat untuk satu misi: menyerahkan buku (Injil) kepada yang berhak menerimanya. Eli mendapat halangan dari Carnegie (Gary Oldman) yang menginginkan Injil tersebut untuk mengendalikan pikiran orang. Carnegie berhasil membangun sebuah kota dan menjadi penguasa didalamnya. Dia pun melakukan segala cara untuk membuat Eli tinggal, termasuk mengumpankan anak tirinya, Solara (Mila Kunis). Solara yang terkesan dengan sikap Eli pun memilih pergi bersamanya ke barat sampai Carnegie berhasil melumpuhkan mereka. Pantang menyerah, Eli dan Solara pun berhasil sampai ke tempat tujuan mereka; penjara Alcatraz. Bekas penjara terkenal ini ternyata menjadi satu-satunya tempat penyimpanan hasil karya peradaban manusia. Di tempat inilah, Eli menceritakan ulang Injil yang dia baca setiap hari untuk disalin menjadi buku dan disimpan bersama kitab suci agama lain.

The Book of Eli berlatar pasca apocalypse (yang mungkin bisa disebut kiamat) di dunia Barat. Meski ide ceritanya tidak orisinil, gw inget Mad Max, Water World, The Road, dan sederet film lain yang mirip atau bertema serupa yaitu post-apocalypse, film garapan sutradara Albert Hughes ini tetap enak ditonton. Deskripsi bumi pasca perang besar, yang tampaknya adalah perang nuklir, yang gersang dan muram ditampilkan dengan baik. Selain action-nya, meski beberapa agak terlihat sadis. Secara keseluruhan, film ini cukup menghibur.

Categories: Movies

The Lovely Bones

April 13, 2010 Leave a comment

Pada usia 14 tahun, Susie Salmon (Saoirse Ronan) mengalami tragedi diperkosa dan dibunuh tetangganya, George Harvey (Stanley Tucci). Dari alam antara, yaitu alam antara bu mi dan surga, Susie menyaksikan konflik keluarganya karena kehilangan dirinya. Tragedi tersebut membuat hubungan orangtuanya, Abigail (Rachel Weisz) dan Jack (Mark Wahlberg), menjadi renggang. Susie pun menyaksikan keluarganya berusaha menyembuhkan kesedihan atas kehilangan dirinya.

Sutradara Peter Jackson mencoba menterjemahkan novel karya Alice Sebold ini ke dalam film. Hasilnya bagus, tapi akan lebih bagus kalau adegan-adegan Susie di alam antara yang imajinatif  dan penuh fantasi dikurangi dan lebih berfokus pada konflik keluarga Salmon dan Susie sendiri.Adegan yang mengingatkan gw sama Imaginarium of Doctor Parnassus. Kalau adegan-dengan imajinatif itu terasa pas di Doctor Parnassus yang memang film “aneh”, di The Lovely Bones porsinya terasa berlebih. Film ini juga mengingatkan sama I Know Who Killed Me-nya Lindsay Lohan. Ceritanya mirip tapi masih lebih bagus Lovely Bones.

Mengambil setting tahun 1970-an, The Lovely Bones cukup detil menyajikan setiap detilnya. Kedetilan lah yang menjadi nilai tambah untuk film ini, selain ide ceritanya. Harus baca bukunya nih, karena karakter Abigail digambarkan lebih kompleks dan egois di bukunya.

Categories: Movies