Archive

Archive for February, 2010

Passengers

February 26, 2010 Leave a comment

Claire Summers (Anne Hathaway) adalah seorang terapis yang mendapat tugas memulihkan para korban kecelakaan pesawat. Perbedaan pendapat tentang terjadinya kecelakaan dan menghilangnya para pasien secara misterius membuat Claire bingung. Claire yang mulai dekat dengan Eric (Patrick Wilson), salah satu pasiennya, pun berusaha menyelidiki kemungkinan terlibatnya maskapai penerbangan dengan menghilangnya para korban yang selamat. Pencarian Claire pun berujung pada fakta yang mengejutkan: bahwa sebenarnya semua penumpang sudah meninggal. There’s no survivor. Termasuk dirinya. Lalu apakah Eric juga sebenarnya sudah meninggal? Siapa sebenarnya Arkin yang awalnya adalah tersangka utama di balik hilangnya para korban? Siapa pula Toni, perempuan tua baik hati tetangga Claire? Jawabannya ada pada dua puluh menit terakhir film ini yang mengharukan sekaligus agak membingungkan.

Passenger jelas sebuah film drama, bukan thriller atau horor. If watch you this on DVD, skip to the last 20 mins then rewind from the beginning. Cerita yang lambat dan kurang berisi membuat film ini terasa membosankan. Berbeda, jika ingin menggunakan istilah lain. If you’re a fan of Twilight Zone dan sejenisnya, jenis film misteri dan aneh, you will enjoy this movie. Gw sendiri hanya menikmamati 20 menit terakhir yang menjadi kunci film ini. Sedih, haru, dan pertanyaan tuntas dijawab mulai dari Claire menemukan “fakta” bahwa semua pasiennya tidak nyata (alias hantu?) dan begitu juga dengan dirinya. Penjelasan pun datang dari Eric; bahwa masing-masing mereka ditunjukkan jalan untuk damai. Salah satu bagian yang menyedihkan adalah rencana kencan Eric dan Claire untuk berkencan selepas penerbangan maut tersebut. Best scene-nya adalah detik-detik menjelang kecelakaan ketika Eric menghibur Claire dengan bilang bahwa mereka akan selamat tapi nyatanya tidak.

Categories: Movies

Wild Wild West

February 26, 2010 Leave a comment

Categories: Games, Pet Society

14 Blades

February 21, 2010 Leave a comment

Mengambil setting pada zaman Dinasti Ming, kisah 14 Blades atau Gam Yee Wai, adalah tentang Qing Long (Donnie Yen) yang merupakan komandan pasukan elit kekaisaran bernama Jin Yi Wei. Akibat persekongkolan tingkat tinggi, Qing Long malah berbalik diburu oleh teman dan anak buahnya sampai ia harus menyewa jasa perlindungan. Petualangan Qing Long untuk merebut stempel kekaisaran agar tidak jatuh ke tangan yang salah pun dilalui bersama Qiao Hua (Wei Zhao), putri pemilik jasa perlindungan yang disewanya. Alih-alih sebagai tawanan, Qiao Hua pun jatuh cinta pada Qing Long dan bersama-sama menghadapi musuh yang tangguh; Tuo Tuo (Kate Tsui) dan Xuan Wu (Yu Wu Qi). Dengan bantuan Hakim Gurun (Chun Wu), Qing Long berhasil merebut stempel kekaisaran untuk dikembalikan kepada pihak yang benar dengan dibayar nyawanya sendiri.

Sayangnya empat belas pedang yang merupakan salah satu inti cerita tidak diceritakan banyak. Double subtitle Inggris-Indonesia masih jadi ganjalan sama kayak waktu nonton 3 Idiots. Selain double subtitle tadi, awal ceritanya pun agak membingungkan. Tapi kemudian terbayar dengan adegan perkelahian seru melalui koreografi yang apik. Romansa antara Qing Long dan Qiao Hua pun tidak berlebihan, cukup porsinya mengingat ini film laga.  Dari nama-nama tokoh dan setting cerita, kok mengingatkan gw sama serial silat tahun 90-an ya. Apa mungkin ini cerita yang sebenarnya sama tapi ada perubahan atau lain?

I was a big fan of martial art movie. Menonton 14 Blades membawa ingatan gw sama film-film kungfu layar lebar tahun 90-an. Beberapa serial kungfu dan film layar lebarnya gw tau. Adam Cheng dan Cynthia Khan adalah nama yang gw inget. Jadi gw cuku familiar dengan aktor Mandarin, terutama yang beken di tahun 90-an dan Donnie Yen adalah salah satunya. Donnie Yen memberikan penampilan terbaiknya dalam film yang disutradai Daniel Lee ini.

Categories: Movies

The Wolfman

February 20, 2010 Leave a comment

Lawrence Talbot (Benicio Del Toro) adalah aktor teater yang tinggal Amerika, pulang ke Inggris karena kematian adiknya, Ben. Ben ditemukan tewas mengenaskan dicabik-cabik binatang buas. Tuduhan pun mengarah pada kelompok Gipsi. Lawrence pun menyelidiki ke perkemahan Gipsi ketika manusia serigala menyerang dan menggigitnya. Gigitan tersebut lah yang membuat Lawrence diburu karena diyakini akan berubah menjadi manusia serigala yang membahayakan penduduk desa. John Talbott (Anthony Hopkins), ayahnya, pun membelanya sehingga Lawrence tidak jadi ditangkap oleh penduduk desa dan membunuh banyak orang pada malam bulan purnama ketika ia berubah menjadi manusia serigala. Pihak yang memburu Lawrence pun bertambah dengan hadirnya detektif Scotland Yard, Francis Abberline (Hugo Weaving). Lawrence pun tertangkap, dikurung, dan disiksa di rumah sakit jiwa sampai ia berubah pada bulan purnama berikutnya, hingga berhasil melarikan diri dan dilindungi Gwen Conliffe (Emily Blunt), tunangan Ben. Lawrence mengetahui fakta bahwa ayahnya juga seorang manusia serigala dan membunuh ibu dan adiknya. Ia pun kembali ke Talbot Hall untuk menuntut balas dan menghentikan kebrutalan ayahnya.

Film garapan sutradara Joe Johnston berhasil membangun suasana kelam dan tegang melalui warna-warna gelap, make-up, dan spesial efek saat manusia serigala berubah, beraksi, dan klimaks duel ayah dan anak yaitu Lawrence dan John Talbot. Sayang ceritanya kurang berisi. Akhir cerita tanpa adegan penutup yang layak. Setelah Lawrence ditembak mati Gwen, cerita langsung berakhir. Mungkin akan lebih bagus kalau ada adegan penutup oleh Gwen atau Inspektur Abberline yang menceritakan akhir dari keluarga Talbot atau manusia serigala. Dari adegan yang tampak kurang tuntas dan digigitnya Abberline, kok gw merasa bakal ada sekuel ya? Kita lihat saja nanti.

Categories: Movies

Valentine’s Day

February 20, 2010 Leave a comment

Valentine’s Day menyajikan beberapa cerita cinta dalam satu hari penuh pada tanggal 14 Februari. Sepasang sahabat, Julia (Jennifer Garner) dan Reese (Ashton Kutcher) yang awalnya bahagia menyambut hari Valentine malah dikecewakan pasangannya masing-masing. Tunangan Reese, Morley (Jessica Alba) memutuskan hubungan karena merasa belum siap menikah sedangkan Harrison (Patrick Dempsey) adalah kekasih Julia ternyata masih terikat pernikahan yang bahagia. Ada juga Jason (Topher Grace) yang berusaha menerima keadaan pacarnya, Liz (Anne Hathaway) yang berprofesi sampingan sebagai penghibur layanan telepon mesum. Dua pasangan remaja; Grace (Emma Roberts) dan Alex (Carter Jenkins) mencoba untuk berhubungan seks untuk pertamakali, dan pasangan Willy (Taylor Lautner) dan Felicia (Taylor Swift) saling memberi kado. Pasangan manula Edgar (Hector Elizondo) dan Estelle (Shirley MacLaine) juga tidak ketinggalan “meramaikan” romantika hari kasih sayang dengan terbukanya perselingkuhan lama tapi kemudian saling memaafkan. Pasangan gay Sean Jackson (Eric Dane) dan Holden (Bradley Cooper) bikin gw nangis karena kenapa juga mahluk-mahluk ganteng ini jadi pasangan homo. Jika banyak orang antusias menyambut hari Valentine dengan penuh cinta, tidak halnya dengan Kara (Jessica Biel) yang justru membuat pesta ‘I Hate Valentine’s Day’ lengkap dengan ritual memukul pinata berbentuk hati. Sampai Kara bertemu dan jatuh cinta dengan Kelvin (Jamie Foxx). Gw suka banget adegan Julia mukulin pinata sampe ancur. Selain percintaan beda jenis dan sejenis (oh!), ada juga cerita Kapten Kate Hazeltine (Julia Roberts) yang sangat jarang bertemu anaknya Edison (Bryce Robinson). Kate yang berkenalan dengan Holden di pesawat yang akhirnya membantunya memberi tumpangan mobil.

Valentine’s Day benar-benar memanfaatkan hari kasih sayang sebagai temanya. Warna pink, bunga, dan adegan mesra pun bertabur dengan royal sepanjang dua jam. Sebagai film yang mengusung suatu tema, film ini berhasil dengan detil bunga dan warna pink, sebagai khas dari Hari Valentine, tapi selebihnya tidak ada yang bisa dibilang bagus. Dibanding dua film lain yang mengusung cara serupa, beberapa cerita dalam satu film, yaitu Love Actually dan He’s Just Not That Into You, Valentine ‘s Day tidak terasa istimewa meski didukung aktor dan aktris yang oke banget kayak Julia Roberts dan Patrick Dempsey.

Categories: Movies

City Street

February 15, 2010 Leave a comment

Categories: Games, Pet Society

My Name Is Khan

February 15, 2010 Leave a comment

“My name is Khan, and I’m not a terrorist”, adalah sebaris kalimat yang harus disampaikan Rizwan Khan (Shah Rukh Khan) kepada rakyat dan presiden Amerika agar Mandira (Kajol) menerimanya kembali. Meski terlahir sebagai penderita sindrom Asperger, semacam autis, Rizwan tidak pernah merasa memiliki keterbatasan ketika ia ikut adiknya tinggal di Amerika. Rizwan bekerja sebagai penjual kosmetik dan bertemu Mandira, pemilik salon yang memiliki putra; Sameer (Yuvan Makaar). Rizwan pun menikahi Mandira dan ketiganya hidup bahagia dan harmonis dengan tetangga mereka, keluarga Garrick. Kerukunan antar ras dan agama pun berantakan ketika peristiwa 9/11 yang menyebabkan orang Amerika (=Barat) menjadi curiga, takut, dan memusuhi segala sesuatu dan mendekati tentang Islam dan muslim. Orang-orang India terkena imbasnya karena secara fisik mereka mirip dengan orang Arab dan banyak yang memeluk Islam, seperti Rizwan. Puncaknya adalah ketika Sameer meninggal karena dianiya teman-teman sekolahnya, dan Mandira menyalahkan Rizwan. Bahwa seandainya Sam tidak mengubah nama belakangnya menjadi ‘Khan’ yang identik dengan nama Islam, maka Sam tidak akan jadi dimusuhi temannya. Mandira yang marah pun mengusir Rizwan dan akan menerimanya kembali jika sudah bertemu presiden Amerika dan mengatakan; “my name is Khan, and I’m not a terrorist”. Khan pun berkelana hampir berkeliling Amerika untuk bertemu presiden dan orang-orang untuk mengatakan sebaris kalimat itu demi Sam dan Mandira.

My Name is Khan memang mengesankan di bagian awalnya. Tentang kehidupan Rizwan kecil sampai remaja, ibu Rizwan yang bijak sampai pada pertemuannya dengan Mandira. Sayangnya, cerita mulai terasa dipaksakan di bagaian akhir; Rizwan menolong korban badai di Georgia dan akhirnya bertemu presiden Obama di sana. Pada bagian ini cerita seolah dipanjang-panjangkan dan klise khas film India yang menonjol terasa membosankan. Belum lagi di sana-sini terselip orang India yang jadi terasa kurang terasa bahwa setting cerita ini adalah di Amerika. Padahal, kalau saja cerita berhenti setelah tewasnya Sam atau bertemu dengan presiden ditiadakan, film ini akan terasa lebih realistis dan menyentuh. Secara keseluruhan, film ini lumayan berhasil menyampaikan pesan tentang Islam, atau setidaknya mencuri perhatian orang untuk mendengar pesan, dari India, tentang Islam dan toleransi antar ras dan agama.

Gw berharap sangat banyak pada film ini untuk memberikan pesan pada dua pihak; pembenci Islam dan umat Islam yang menjadi teroris. Untuk para pembenci Islam: bahwa Islam bukan agama yang didasarkan pada kekerasan, yang salah bukan agamanya tapi orangnya. Bahwa dampak pahit tragedi 9/11 bukan hanya dirasakan para korban dan non muslim tapi juga muslim itu sendiri yang tidak bersalah dan tidak berhubungan dengan para teroris. Sedangkan pesan untuk para teroris, meski sia-sia; please stop!! Citra Islam yang terlanjur identik dengan teroris, teror, kekerasan, dan darah melekat kepada semua muslim. Perbuatan segelintir orang pun ditanggung seluruh umat.

Categories: Movies