Archive

Archive for January, 2010

Legion

January 31, 2010 Leave a comment

Ketika Tuhan kecewa pada umat manusia, Dia mengirimkan banjir besar. Ketika kali ini kecewa lagi, Dia mengirimkan pasukan malaikat yang merasuk ke dalam manusia untuk memusnahkan umat manusia itu sendiri. Malaikat Michael yang tidak setuju pun membangkang turun ke bumi, memotong sayapnya, dan bersama segelintir orang melindungi seorang gadis hamil yang anaknya kelak akan menjadi juru selamat. Michael (Paul Bettany) melindungi Charlie (Adrianne Palicki), si gadis hamil yang hanya pelayan restoran bersama-sama dengan Jeep (Lucas Black), pemuda yang mencintai Charlie, ayah Jeep (Dennis Quaid), dan beberapa orang yang terjebak di restoran mereka yang “kebetulan” bernama Paradise Falls.

Meski sarat dengan nilai-nilai Kristen, film ini justru dianggap anti-Kristen karena melenceng dari Injil. Anyway, cerita Legion sangat mirip dengan Terminator, yaitu tentang penyelamatan bayi yang belum lahir karena diyakini bayi tersebut akan menyelamatkan dan membawa harapan manusia dari kepunahan. Apa ya yang bikin Legion kurang menarik? Awal film yang berjalan agak lambat, sedikit membuat bosan. Adegan Michael dan Gabriel sebelum memulai pertarungan yang bikin sedikit jengah karena terlalu mesra, it looks like they’re going to make out. Hahaha. Plot ceritanya juga kurang berkembang, jadi jatuhnya kayak film action tanpa embel-embel “malaikat” yang menjadi daya tarik utama film ini. Sebenarnya Legion punya potensi untuk lebih menarik dan seru, bahkan ending-nya pun sudah disiapkan untuk sekuel.

Categories: Movies

Bondi Beach and Bagpipe

January 31, 2010 Leave a comment

Categories: Games, Pet Society

Nine

January 24, 2010 1 comment

Film musikal Nine bersetting Itali tahun 1960-an berfokus pada Guido Contini (Daniel Day-Lewis) dan perempuan-perempuan dalam hidupnya: istrinya; Luisa (Marion Cotillard), wanita simpanannya; Carla (Penelope Cruz), sumber inspirasinya Claudia Jenssen (Nicole Kidman), teman kerjanya; Lilli (Judi Dench), jurnalis majalah Vogue; Stephanie (Kate Hudson), ibunya (Sophia Loren), dan pelacur dari pengalaman masa kecilnya; Saraghina (Fergie). Guido yang dikenal sebagai sutradara sukses sedang mengalami kesulitan mencari inspirasi untuk film terbarunya, Italia, yang bahkan naskahnya belum ditulis samasekali karena kebuntuannya. Guido pun berusaha mencari penghiburan dengan Carla di tengah masalah rumahtangganya dengan Luisa. Cerita pun bergulir sampai Guido bertengkar dengan Luisa dan Carla, usaha Lilli memberikan semangat, kedatangan Claudia yang sia-sia padahal diharapkan bisa menjadi inspirasi Guido, rayuan Stephanie, kerinduan akan ibunya, dan ingatan tentang Saraghina di masa kecilnya. Sampai akhirnya Guido menyerah dan mengakui bahwa tidak ada film yang akan dibuat. Akhir cerita diceritakan dengan kembalinya Guido membuat film setelah dua tahun menghilang dan menyendiri, setelah disemangati Lilli.

Bertabur bintang papan atas Hollywood dan memenanngkan berbagai penghargaan, film arahan Rob Marshall ini merupakan adaptasi dari film 8 1/2 karya sutradara Federico Fellini yang dibuat pada tahun 1963. Nine berisi gambar-gambar indah, lagu-lagu cantik, dan lustful scenes yang akan memaku dan memukau penontonnya selama hampir dua jam. Penelope Cruz melalui lagu A Call from the Vatican dan Fergie dengan lagu Be Italian-nya tampil seksi dan memukau. Kate Hudson tampil energik dengan lagu Cinema Italiano kontras dengan penampilan Marion Cotillard melalui My Husband Makes Movies dan Take It All yang merupakan ekspresi kekecewaan seorang istri setia. Not to mention Judi Dench menyanyikan Folies Bergere yang meriah atau Sophia Loren dengan Guarda La Luna yang menggambarkan hubungan Guido yang sangat dekat dengan ibunya.

Categories: Movies

New York, I Love You

January 24, 2010 Leave a comment

New York I Love You merupakan kumpulan atau antologi sembilan film pendek karya sembilan sutradara tentang cerita cinta bersetting di New York. Produser New York sama dengan yang membuat film serupa, Paris, je t’aime di tahun 2006. Cerita pertama tentang pencopet (Hayden Christensen) yang kena batunya dikerjai oleh seorang dosen (Andy Garcia) gara-gara si pencopet tertarik pada pacar gelap sang dosen (Rachel Bilson). Urutan cerita-cerita berikutnya gw ga terlalu hafal. Ada cerita yang wajar, lucu, bahkan aneh. Momen manis terdapat dalam segmen yang disutradarai Shunji Iwai yang bercerita tentang komposer musik David (Orlando Bloom) yang mendapat tugas membaca buku. David kemudian dibantu oleh Camille (Christina Ricci) yang selama ini hanya dikenal melalui telepon untuk urusan pekerjaannya. Momen ketika mereka bertemu langsung melalui telepon sampai Camille di depan pintu apartemen David.

Menonton New York, I Love You serasa menikmati makanan dengan berbagai bumbu; lucu, aneh, ajaib, membingungkan sekaligus menarik meski kurang satu bumbu: mengharukan. Bahkan cerita tentang pasangan manula Abe dan Mitzie atau ayah-anak yang berbeda ras pun belum mampu bikin terharu. Gw mendapat kesan bahwa unsur cinta= seks lebih banyak dimainkan. Sayangnya gw ga bisa bandingin dengan Paris, Je T’aime yang katanya lebih bagus dibanding New York, I Love You. Cerita lain yang mengena adalah segmen sutradara Brett Ratner tentang anak SMU culun (Anton Yelchin) yang “dikerjai” seorang aktris (Olivia Thirlby). Cerita aneh dan menggantung ada di segmen sutradara Shekhar Kapur tentang penyanyi paruh baya (Julie Christie) yang menjadi penyebab kematian seorang pelayan cacat (Shia LaBeouf).

Tapi yang pasti, tahun 2010 giliran Shanghai yang akan dipotret dalam Shanghai, I Love You. Bener kan ini jatohnya jadi franchise; City of Love Franchise. Waktu gw nulis komen di FB tentang film ini; “….menunggu Jakarta, I Love You”, kata temen gw udah ada versi Indonesianya berjudul Cinta Setaman di akhir 2008. Wah maap nih kurang tau kalo soal film Indonesia, abis bukannya masih trend pocong dan komedi cabul ya?! Tapi sekarang udah banyak yang bagus kok, Rumah Dara katanya bagus tapi gw urung nonton karena ga suka film horor. Hehehe.

Categories: Movies

Lolita (Vladimir Nabokov)

January 19, 2010 Leave a comment

Lolita berkisah tentang jalinan cinta antara Profesor HH dengan anak tirinya, Lolita alias Dolores Haze. Prof. HH alias Humbert Humbert adalah seorang Inggris terpelajar, seorang ahli sastra Prancis. Namun di balik intelektualitas dan pesonanya, HH adalah seorang penderita pedofilia. Objek cintanya adalah Lolita yang HH cintai sejak pertamakali melihatnya ketika Lolita masih sangat belia. Demi berdekatan dengan Lo, Humbert menikahi ibunya, Charlotte. Setelah Charlotte meninggal dalam kecelakaan, Humbert mengajak Lolita berkeliling Amerika dengan segala suka duka cinta yang aneh dan rumit ini.

Petualangan pasangan beda generasi ini berakhir ketika Lolita sakit dan menghilang dari cengkraman Humbert. Bertahun-tahun kemudian, Humbert menemukan Lolita yang sedang hamil dan sudah menikah. Humbert pun berang terhadap orang yang melarikan Lolita dari dirinya dulu dan memutuskan untuk membunuh orang tersebut, Clare Quilty.

Alasan gw beli buku ini adalah kalimat review dari Time yang tercantum di sampul: “Satu dari tiga novel paling berpengaruh di dunia”. Ternyata, terjemahannya bahasa Indonesianya ga bagus. Mengingat Humbert alias HH adalah seorang ahli sastra dan menulis dalam gaya sastra asing (bukan bahasa Indonesia), maka mungkin sulit menerjemahkannya dengan “seindah aslinya”, yaitu dalam bahasa Inggris. Untaian kata-kata indah sang profesor pada akhirnya hanya menambah kebingungan akan rumitnya isi kepala seorang penderita pedofilia.

Meski kurang menikmati karena terjemahan yang tidak enak dibaca, tapi Lolita bisa memberi gambaran tentang isi kepala pedofilia. Humbert memiliki latar belakang tentang kekasih masa kecilnya yang meninggal sehingga menimbulkan trauma tersendiri. Suatu percintaan yang tidak tuntas sehingga Humbert selalu mencari dan selalu menemukan cinta dalam sosok gadis-gadis belia, atau ‘nymph’ demikian Humbert menjuluki gadis-gadis belia yang menarik perhatiannya.

Lolita pernah dua kali difilmkan, yaitu pada tahun 1962 dan 1997. Versi pertama, tahun 1962 dibesut oleh sutradara Stanley Kubrick, sedangkan versi tahun 1997 disutradarai oleh Adrian Lyne dengan Jeremy Irons sebagai Humbert. Gw udah liat kedua trailer film tersebut, dan Jeremy Irons lebih cocok mewakili sosok luar Humbert yang charming ketimbang James Mason di versi tahun 1962.

Categories: Books

The Spy Next Door

January 19, 2010 Leave a comment

Bob Ho (Jackie Chan) adalah seorang agen rahasia internasional, mendapat tugas “berat”, yaitu menjaga ketiga anak kekasihnya, Gillian (Amber Valetta). Ketiga anak tersebut; Farren, Ian, dan Nora tidak suka pada Bob yang berpacaran dengan ibu mereka pun berusaha menyulitkan Bob dengan berbagai cara. Sampai suatu saat Bob harus berhadapan dengan gerombolan Poldark, penjahat asal Rusia yang memliki virus mematikan. Kedekatan dan keakraban Bob dengan anak-anak Gillian semakin erat dalam usaha menghadapi Poldark.

Cerita The Spy Next Door sangat mirip dengan The Pacifier yang dibintangi Vin Diesel. Bedanya “hanya” Vin Diesel sebagai Shane Wolf , seorang marinir, sedangkan Jacky Chan sebagai Bob Ho, seorang mata-mata. Tapi keduanya sama-sama jago bela diri yang tangguh dan harus mendapati bahwa menjaga anak-anak lebih sulit daripada berkelahi melawan penjahat.Kebalikan dari The Pacifier yang enak dinikmati, tapi tidak dengan The Spy Next Door. Jacky Chan yang lucu dan seharusnya lucu malah menjadi tidak lucu. Vin Diesel difilmnya yang lain selalu tampil jadi jagoan yang serius hampir tanpa bumbu humor, sedangkan Jacky Chan memang selalu diiringi humor. Jadi begitu Vin Diesel berperan sebagai pengasuh anak-anak, kontrasnya terasa dan itu yang bikin greget. Sayang sekali Jacky Chan ngga berhasil bikin greget di film ini. Ditambah lagi stereotip penjahat Rusia yang lengkap dengan aksennya yang agak dipaksakan. Mbok ya kreatif gitu ya cari sosok penjahat. Oh ya satu lagi; Billy Ray Cyrus ngapain tampil di situ ya? Untung dia ga nyanyi one hit wonder-nya; Achy Breaky Heart dengan rambut mullet-nya, meski rambutnya masih terlihat aneh. Hehehe. Gaya berkelahi ala Jacky Chan yang seru dan humoris merupakan hal yang masih bisa dinikmati dari film ini.

Categories: Movies

Retro living room

January 18, 2010 2 comments

Which one is better?

Categories: Games, Pet Society