Archive

Archive for February, 2007

What do you think about this picture?

February 25, 2007 1 comment
What do you think about this picture?

From JJK’s cover, January edition. From a 1930s songbook.

Advertisements
Categories: Uncategorized

No comment

February 25, 2007 Leave a comment

No comment tentang foto itu ah. Itu cuma foto dan cerita itu sudah jadi masa lalu. Dia punya hak untuk marah atau kesal, kalau memang iya tapi gw juga punya hak. Dia sudah menjadikan semuanya masa lalu, gw juga. Itu sebabnya gw, tanpa beban, memasang foto itu dimanapun gw mau. Lagipula selama ini ga ada yang usil berlebihan. I am the owner of my past.

Categories: Uncategorized

Menanti sebuah pertanyaan

February 25, 2007 1 comment
Menanti pertanyaan, sampai kapan? Akankah ditanyakan atau tidak? Perlukah ditetapkan batas waktunya? Kalau pun memang ditanyakan apa jawabannya? Rasa sejati atau hanya sekedar ego? Betul-betul pengharapan atau hanya penasaran? Seberapa penting pertanyaan ini? Haruskan pertanyaan ini ditanyakan? Ini pertanyaan atau permintaan? Lihat saja nanti. Until my birthday then…? Until my birthday. We will see, until my birthday.
Categories: Uncategorized

Males

February 25, 2007 Leave a comment

Males bangun tidur.
Males jalan.
Males ngantor.
Males kerja.
Males tegoran.
Males ngobrol.
Males basa basi.
Males.

Gw cuma pengen ngunci mulut gw n melakukan semua dengan muka datar tanpa ekspresi.

O I Wish.

Categories: Uncategorized

Red shoes

February 18, 2007 Leave a comment

Beautiful red shoes takes me fly to the moon
Let me stay there, playing and dancing alone
Red shoes, my beautiful red shoes
Made by the beautiful elves special for me
My beautiful red shoes you are so shiny

menunggu hujan dan jam pulang, 6.48 pm.
Categories: Uncategorized

Kamu, J

February 18, 2007 Leave a comment

Dari hari-hari yang paling cerah sampai badai sepanjang tahun dengan seribu satu kata dari suatu hari di bulan Oktober 2004 sampai hari ini, cerita ini akan terus berlalu membuat episode-episode dalam rangkaian evolusi hati.

Kamu, J yang tidak pernah bisa menjadi biasa karena luar biasa, di luar ke’biasa’an. Semua tentang J yang tidak akan menguap hilang di udara, baik yang lalu, sekarang, atau ke depan nanti sekalipun karena J adalah J dengan semua dan segala tentang dia. J tidak akan hilang.

Sedang berpikir kamu sekarang J? Tentang kita yang sekarang dan akan datang. Bukan yang lalu.

Masih mau mencoba bila ada kesempatan kedua? Mungkin kesempatan kedua yang datang sekarang menjadi akhir, atau justru awal? Bagaimana kita mempergunakan saat ini? Apa pilihannya? Apa kita ambil sesuatu yang saling kita tawarkan walau dalam ragu dan masa depan tiada terlihat matahari? Ragu karena yang satu itu? Yang ‘satu’ itu saja, yang lain tidak. Saya, ya. Kamu?

Categories: Uncategorized

Poor YOU

February 18, 2007 Leave a comment
Artikel ini gw dapet dari salah satu milis, yang isinya melegakan hati dan membantu memahami beberapa hal. Udah ga gitu down karena ternyata dia memang musuh semua orang. Kasian. Terbukti klo bukan gw yang bermasalah.

GAJI BESAR BUKAN SEGALANYA

Mengapa perputaran karyawan tinggi walaupun remunerasinya di atas rata-rata? Uangkah pemicunya? Atau ada faktor lain yang menentukan kesetiaan mereka? Akhir tahun lalu, Lesmana, seorang teman lama yang ahli dalam pengembangan bisnis telekomunikasi mendapatkan tawaran dari sebuah perusahaan multinasional untuk mengembangkan bisnisnya di Indonesia . Dia tertarik dan memutuskan untuk bergabung. Dia telah banyak mendengar tentang pimpinan perusahaan ini, yangsering diberitakan sebagai pemimpin visionaris dan legendaris.Gaji Lesmana besar, perlengkapan kantornya mutakhir, teknologinya canggih, kebijakan SDM-nya pro-karyawan, kantornya megah di daerah segitiga emas, bahkan kantinnya menyajikan makanan yang lezat dan murah. Dua kali dia dikirim keluar negeri untuk pelatihan. “Proses pembelajaran saya adalah yang tercepat di sini,” kata Lesmana.

“Sungguh menakjubkan bekerja dengan dukungan teknologi mutakhir seperti di perusahaan ini”. Siapa nyana dua minggu lalu, belum genap tujuh bulan bekerja di perusahaan itu, dia mengundurkan diri. Lesmana belum mendapatkan tawaran pekerjaan lain, tapi dia tidak sanggup lagi bertahan di sana. Belakangan, sejumlah karyawan di divisi yang sama dengannya ikut resigned. Direktur utamaperusahaan itu pun merasa tertekan karena perputaran (turnover) karyawan sangat tinggi. Cemas memikirkan biaya yang sudah dikeluarkan perusahaan untuk alokasi dana pelatihan karyawan. Ia juga bingung lantaran tidak tahu apa gerangan yangterjadi. Mengapa karyawan yang bertalenta bagus ini mengundurkan diri, padahal gajinya sudah cukup tinggi?

Lesmana resigned karena beberapa alasan. Alasan ini juga yang menyebabkan sebagian besar karyawan lain yang bertalenta tinggi akhirnya mengundurkan diri.

Beberapa survey membuktikan bahwa jika anda kehilangan karyawan berbakat, periksalah atasan langsung mereka. Si atasan adalah alasan utama karyawan tetap bekerja dan berkembang dalam suatu perusahaan. Namun dia jugalah yang menjadi alasan utama mengapa para karyawan berhenti dari pekerjaannya, membawa pergi pengetahuan, pengalaman dan klien mereka. Bahkan tidak jarang selanjutnya secara terang-terangan berkompetisi dengan perusahaan bekas tempatnya bekerja.

“Karyawan meninggalkan manajernya bukan perusahaannya, “kata para ahli SDM. Begitu banyak uang yang telah dikeluarkan untuk tetap mempertahankan karyawan berbakat, baik dengan memberikan gaji lebih tinggi, bonus ekstra maupun pelatihan mahal. Namun pada akhirnya, perputaran karyawan kebanyakan disebabkan oleh manajer/pimpinannya , bukan oleh hal lain.

Jika anda mengalami masalah turnover, maka pertama-tama periksalah kembali para manajer anda. Apakah mereka biang keladi yang membuat para karyawan tidak betah?. Pada tahap tertentu, karyawan tidak lagi melihat jumlah uang yang ia dapatkan, tapi lebih kepada bagaimana mereka diperlakukan dan seberapa besar perusahaan menghargai mereka.

Kedua hal ini umumnya tergantung dari sikap para pimpinan terhadap mereka. Dan sejauh ini, bekerja dengan atasan yang buruk sering dialami oleh para karyawan yang bekerja dengan baik. Survey majalah Fortune beberapa tahun lalu mengungkapkan bahwa 75% karyawan menderita karena berada di bawah atasan yang menyebalkan.

Dari seluruh penyebab stress ditempat kerja, seorang atasan yang jahat mungkin adalah hal yang terburuk, yang secara langsung akan mempengaruhi kinerja dan mental para karyawan.

Simak saja kisah yang dikutip langsung dari “medan perang” ini. Mulya seorang insinyur, masih bergidik saat membayangkan hari-hari dimana ia dimaki-maki bos di depan staf lainnya. Atasannya itu sering menghina dengan kata-kata yang kasar. Waktu menghadapi hal menakutkan itu, Mulya praktis tak punya nyali untukmenjawab. Ia kembali ke rumah dengan perasaan tidak keruan dan mulai menjadi kasar seperti sang atasan. Bedanya kekesalan ini dilampiaskan ke istri dan anak-anaknya, kadang juga ke anjing peliharaannya. Lambat laun, bukan pekerjaan Mulya saja yang kacau balau, pernikahan dan keluarganya pun hancur berantakan.

Nasib Agus juga setali tiga uang. Menceritakan “penyiksaan” yang dilakukan oleh bosnya gara-gara ada perbedaan pendapat yang tidak terlalu penting antara keduanya. Atasan Agus benar-benar menunjukkan rasa tidak suka terhadapnya. Ia tidak lagi diikut-sertakan dalam pengambilan keputusan. “Bahkan dia tidak lagi memberikan saya dokumen maupun pekerjaan baru,” keluh Agus. “Sangat memalukan duduk di depan meja kosong tanpa tahu apapun dan tidak seorangpun yang membantu saya”. Lantaran tidak tahan lagi, lalu Agus mengundurkan diri.

Para ahli SDM mengatakan, dari segala bentuk kekerasan, tindakanmemperlakukan karyawan ditempat umum adalah yang terburuk. Pada awalnya, sikaryawan mungkin tidak langsung mengundurkan diri, akan tetapi pikiran itu sudah tertanam. Jika kejadian terulang lagi, pikiran tersebut akan semakin kuat. Danakhirnya, pada kejadian yang ketiga, karyawan itu akan mulai mencari pekerjaanlain. Ketika seseorang tidak bisa membalas kemarahannya, ia akan melakukanpembalasan “pasif”. Biasanya dengan cara memperlambat pekerjaan, berleha-leha, hanya melakukan pekerjaan yang disuruh atau menyembunyikan informasi penting.

“Jika anda bekerja untuk orang yang menyebalkan, pada dasarnya anda ingin orang itu mendapat kesulitan. Jiwa dan pikiran kita tidak menyatu lagi dengan pekerjaan kita,” papar Agus. Para manajer bisa menekan bawahan melalui beragam cara. Misalnya dengan mengontrol bawahan secara berlebihan, curiga, menekan, terlalu kritis, bawel dansebagainya. Namun para atasan tersebut tidak sadar bahwa karyawan bukan merupakan aset tetap, mereka adalah manusia bebas. Jika ini terus berlanjut, maka seorang karyawan akan mengundurkan diri, walau tampaknya cuma karena masalah sepele saja.

Bukan pukulan ke-100 yang menjatuhkan seseorang, tapi 99 pukulan yangditerima sebelumnya. Memang benar, karyawan meninggalkan pekerjaannya karena bermacam alasan untuk kesempatan yang lebih baik atau kondisi yang tidak memungkinkan lagi. Namun banyak yang semestinya tetap tinggal jika tidak ada satu orang (seperti atasan Lesmana) yang terus-menerus mengatakan, “Kamu tidak penting, saya bisa dapat lusinan orang yang lebih baik dari kamu!”.

Kendati tersedia segudang pekerjaan lain (terlebih dalam keadaanpengangguran tinggi sekarang ini), bayangkanlah sesaat, berapa biaya atas hilangnya seorang karyawan yang bertalenta tinggi.. Ada biaya yang harus dibayar untuk mencari pengganti, ada biaya pelatihan bagi pengganti karyawan tersebut.

Belum lagi akibat yang ditimbulkan karena tidak ada orang yang mampu melakukan pekerjaan itu saat calon pengganti sedang dicari, kehilangan klien dan kontak yang dibawa pergi karyawan yang hengkang, penurunan moral karyawan lainnya, hilangnya rahasia penjualan dari karyawan tersebut yang seharusnya diinformasikan ke karyawan lainnya, dan yang terutama turunnya reputasi perusahaan. Lagi pula, setiap karyawan yang pergi, bagaimanapun juga akan menjadi “duta” untuk mewartakan hal yang baik maupun yang buruk dari perusahaan itu.

Kita semua tahu suatu perusahaan telekomunikasi besar yang orang-orang ingin sekali bergabung, atau suatu bank yang hanya sedikit orang ingin menjadi bagiannya. Mantan karyawan kedua perusahaan ini telah keluar untuk menceritakan kisah pekerjaannya.”Setiap perusahaan yang berusaha memenangkan persaingan harus memikirkan cara untuk mengikat jiwa setiap karyawannya, ” kata Jack Welch mantan orang nomor satu di General Electric. Umumnya nilai suatu perusahaan terletak “diantara telinga” para karyawannya. Karyawan juga manusia, punya mata, punya hatiā€¦..

Sumber: Gaji Tinggi Bukan Segalanya oleh JUNIUS LEE,CEO & Managing ConsultantJCI Kimberley Executive Search International (Recruitment Consultants)

Categories: Uncategorized