Archive

Archive for October, 2006

Let’s get drunk!

October 29, 2006 Leave a comment

Let’s get drunk!
Because I can do these things if I’m drunk;
It will be fun to kick your a** every second
It will be double fun to slap your face thousand times
It will be triple fun to spit on your face again and again and again

And the best part is you won’t get angry because… I’m drunk, baby!
Drunk people always get more exceptions…

PS: how is my English? Bad? Whatever! I’m drunk! Hieksss….

Advertisements
Categories: Uncategorized

Ibu, do you speak bahasa?

October 28, 2006 Leave a comment

Job Vacancy at XXX University

Pyschologist for Student Advisory Center
Min. Education Degree S1 of Psychology
– Profession from reputable university
– Min. 1 years experience in the same field
– Has experience handling difficult person
– Intermediate to advanced computer skills : SPSS
– Has “surat ijin praktek
– Excellent communication skills in English
– Attention to detail and good analytical skills
_____________________________________________________________________

Apa ‘surat ijin praktek’ in English? Apa memang ga ada padanan katanya sehingga harus tetap berbahasa Indonesia? Gatau juga yah, tapi lucu aja sih bacanya. Kayaknya lagi trend bahasa gado-gado Indlish (Indonesian English) yang campur aduk antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Salah satu contoh adalah kata ‘ibu’. Ibu dalam bahasa Indonesia merupakan kata panggilan untuk orangtua perempuan, perempuan yang lebih tua, yang dihormati, untuk penggunaan yang resmi, atau panggilan untuk bos/atasan. Waktu gw ada interview di sebuah office, salah satu interviewer-nya bilang gini; ‘Ibu want to know about your experience at The British Council‘. Atau di kantor gw, GM-nya pernah bilang, ‘Mita, I will go to Library now with ibu’. Sejak kapan ‘ibu’ jadi kata dalam bahasa Inggris?
Selain ‘ibu’ ada ‘bahasa’. Lagi-lagi masih waktu gw interview di office itu, interviewer-nya bilang; ‘You can speak in bahasa. Bahasa apa? Bahasa Inggris, bahasa Jerman, bahasa Jawa, atau bahasa isyarat?? Kenapa bahasa Indonesia disebut ‘bahasa’ dalam istilah bahasa Inggris? Kenapa ga pake istilah Indonesian, sama seperti English untuk bahasa Inggris atau French untuk bahasa Prancis? Terserah lah yah karena bahasa itu kesepakatan. Penetapan istilah dalam bahasa bukan berdasarkan rumus, tapi berdasarkan kesepakatan para pemakainya.
Tapi jadinya bahasa Indonesia jadi terkesan ga konsisten n orang-orang Indonesia juga ga PD sama bahasanya. Terserahlah, bukannya sesuatu yang berbahasa Inggris itu terkesan lebih keren?

Terserah lah, up to you, mau lunch di kantor atau di luar yang penting eat sambil window shopping. Anyway, today kan tanggal 28 Oktober, Hari Sumpah Pemuda Youth Pledge Day.
Hihihihi…Hiks..Hiks……
Kapan kita bangga berbahasa Indonesia secara konsisten? Setiap bahasa pasti ada loanwords-nya, tapi bukan berarti jadi campur aduk ga karuan kan..?
Sedihnya, part of myself juga menganggap bahasa Inggris itu keren dan bonafid. But itu bukan my fault karena bahasa Inggris kadang lebih better.

So, ibu, do you speak bahasa and has surat ijin praktek?

Hiks…..

Categories: Uncategorized

Library (+) Cafe

October 13, 2006 2 comments

Library cafe. Cafe library. Perpustakaan jadi satu sama cafe. Kebutuhan otak dan kebutuhan perut terpenuhi dalam satu tempat. Baca sambil makan atau makan sambil baca, suka-suka lah. Konsep library cafe ini kayaknya sempet booming sekitar beberapa tahun yang lalu (atau sekarang masih?). Di Bandung ada Potluck yang sukses make konsep ini, bahkan dijadikan bahan ulasan tugas akhir oleh beberapa mahasiswa JIP Unpad (salah satunya temen saya). Itu Potluck, yang murni profit oriented yang koleksinya terbilang ringan kayak novel n majalah. Perpustakaan beneran pun ikutan bikin cafe, contohnya Perpustakaan Diknas yang ex British Council Library. Cafe Biblio namanya (bener kan?) yang kecil banget tapi lumayan jadi tempat minum klo lagi garing nungguin temen.

Saya kagum dengan ide library cafe (siapapun yang punya ide awalnya). Dengan embel-embel cafe, image perpus yang serius, tua, dan membosankan bisa jadi lebih santai dan ‘gaul’. Orang jadi penasaran dan bisa jadi daya tarik tersendiri sehingga bisa jadi daya jual kemudian bisa jadi daya beli dan berujung pada laba.

Tempat kerja saya yang sekarang pun ternyata kena demam library cafe. Secara konsep, ini memang bagus. Tapi begitu udah masuk ke pengelolaan, duh ternyata rumit karena konsep interiornya yang terbuka dan menyatu dengan cafe. Cafe kan tempat umum. Public area. Banyak orang. Ga cuma tenant, tapi bisa juga tamunya tenant, tamunya karyawan, teman dan keluarga tenant, teman n keluarga karyawan (biasanya dari level manajer). Belum lagi kalau ada event kayak b’day party atau party-party yang lain.
Selain itu perbedaan jam operasional library dan cafe yang lumayan mencolok, menambah jam-jam rawan kehilangan karena tanpa pengawasan librarian atau staf library.
Pustakawan mendapat ruangan mungil yang mojok dengan meja kerja yang membelakangi rak-rak buku. Saya tahu desain terbuka ini akan jadi masalah, terutama untuk keamanan koleksi. Tapi waktu itu belum terpikir lebih lanjut karena saya harus mengurus yang lain.

Pengelolaan library, kalau mau ditambahin cafe, menurut saya lebih baik dipegang oleh satu manajemen supaya koordinasinya lebih lancar. Persoalan yang saya hadapi sekarang, meski namanya xxx library cafe, yang tulisannya dicantumin gede-gede di depan pintu dan email si pengelola cafe, tapi manajemennya terpisah. Beda perusahaan yang mengakibatkan benturan-benturan dalam operasional. Sayangnya ini tidak dipikirkan atau diprediksi oleh si konseptor atau yang punya ide. Tinggal lah staf operasional dan manajernya harus jungkir balik beradaptasi dengan ‘yang sudah ada’.

Awalnya agak sulit menyesuaikan diri karena bentuk dan pengelolaan perpustakaan yang satu ini agak berbeda. Tapi pelan-pelan, berbagai masalah bisa diuraikan satu persatu dan ditemukan jalan keluarnya. Karena yang menjadi masalah utama adalah soal kehilangan buku, saya kemudian memfokuskan pada pengamanan koleksi. Saya harus menemukan solusi dengan keterbatasan sumber daya karena tidak diperkenankan ada pengeluaran dan penambahan staf. Mau tidak mau saya dan teman kerja harus bekerja (ekstra) keras untuk pengamanan ini karena keterbatasan-keterbatasan tersebut. Berat, tapi itu memberikan satu pelajaran penting buat saya; PINTU PERPUSTAKAAN ITU PENTING! hehehehehehe.
Eh kok jadi ga nyambung sama judulnya ya?

Categories: Uncategorized

Menyangga diri sendiri

October 13, 2006 1 comment

Help! I’m addicted! Saya kecanduan curhat! Curhat tentang masalah saya ke teman-teman dekat. Salah? Ya ngga donk karena wajar-wajar saja untuk curhat, bercerita, mengeluh, marah sampai menangis meraung-raung ke orang-orang terdekat tentang masalah saya atau kamu atau kita. Begitu juga saya yang punya banyak ‘tempat sampah’ hebat yang bisa memberikan solusi, saran, nasehat, atau sekedar mendengarkan saja. Lagipula kecanduan curhat bukannya memang salah satu akibat dari kodrat manusia sebagai mahluk sosial yang memang dasarnya tidak bisa hidup sendiri??

Dari mereka saya banyak mendapat saran dan kritik yang disampaikan baik secara lembut dan tersamar ataupun secara kasar dan terang-terangan. Memang merasa lebih baik, meski kadang malah bertambah down. Apapun itu saya tetap membutuhkan mereka sebagai salah satu bidai ketika ‘tulang’ saya patah karena terkena masalah. Tapi sehebat apapun para bidai atau tiang penyangga memberikan saran, nasehat, dan membesarkan hati saya, keputusan tetap ada pada saya. Pada saat itu saya sadar harus mampu menyangga diri saya sendiri dan menghilangkan kecanduan curhat saya (untuk sementara).

Saat menghadapi kebuntuan. Ketika harus menyerah pada waktu dan ketidakpastian jalan hidup. Ketika saya menunggu dengan sabar dari-Nya akan jawaban atas doa-doa saya. Ketika kata-kata saya sudah habis untuk bercerita dan mengeluh pada penyangga-penyangga saya. Ketika mereka pun, penyangga-penyangga saya, kehabisan kata-kata untuk memberikan solusi atau sekedar membesarkan hati. Pada saat itu saya harus mampu membuat bidai sendiri. Pada saat itu pula saya merasakan sulitnya untuk ‘sekedar’ merasa tegar, kuat, fearless, sabar, dan menahan untuk tidak terus terjerumus.

Saat itu adalah proses saya untuk menjadi lebih kuat dengan memiliki penyangga sendiri tanpa mengandalkan orang lain. Saat itu saya mendoktrin diri sendiri untuk tidak menyandarkan sepenuhnya pada orang-orang di luar diri saya. Jadi sehebat apapun teman-teman, keluarga atau pacar memberi dukungan, pastikan selalu siap dan mampu untuk menyangga diri sendiri dan terus menambah kekuatan diri.

Categories: Uncategorized