Archive

Archive for August, 2008

What’s next?

August 28, 2008 Leave a comment

Akhirnya alhamdulillah status gw jadi permanen. Seneng bgt donk udah bisa dapet cuti n perlu jaim2 lagi hihihihihihi. Tapi justru gw malah mikir gini; what’s next? cari kantor baru lagi? Hahahahahaha sinting kau mit. Kenapa ya, apa karena gw udah nemuin comfort zone n malah justru tertantang untuk mencari hal baru? *plakkk, tamparan untuk menyadarkan*. Atau sebenernya gw masih nyari yang sebenar-benarnya keinginan terdalam tentang pekerjaan? Sebenar-benarnya pekerjaan impian, sebenar-benarnya pekerjaan yang cocok, sebenar-benarnya bidang gw. Gw gatau. Hiks. Kalo soal bidang, gw udah suka tapi rutinitas kerjanya kadang kurang greget. Mikirnya kurang *gaya luuu sejutaaa*. Gw suka nulis, bikin konsep, riset. Bikin karya ilmiah kayak skripsi tuh sebenernya menyenangkan lho, dengan catatan ga ada deadline yang ketat ya. ohyah entahlah semoga diberi jalan yang lurus n benar.

Categories: Uncategorized

ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh

August 27, 2008 Leave a comment

ada apa minggu ini? dimulai dari hari senen malem, kartu atm gw dengan sukses ketelen. begitu sampe rumah denger kabar, si baba mesti dioperasi. blom ilang kaget n kesel soal kartu atm n cs bank yang susah bgt ditelpon bwt pemblokiran, harus pergi ke rs nganter si baba n harus langsung berunding mikirin duit buat oprasi.

hari selasa, ngurus kartu ke bank. ternyata sodara2, harus pake surat keterangan polisi. bener bgt harus, meski tu kartu ketelen mesin, bukan ilang, dicopet atau dijambret. pigilah gw ke polda n clingak clinguk n sempet maen pantomim sama bapak polisi di deket pos jaga. untung langsung dapet tuh surat n gw pura2 bego aja ga ngasih duit. mana gw liat polisi yang mirip sama si jus lagi hahahaha. yuk mareeeeee.
abis itu pulang, sempet tegang karena nunggu kabar kk gw soal duit, trus nemenin bokap, n sorenya ke rs lagi n nungguin sampe malem. trus sebelom tidur ternyata si sakit jiwa masih eksis neror gw dengan nomor baru. dahsyat! kagak matinya tu setan.

hari rabu. pagi2 pas nyalahin hp, sms aja donk dari si setan sakit jiwa itu, dengan 2 nomor yang berbeda. gw gatau mesti gimana lagi. ditambah lagi ada sms aneh dari cp di dirjen postel. trusss abis jenguk baba di rs pas nyebrang mau ke kantor, nyaris ketabrak mobil. gilaaaa cuma beberapa senti doank, wasalam deh gw pagi itu. emang sih pas nyebrang gw lagi bengong. siangnya ngomong ma daya ttg masalah yang kemaren. darrrrrr nangis aja kan gw plus numpahin es teh manis di emax. gw gatau yah kapan punya muka untuk balik ke situ hahahaha. gw pikir gw bisa misahin masalah ini n itu taunya ga. baru tengah minggu sih, jadi gw masih bertanya2,’besok ada apa lagi nih? another drama drama drama’. untung di tengah rentetan ngahihu itu, gw dapet kabar bae; status gw udah permanen. horay! alhamdulillah..ternyata ga ngaruh sama rambut gw yang kusyut n muke berminyak ini hahahahahaha.

Categories: Uncategorized

Mencari (siapa) kamu (?!)

August 18, 2008 Leave a comment

Mencari kamu. Ya, kamu yang menurut sebagian besar orang harus dicari dan ditemukan. Siapa kamu? Apa kamu memang ada? Siapa namamu? Seperti apa kamu? Di mana kamu sekarang? Apakah aku mengenalmu? Kapan dan di mana kita akan bertemu? Atau mungkin kita sudah pernah bertemu? Mengapa jalan begitu panjang untuk menemukanmu? Mengapa rencana untuk bersamamu tidak semudah merencanakan banyak hal yang lain? Haruskah mencari, atau hanya menanti? Apakah menemukanmu adalah suatu keharusan? Apakah suatu dosa atau azab jika tidak dapat menemukanmu? Apakah kebahagiaan hidup ini akan tidak sempurna tanpa kamu? Siapa kamu yang dapat membuat orang memandang cela padaku jika kita tidak bertemu? Membuat orang abai akan pencapaian-pencapaianku dan bahkan menuduhnya sebagai penghalang. Membuat orang sekelilingku memandang aneh dan terus menanyakan pertanyaan yang sama? Siapa kamu?! Siapa kamu yang begitu berkuasa atas separuh nilai diriku? Siapa kamu? Akankah aku diberi ketenangan hati jika tidak pernah menemukanmu? Apakah suatu kesalahan jika kita tidak akan pernah bertemu? Siapa kamu yang begitu berkuasa atas aku dan orang sekitarku? Siapa kamu yang konon dapat menjamin memberikan kebahagiaan sejati dan kelengkapan hidup? Siapa kamu? Siapa?

Categories: Uncategorized

DOKUMEN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN SEBAGAI KOLEKSI UTAMA PERPUSTAKAAN KONSULTAN HUKUM

August 18, 2008 Leave a comment

Potongan dari skripsi…

DEFINISI DOKUMEN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Dokumen peraturan perundang-undangan merupakan koleksi utama perpustakaan konsultan hukum atau perpustakaan bidang hukum lainnya. Koleksi ini bersifat unik karena penanganannya berbeda dari koleksi, seperti buku, pada umumnya.
Penulis akan mengutip dua definisi peraturan perundang-undangan, yaitu dari pakar ilmu perpustakaan Sulistyo Basuki dan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2004 pasal 1. Menurut Sulistyo-Basuki (2004, 28) “dokumen peraturan perundang-undangan termasuk ke dalam dokumen primer, yaitu jenis dokumen yang berisi informasi mengenai penelitian asli, mengenai aplikasi teori baru maupun penjelasan mengenai sebuah teori dalam semua disiplin ilmu”.
Sedangkan dalam Undang-undang nomor 10 tahun 2004 pasal 1, “Peraturan perundangan-undangan adalah peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum. Peraturan perundangan-undangan merupakan produk hukum dengan lembaga negara sebagai produsennya, baik tingkat pusat dan daerah”.

JENIS-JENIS DOKUMEN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Adapun jenis dokumen peraturan perundang-undangan menurut Maria Farida Indrati Suprapto (1998, 91 – 92) dibagi sebagai berikut:
A. Jenis peraturan perundang-undangan di tingkat pusat
B. Jenis peraturan perundang-undangan di tingkat daerah
C. Jenis peraturan dari zaman Hindia Belanda yang masih berlaku di Indonesia
D. Jenis peraturan dari zaman Orde Lama
Selain keempat jenis yang disebutkan di atas, dokumen yang tergolong ke dalam dokumen peraturan perundang-undangan adalah konvensi/perjanjian-perjanjian internasional.
Sedangkan jenis dan hirarkisnya dalam Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 pasal 7 adalah sebagai berikut;

BENTUK FISIK DOKUMEN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Bentuk fisik mempengaruhi proses pengadaannya, yang akan dibahas nanti. Terdapat dua bentuk fisik dasar dokumen peraturan perundang-undangan seperti dokumen pada umumnya; yaitu tercetak (hard copy) dan non-cetak (soft copy). Bentuk tercetak pun masih dibagi beberapa bagian;
1. Lembaran lepas berdasarkan per satu nomor peraturan perundang-undangan. Lembaran ini terbitan Sekretariat Negara.
2. Himpunan berbentuk buku yang terdiri dari beberapa peraturan perundang-undangan, baik dalam satu subjek maupun beberapa subjek.
3. Sebagai lampiran dalam buku dan makalah yang terdapat dalam buku teks, manual, bunga rampai, dan prosiding.
Sedangkan dokumen peraturan perundang-undangan yang non-cetak (soft copy) adalah dalam format yang diaplikasikan pada komputer.

Dokumen peraturan perundang-undangan dalam bentuk buku himpunan ini sudah dikomersialisasi karena diterbitkan oleh penerbit-penerbit swasta dan dijual secara bebas.

PENGADAAN DOKUMEN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Pengadaan peraturan perundang-undangan tidak terpaku pada pakem umum pengadaan perpustakaan; pembelian, hadiah, dan sumbangan. Selain ketiga cara yang biasa tersebut, dokumen peraturan perundang-undangan dapat juga diperoleh melalui fotokopi dan men-download dari internet.
Metode pengadaan setiap perpustakaan secara umum adalah sama, yaitu pembelian, hadiah, dan tukar menukar. Perbedaannya terdapat pada jenis bahan pustaka seperti buku, terbitan berseri, dan audio visual. Prosedur pengadaan dimulai dengan pemilihan judul-judul bahan pustaka yang akan diajukan, kemudian judul-judul tersebut diperiksa kembali untuk mengetahui apakah buku tersebut sudah dimiliki perpustakaan atau dipesan. Judul-judul yang telah diperiksa tadi kemudian dibuatkan desiderata atau daftar judul buku yang berisi judul-judul yang akan diadakan. Jika perpustakaan sewaktu-waktu memperoleh dana pembelian, prioritas pengadaan pada judul-judul yang terdapat pada desiderata. Selanjutnya adalah pemesanan yang dapat dilakukan melalui toko buku, penerbit, dan agen buku. Sedangkan pengadaan melalui hadiah atau pertukaran perlu dipertimbangkan juga kegunaan bahan pustaka yang didapat atau ditukarkan.
Pembelian dilakukan oleh pustakawan atau advokat dari toko buku atau langsung dari penerbitnya. Dokumen peraturan perundang-undangan ini biasanya berbentuk buku himpunan suatu subyek atau beberapa subyek. Namun, tidak semua dokumen peraturan perundang-undangan dijual dalam bentuk buku atau terbitan berseri. Dokumen peraturan perundang-undangan yang tidak dipublikasikan tersebut hanya terdapat di lembaga atau departemen yang bersangkutan. Misalnya, Keputusan Menteri yang bersifat internal. Dalam hal ini pustakawan dapat mencari ke BPHN, Sekretariat Negara, Bank Indonesia, atau departemen yang bersangkutan untuk memfotokopi dokumen peraturan perundang-undangan tersebut. Bentuk fisik dokumen peraturan perundang-undangan ini berupa lembaran lepas dan hanya boleh difotokopi di tempat. Dokumen peraturan perundang-undangan juga dapat di-download dari situs-situs web pemerintah seperti http://www.indonesia.go.id. Sedangkan tukar menukar yang dilakukan melalui jaringan atau kerjasama perpustakaan melalui mailing list Perpushukum-net. Mailing list ini beranggotakan pustakawan dan perpustakaan kantor konsultan hukum di Jakarta.

PENGOLAHAN DOKUMEN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN…

Categories: Uncategorized

Perpustakaan apartemen

August 18, 2008 Leave a comment

Artikel ini merupakan sekelumit tulisan tentang perpustakaan apartemen dengan mengambil The Pakubowono Residence Library, selanjutnya disingkat menjadi TPRL, sebagai objek pembahasannya.

The Pakubuwono Residence Library atau TPRL termasuk ke dalam salah satu fasilitas umum bersifat rekreatif (recreational facility) yang khusus diperuntukkan untuk penghuni The Pakubuwono Residence (TPR). Perpustakaan yang termasuk ke dalam lini Club and Recreational ini mulai beroperasi secara efektif sejak bulan Februari 2006. TPRL merupakan perpustakaan umum namun khusus. Dikatakan umum karena diperuntukkan untuk semua kalangan, baik dari segi umur dan tingkat pendidikan, sehingga koleksinya pun tidak menitikberatkan pada suatu subjek tertentu. Juga digolongkan khusus karena perpustakaan ini hanya boleh dimanfaatkan oleh penghuni TPR, dalam artian untuk menjadi anggota yang memiliki akses untuk meminjam buku dan fasilitas lain jika terdaftar sebagai anggota.

Salah satu yang unik dari perpustakaan ini adalah interiornya. Interior perpustakaan memiliki konsep ruang tamu yang terbuka dengan suasana nyaman dan santai. Area anak-anak menjadi salah satu daya tarik TPRL. Area yang berupa semacam panggung ini menjadi salah satu tempat yang paling ramai. Selain pemandangan indah keluar, perpustakaan ini menjadi satu dengan kafe Paprika sehingga pengunjung atau pemakai dapat membaca sekaligus bersantap. Satu hal lagi, keenam rak buku di TPRL dapat diputar 90 derajat sehingga membentuk ruangan multifungsi yang dapat digunakan untuk rapat atau acara lainnya. Akan tetapi di satu sisi, konsep terbuka dan kesatuannya dengan kafe membuatnya lebih rawan terhadap masalah kehilangan koleksi.

Kegiatan pokok perpustakaan
Pengadaan
Pengadaan didapat melalui dua cara; pembelian dan sumbangan. Pembelian dengan cara menyimpan contoh buku dari penerbit/toko buku khusus buku-buku impor. Penerbit mengirimkan contoh buku-buku untuk dipilih oleh pustakawan. TPRL menggunakan tiga toko buku, yaitu Java Books, Paperback, dan Gramedia. Java Books untuk pengadaan buku-buku dewasa bersubjek fiksi dan umum berbahasa Inggris, Paperback untuk buku anak, dan Gramedia untuk buku berbahasa Indonesia.
Sumbangan buku didapat dari penghuni TPR baik anggota maupun bukan anggota. Sumbangan yang didapat biasanya berupa berbagai jenis buku dan majalah. Sumbangan ini sangat membantu dalam pengadaan koleksi karena perpustakaan dapat banyak berhemat. Apalagi banyak buku sumbangan yang kondisinya masih sangat bagus.

Categories: Uncategorized

Pustakawan dan etiket

August 18, 2008 1 comment

Saya kembali teringat beberapa tahun yang lalu, sekitar tahun 2004, ketika masih bekerja di sebuah kantor konsultan hukum. Atasan saya mengadakan pelatihan kepribadian dengan mendatangkan seorang pelatih profesional dan bersertifikat. Pelatihan yang bertujuan bagus untuk mengajarkan etiket ternyata malah mendapat protes dari beberapa karyawan yang diharuskan ikut. Mereka tidak merasa perlu mendapat pelajaran tersebut dengan beralasan, “Kita juga tahu bagaimana caranya berjabat tangan dan tampil rapi. Jadi buat apa buang waktu datang di akhir pekan cuma buat pelatihan kayak gini”. Untuk sebagian orang belajar etiket secara resmi, berupa kursus atau pelatihan, dipandang tidak perlu karena merasa sudah memperolehnya melalui keluarga dan lingkungan sekitar.

Etiket adalah tata cara atau sopan santun yang berlaku dalam pergaulan antara individu/perorangan dalam masyarakat yang bersumber dari adat-istiadat (customs), kebiasaan (usage), dan otoritas. Hal-hal yang diatur dalam etiket meliputi kebersihan diri, cara berpakaian, cara bercakap-cakap, cara duduk, sikap di tempat-tempat umum, cara menjawab undangan, dan cara membalas undangan .

Mungkin karena sumber dan hal-hal yang diatur dalam etiket yang berasal dari adat-istiadat dan kebiasaan sehari-hari yang dekat dengan kita, maka kebanyakan orang menganggap remeh sehingga tidak merasa perlu belajar lagi. Memang, selama ini kita tentu sudah tahu bagaimana cara berjabat tangan atau berpakaian rapi. Tapi tahukah anda kalau berjabat tangan cara yang baik adalah dengan menggoyangkan tiga kali dengan tegas dan tangan digenggam erat? Atau… Hal-hal remeh seperti ini mungkin tidak diperhatikan karena tidak berpengaruh.

Tapi setelah sekitar satu tahun bekerja sebagai frontliner di sebuah apartemen, saya mulai menyadari betapa pentingnya etiket karena ternyata berpengaruh pada kepercayaan diri seseorang. Hal ini diungkapkan oleh Marsum Wijoyo Atmojo: ‘Karyawan, pemimpin, dan pejabat yang telah terampil, profesional dibidangnya namun kurang memiliki rasa percaya diri tentu akan menghambat kesuksesannya, baik untuk karir maupun pergaulannya secara luas bilamana ia menyadari bahwa ia belum dapat beretiket sebagaimana dengan mestinya’ .

Soal kepercayaan diri inilah mengingatkan pada profesi tercinta saya sebagai pustakawan. Bukan berita baru kalau banyak pustakawan yang tidak percaya diri. Hal yang terungkap dari pembahasan di buku, ruang kuliah sampai obrolan santai bersama teman-teman ini seolah menjadi penyakit mental yang sulit diberantas. Bahkan teman saya menjadikan masalah ini sebagai tema skripsinya, dan hasilnya menurut teman saya itu memang lebih banyak yang tidak percaya diri alias tidak PD sebagai seorang pustakawan.

Saya tidak bilang pustakawan tidak memiliki etiket, hanya saja memang bidangnya berbeda, akan tetapi tidak tertutup kemungkinan karena pelajaran etika dan courtesy secara formal dapat diperoleh melalui kursus atau pelatihan. Kalau selama ini kursus dan pelatihan untuk pustakawan lebih banyak kepada hal-hal yang bersifat teknis, mungkin ada baiknya sesekali membuat pelatihan tentang etiket atau semacamnya. Jadi ada keseimbangan antara kemampuan teknis dan kepribadian. Lagipula hanya profesi-profesi tertentu yang mengedepankan etiket sebagai syarat utama dalam bekerja, dan pustakawan bukan salah satunya.

Salah satunya adalah profesi hotelier di bidang jasa keramahtamahan (hospitality) yang merupakan bidang tempat saya bekerja sekarang. Hotelier adalah pekerja, terutama di Bagian Kantor Depan (front office), pada industri bidang jasa keramahtamahan seperti hotel, resor, apartemen, dan sebagainya. Pada industri ini, Bagian Kantor Depan adalah pekerjaan yang cenderung memiliki interaksi sosial yang tinggi. Dapat dikatakan bahwa setengah dari pekerjaan kantor depan hotel ialah berbicara, yang setengahnya lagi aktivitas kerja yang lain (administrasi). Karyawan bagian kantor depan hotel bukanlah karyawan yang bekerja duduk di meja kerja atau di depan komputer saja, tetapi juga harus mampu melakukan komunikasi antarpribadi secara suportif, efektif, dan terbuka .

Berdasarkan uraian tersebut, maka seorang frontliner harus memberikan pelayanan yang terbaik karena… dan berpengaruh pada citra perusahaan secara keseluruhan. Dalam rangka memberikan pelayanan yang prima terhadap pelanggan, etiket kerap disandingkan dengan courtesy. Courtesy adalah politeness of manners combined with kindness (kesopan-santunan atau tatakrama yang dikombinasikan dengan kebaikan hati) . Apabila etiket lebih kepada pengaturan fisik, maka courtesy pengaturan mental yang mendorong untuk mengembangkan sikap positif seperti yang terungkap pada poin-poin berikut ;
 Courtesy adalah inti dari pelayanan. Tujuan kita memberikan pelayanan adalah agar pelanggan merasa nyaman, berkesan, merasa disambut dengan baik, dihormati, diperhatikan, dan dimanusiakan.
 Courtesy dimulai dari sikap kita terhadap pekerjaan, pelanggan, atasan, dan rekan sekerja.
 Courtesy dapat diketahui dari sikap kita dalam melakukan pekerjaan kita. Adakah hasil ekstra yang diperoleh sebagai bukti bahwa kita benar-benar menyenangi, mencintai, dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan kita?
 Courtesy dimulai dengan senyum manis yang menjadi dasar utama dan pertama di saat menyambut kedatangan pelanggan sehingga mereka merasa diharapkan, dibutuhkan, dan disambut dengan baik.
 Biasakan untuk mempergunakan magic words (kata-kata ampuh) dalam percakapan, seperti kata maaf, silahkan, bolehkah saya bantu, dan sebagainya.
 Ciptakan courtesy di lingkungan pergaulan dengan teman sekerja sehingga tercipta suatu tim kerja yang kompak. Hal ini akan menimbulkan kesan baik bagi para pelanggan.

Berkaitan dengan bidang pekerjaan saya sekarang adalah bahwa saya menemukan banyak persamaan yang pada akhirnya bisa “dicontek” kemudian diterapkan pada kepustakawanan. Bidang pekerjaan saya termasuk ke dalam bidang jasa keramahtamahan (hospitality) yang pekerjanya kerap disebut hotelier. Meski bukan hotelier, saya tetap sebagai pustakawan, tetapi tetap mewajibkan saya untuk bersikap layaknya seorang hotelier. Hal ini karena saya berada di kantor depan (front office) karena melayani para penghuni apartemen yang menjadi pemakai perpustakaan saya.

Categories: Uncategorized

Perpustakaan sebagai nilai jual

August 18, 2008 Leave a comment

Smart home, learn from your own library. Bersamaan dengan kalimat ini ada foto dua orang anak yang lagi baca buku di kelilingi rak-rak buku yang padat dan penuh. Menurut saya iklan itu menarik karena itu untuk iklan apartemen. Jarang, bahkan mungkin belum ada apartemen yang punya perpustakaan. Perpustakaan memang belum jadi unit yang diutamakan atau diadakan di suatu organisasi, terutama organisasi bisnis yang profit oriented. Duh jauh-jauh deh karena yang namanya bagian perpustakaan memang tidak bisa diandalkan untuk menghasilkan keuntungan. Pada dasarnya perpustakaan dalam suatu organisasi ‘hanya’ sebagai sarana pendukung, ada yang di bawah bagian Litbang atau sebagai fasilitas rekreasi. Mungkin karena kurang menghasilkan itu tadi, makanya perpustakaan sering dianaktirikan, selain sederet image-nya juga kurang menyenangkan membuat perpustakaan jadi semakin asing buat kebanyakan orang.



Tapi di tengah lorong gelap yang menjadi jarak antara perpustakaan dan laba ini, ada satu titik terang yang samar untuk mempertemukan perpustakaan dan laba: perpustakaan bisa dijadikan sebagai salah satu nilai jual. Perpustakaan, meski identik dengan kutu buku, membosankan, dan kuno tapi tetap dianggap pintar dan untuk orang-orang pintar. Sederhananya; orang pintar baca buku atau kalau suka baca buku, biasanya orang pintar. Jadi, ada kalanya buku dan perpustakaan dianggap bergengsi karena image pintar tadi. Tambahan lagi, hanya orang kaya, terpelajar, dan pintar yang punya perpustakaan pribadi. No wonder, mengingat buku dan membaca sepertinya menjadi kebutuhan tertier untuk kebanyakan orang Indonesia.

Mengapa perpustakaan dapat menjadi nilai jual? Memang tidak secara langsung dapat meningkatkan laba, tapi ‘punya-perpustakaan’ dapat membangun imagelawyer di depan rak buku. Apapun tujuan mereka mengikutsertakan perpustakaan sebagai bagian yang patut dipromosikan, saya senang karena saya anggap hal tersebut sebagai salah satu bentuk penghargaan terhadap perpustakaan. Apalagi firma hukum tadi bukan firma hukum yang besar dan termasuk dalam peringkat top ten. Bahkan saya pernah membuka situs web firma hukum yang tergolong besar, meski mereka punya perpustakaan yang lebih baik kondisinya, tapi tidak diikutsertakan dalam promosi badan usaha mereka. pintar tadi yang tertujukan pada orang-orang tertentu. Contohnya iklan apartemen tadi. Contoh lain adalah situs web sebuah firma hukum. Menurut saya, situsnya biasa saja baik tampilan dan informasinya kurang menarik. Tapi saya senang terhadap situs itu karena ‘memajang’ foto perpustakaan dan mengikutsertakan perpustakaan sebagai bagian promosi kantor mereka. Pada fasilitas ada ‘Perpustakaan’ yang menampilkan dua orang

(unfinished)

Categories: Uncategorized