Archive

Archive for September, 2006

Lebih baik belum ada, daripada sekedar ada

September 30, 2006 Leave a comment

Apa fungsi pacar? Buat yang sering pacaran n ga tahan menjomblo, keberadaan pacar mutlak ada alias gatel kalo ga punya pacar. Pastinya fungsi pacar beda-beda buat tiap orang. Macem-macem alasannya dari yang logis sampai yang mistis hehehe. Jangankan yang masih sorangan, yang udah resmi punya pacar aja, masih kegatelan lirik kanan kiri. Hmmmm, mengingatkan gw sama siapa ya? Hehehehe. Tapi ya itu urusan hati masing-masing orang. Ketika bicara cinta, sayang atau sejenisnya, hati manusia menjadi abu-abu di perbatasan hitam dan putih.

Beberapa hari ini gw menyadari sesuatu ; lebih baik belum ada, daripada sekedar ada. Artinya gw ga mau memaksakan perasaan gw untuk ‘menjalani dulu’ tanpa diawali rasa tertarik. ‘Harus ada setrum’, kalo kata temen gw. Berhubung belum deadline, makanya gw ga mau memaksakan untuk ada. Gw pengen menjalani suatu hubungan secara alami yang setrumnya. Ada chemistry yang bikin gw nyaman dekat seseorang. Indikasinya merasa nyaman? Lupa waktu.

Sekali waktu, gw dituduh ‘pilih-pilih’. Pilih-pilih ya wajar. Memangnya mau dapet pasangan yang asal? Lagipula, mending dia tau selera pasti gw yang kayak gimana. Jangan dia, si pilih-pilih, gw sendiri kadang masih belum tau benar, sebenar-benarnya tipe gw kayak gimana. Kalo mau dipatok yang kayak gini atau yang kayak gitu, toh beberapa kali gw tertarik dengan seseorang, justru ga ada di patokan itu. Soal fisik misalnya, pingin yang tinggi blablabla, tapi yang pernah di hati justru kebalikannya. Mau dijabarkan atau dibuat daftar, kriteria yang sejati kadang ga muncul di alam sadar. Kriteria atau standar sejati, yang sebenarnya, ada di alam bawah sadar yang terbentuk dari berbagai pengalaman. Pengalaman itu yang menjadi cetak biru, kemudian jadi sirkuit dan akhirnya berfungsi sebagai chip dalam pencarian pasangan, yang tanpa disadari ketika otak memerintahkan kita untuk ‘tertarik’ atau ‘tidak tertarik’ terhadap seseorang. Itulah, terkadang, menentukan kriteria pasangan bisa jadi tidak sederhana.

Cinta memang bisa ditumbuhkembangkan. Gw udah pernah merasakan itu. Tapi awalnya juga harus sreg. Ya, soal setrum dan chemistry tadi. Memang, manusia punya kodrat untuk berpasangan, tapi bukan sekedar pasangan kan? Lagipula, gw merasa ga pernah menetapkan standar yang terlalu tinggi untuk diri gw. Dengan kata lain, gw sadar diri siapa gw. Gw percaya pada waktunya akan ada seseorang yang bisa (lagi) memberikan setrum dan chemistry, seperti yang pernah diberikan dia, dia yang itu atau dia yang lain. Jadi, lebih baik belum ada, daripada sekedar ada karena keberadaan harus memiliki arti tanpa harus mengorbankan perasaan.

Advertisements
Categories: Uncategorized

Hari Pecel Nasional: Every day is a Day

September 24, 2006 1 comment

Hari ini gw abis terima e-card yang isinya ucapan selamat berpuasa, dan begitu gw klik portal e-card-nya, http://www.123greetings.com, walah ternyata hari ini yang bertanggal 24 September, adalah Hari Mencium alias Kiss day. ada Kiss day ya? Hari mencium, hari ciuman, hari cium. Hari merayakan cium, ciuman, dan cium mencium. Penting ya? Hehehehehe. Ternyata pas gw liat-liat lagi, lho kok banyak banget Day-Day yang lain yang belum gw tau, kayak Cousin Day, Chocolate day (23 September), Name Your Car Day, Bathtub Day, Send a smile Day, Golf Lovers Day, Taco day, Goose Day, Biscuit day (6 Oktober), Family Day, Fishing Day (23 September), Shampoo Day, Say ‘Hey’ Day, Electricity Day, ‘You Go Girl’ Day, Pig Day, Dream Day, Say Hi To Mom Day, Grandparents dan Grandchildren Day, Respect Your Cat Day, Houdini Day, Dream Day, Telephone Day, Ice Cream Cone Day (22 September)

Klo gitu kapan di Indonesia ada Hari Tempe, Hari Tahu, Hari Tetangga, Hari Pecel Nasional, Hari Pembokat Nasional, Hari Majikan Nasional, Hari Bajaj, Hari Becak, Hari Perkutut, dan Hari-Hari yang lain?

Lucu deh, ternyata orang-orang Barat sono (Amerika) kok kayaknya banyak banget hari-hari yang merayakan atau memperingati sesuatu. Kreatif. Saking kreatifnya jangan-jangan every day is a Day. Kok kayaknya ga penting yah, contohnya Say ‘Hey’ Day atau Ice Cream Cone Day. Maksudnya apa? Apa beneran dirayain? Ada yang tau kenapa? Ini serius atau ga sih? Gw serius bertanya loh (stupid face mode).

Categories: Uncategorized

Letter Game 1*

September 23, 2006 Leave a comment

YoUr+LIght+guide+US SEttings+The+ImAge+of+Real+True+lOve,

smarT+Honest+poeticAl+coNfidence+Kindle
funnY+ridiculOus+sUpple
insighFul+ORiginal
highlY+motivatiOn+coURage
beLlied+gOld-juice+hard-driVing+adventurEr…

*> satukan huruf-huruf kapital untuk menemukan kalimatnya.
> tanda ‘+’ berarti satu kata

Categories: Uncategorized

Pensiun dengan laptop

September 23, 2006 1 comment

Beberapa bulan lagi bokap gw pensiun dan ga seperti rencana awal untuk ngambil jabatan fungsional dulu, biar ga kena kaget dan kena post power syndrome katanya, bokap memilih untuk bener-bener pensiun total. Gw sedikit khawatir karena doi terbiasa kerja puluhan taun trus mendadak berhenti dan malah bikin stres. Tapi dia bilang udah capek ke kantor. Leganya, ternyata doi udah punya rencana untuk tetap kerja meski ga berkantor lagi. Gw seneng karena bokap gw ga bakal stres karena menganggur setelah pensiun nanti. Dia mau menulis. Itu sebabnya pingin banget punya laptop. Dia pingin nulis, bikin buku tentang pekerjaannya dan pekerjaan gw juga tepatnya. ‘Nanti kita bikin buku berdua, atas nama kita berdua, ta’ katanya. Klo ada laptop, bisa kerja di rumah atau di mana aja, ga tergantung tempat dan waktu.

Sepertinya enak ya kerja tanpa terkekang waktu, tempat, dan peraturan. Ga perlu jadi buruh yang tenaga, waktu, dan pikirannya diperas perusahaan. Gw sebenernya bosen jadi buruh yang hanya bagian kecil dari suatu industri. Buruh yang terikat peraturan-peraturan perburuhan atau kepegawaian atau ketenagakerjaan. Gaji, cuti, absensi, jabatan, dan kelakuan semuanya diatur, dibatasi, dan ditakar. Udah gitu kadang manajemen suka menyunat [atau mensunat?] idealisme atau mematikan kreativitas dengan alasan efisiensi, penghematan, tidak relevan, atau macam-macam alasan lain.

Anyway, gw jadi inget tentang perubahan-perubahan kriteria kantor ideal sejak lulus kuliah sampai sekarang. Waktu gw baru lulus kuliah dulu, gw ga pilih-pilih tempat kerja karena yang penting cari pengalaman n gaji soal nomor dua. Tapi seiring bertahunan gw kerja, pastinya orientasi gw berubah. Gaji jadi nomor satu. Di mana aja yang penting gaji gede. Tapi seiring gw punya pengalaman di tempat kerja yang berbeda-beda, orientasi bukan cuma gaji lagi; tapi juga tempat. Bidang, manajemen, posisi, dan lokasi. Duh semakin berpengalaman kok, semakin banyak tuntutan yah? Misal; gw ga mau lagi di hospitality industry, gw harus tau posisi gw di mana, di bawah siapa, dan di level apa, dan lokasi kantor jauh, dekat, atau strategis ga dari rumah.
Jadi, semakin tua n semakin banyak pengalaman, malah semakin ribet dengan makin banyaknya pertimbangan. Itu karena gw udah mulai bisa membedakan mana yang enak dan ga enak. Mana yang cocok dan ga cocok.

Terpikir untuk jadi wirausaha? Ya, pernah. Tapi gw ada punya bakat dagang. Untuk mencoba sesuatu yang baru, gw pernah ikutan MLM yang menjanjikan kebebasan waktu dan finansial. Gw harus akui mereka ga sekedar berbisnis tapi juga menanamkan beberapa sifat positif kayak disiplin, optimis, berpikir positif, fokus pada solusi dan hasil akhir, dan rendah hati, yang sedikitnya tertular ke gw sampai sekarang. Tapi dalam menjalaninya pekerjaan bisnis itu sendiri, gw merasa ga nyaman karena beberapa hal. Terus gw istirahat karena capek penolakan dan banyak sekitar gw yang negatif sama MLM. Tapi setelah waktu istirahat selesai pun, gw tetap merasa ga nyaman dengan pekerjaannya. Dari situ gw dapet poin. Kenyamanan. Intinya gw harus merasa nyaman untuk mengerjakan sesuatu supaya hasilnya maksimal. Akhirnya gw memang berhenti. Meski bagus untuk pengembangan pribadi gw, tapi kerjanya ga cocok buat gw.

Sebisa mungkin gw berusaha ga mendewakan uang. Gw butuh uang, gw cinta uang. Tapi kadang suka takut, semakin kaya semakin banyak masalah yang kompleks dan ga akan pernah puas. Contoh sederhananya sekarang; semakin naik gaji gw, semakin banyak kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan baru yang muncul seiring peningkatan kualitas hidup. Dulu, gaji buat ongkos ngantor n kebutuhan personal rasanya udah cukup banget. Sekarang, ada kebutuhan untuk penampilan, menabung, dan biaya kehidupan sosial alias bergaul. Bergaul ga murah. Kadang nonton n makan di mal, nongkrong di kafe, atau jalan-jalan ke luar kota. Klo ga bergaul, ya bisa jadi kuper. Klo kuper ya…tau sendiri akibatnya hehehehe.

Gw ga mau seumur hidup jadi karyawan atau buruh. Gw pengen pensiun-dengan-laptop seperti rencana bokap gw. Gw pengen independen. Bebas dari lingkungan kantor yang memberi banyak keterbatasan dan banyak pasungan. Tapi juga gw ga pandai dagang hehehehehe. Gw sih sudah merasa seneng dengan profesi gw sekarang. Jadi, yah, kemungkinan besar gw ga akan alih profesi. Rencana jangka panjang gw, gw merintis atau meneruskan pekerjaan gw sekarang ke arah spesialisasi. Minat gw sih mengembangkan konsep tentang lifestyle library dan dokumentasi hukum. yang mana yang akan menjadi pilihan kekhususan gw, ya nanti terlihat seiring berjalannya waktu :p .




Categories: Uncategorized

Pustakawan kerjaannya gitu-gitu doang

September 14, 2006 6 comments

Gw memang ga pernah bercita-cita jadi pustakawan. Tapi setidaknya gw ga menjelekkan profesi gw. Profesi yang menafkahi gw secara materi dan batin. Memang sih profesi ini terpinggirkan n banyak yang memandang sebelah mata, tapi ada juga yang menghargai. Klo yang memandang sebelah mata itu bukan si pustakawan atau orang yang pernah belajar ilmu perpustakaan, ya wajar. Apalagi yang awam, tidak berpendidikan, dan jarang ke perpustakaan ya wajar karena mereka ga ngerti. Tapi klo yang memandang sebelah mata itu pustakawan atau orang yang pernah belajar ilmu perpustakaan itu sendiri? Kan sama aja mereka melecehkan diri sendiri.

Mereka rata-rata pesimis dengan bilang, ‘mau dikembangin kayak apa, paling gitu-gitu doang’ atau ‘udah tau kerjaannya apa, sama aja, gitu-gitu melulu’. Kadang gw suka miris aja dengernya. Mereka yang memilih untuk mempelajari ilmunya, dengan alasan apapun, dan mereka hidup dari bekerja sebagai pustakawan atau memodifikasi pekerjaan pustakawan tapi mereka seperti rendah diri n negatif memandang diri sendiri. Klo pengembangannya gitu-gitu doang itu pasti elo pustakawannya, sedangkan yang komentar ‘udah tau kerjaannya apa, sama aja’, ya iya lah gitu-gitu aja. Dokter dari jaman jebot sampe kiamat juga kerjanya ‘gitu-gitu aja’; ngobatin orang sakit. Atau polisi juga kerjanya ‘gitu-gitu aja’; nangkepin penjahat. Menurut gw semua profesi juga pasti kerjaannya gitu-gitu aja. Jadi klo pustakawan kerjanya ‘gitu-gitu aja’ yang memang itu pekerjaannya. Itu intinya. Klo ga ‘gitu-gitu aja’ kayaknya ga bisa menjadi suatu profesi, pekerjaan yang memiliki keahlian dan kualifikasi tertentu.

Untuk disebut ‘pustakawan’ pun ga semua orang bisa, bukan dengan sehari-dua hari kursus atau pelatihan. Minimal pustakawan adalah diploma, bahkan ada yang bilang harus sarjana baru bisa disebut pustakawan. Apapun itu, intinya jadi pustakawan pun harus sekolah, ada ilmunya, dan berijazah. Makanya gw menolak untuk menyebut siapa pun yang ‘bantuin’ gw di perpustakaan, klo dia ga punya pendidikan pustakawan, ya dia ga boleh disebut pustakawan karena dia ga pernah belajar tentang ilmu perpustakaan. Sama aja kayak pengacara. Apa bisa orang yang bukan sarjana hukum, sekolah hukum jadi pengacara meski dia udah tau tentang hukum dan kepengacaraan? Pasti ga.

Memang sih pustakawan bukan profesi yang funky, keren, bergengsi atau menjanjikan secara finansial tapi, come on, klo lo aja stuck untuk mengembangkan dan memodifikasi pekerjaan lo, jangan juga dilecehkan. Atau klo lo memang merasa ga sukses jadi pustakawan, kenapa ga alih profesi? Daripada terus jadi pustakawan tapi ngeluh terus. Gw lebih suka orang-orang yang meski pernah kuliah di jurusan perpustakaan, tapi terus kerjanya ga di perpustakaan atau sejenisnya, tapi ga melecehkan pustakawan dan kepustakawanan. Menurut gw ga semua tentang profesi ini ‘gitu-gitu doang’, ada juga yang berhasil bikin perpustakaan yang bagus. Klo memang gitu-gitu doang kenapa masih mau kerja di perpustakaan atau yang sejenisnya? Jangan salahkan profesinya, tapi bisa jadi sumber daya manusianya yang mandul.

Apapun pekerjaan lo, itu pilihan lo. Meski waktu memilih lo dalam keadaan terdesak atau terpaksa, tetap itu yang lo pilih dan terpaket dengan yang namanya resiko. klo lo ga mau dapet resiko ‘kerjanya gitu-gitu doang’, ya jangan pernah nyicip belajar tentang perpustakaan. Gw idealis dengan menolak tawaran kerja di luar perpustakaan atau sejenisnya karena gw sadar kualifikasi gw. Kalau pun ada tawaran lain paling jadi staf admin. Daripada jadi staf admin yang ga punya organisasi profesi, mending gw jadi pustakawan hehehehehe. Sebenarnya kalo mau dikaji lagi, ada yang banyak kita bisa lakukan sebagai pustakawan. Tapi itu memang ga instan atau langsung terlihat hasilnya. Butuh ketekunan dan motivasi, tapi justru di situ tantangannya. Gw memang belum jadi pustakawan senior, gw bukan dosen JIP yang sering nulis tentang perpustakaan, pustakawan, dan kepustakawanan dengan kutipan-kutipan ilmiah, gw juga suka males baca buku teks, gw juga bukan pustakawan yang berhasil bikin teroboson apa lah, tapi setidaknya gw ga pernah bilang, ‘pustakawan kerjaannya gitu-gitu doang’.

Categories: Uncategorized

Missing puzzle*

September 11, 2006 Leave a comment

Benar, ya benar bahwa ada yang tidak terungkap dari diri seseorang. Sisi paling pekat yang mungkin bahkan si empunya diri pun tidak tahu. Sisi yang akan terlihat hanya beberapa orang, tapi tidak untuk beberapa orang yang lain. Manusia itu rumit. Kadang lain di hati, lain di mulut yang oleh kebanyakan orang menyebut perbuatan ini munafik. Mungkin itu lah sebabnya orang selalu judge the book by it’s cover karena mereka, atau kita, tidak bisa langsung menembus raga untuk membaca jiwa.

Karena missing puzzle, maka kita kadang tidak mengenal diri sendiri sehingga merasa bingung. Mungkinkah ada manusia yang benar-benar memahami dirinya sendiri dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya? Mungkinkah ada manusia yang menemukan missing puzzle-nya? Sebelum menemukan, harus dicari dahulu, dan sebelum dicari, harus lah mengerti apa yang akan dicari. Sebuah pencarian yang panjang dan melelahkan jika disengaja melakukan.

Manusia tidak akan bisa jujur pada sesama manusia lain di luar dirinya. Kejujuran hanya terdapat pada hati nurani dan Yang Maha Kuasa. Kejujuran sejati yang menjadi kunci untuk memahami seorang manusia seutuhnya. Kejujuran sejati merupakan missing puzzle jiwa seseorang. Missing puzzle yang mungkin tidak akan pernah ditemukan. Missing puzzle yang akan selalu missing.

[*terinspirasi dari komennya pakde Gatot]
Categories: Uncategorized

Tulis lah walau hanya satu kata

September 10, 2006 1 comment
Tulis lah meskipun hanya merasa satu rasa. Sedih, marah, gembira, kecewa, bahkan menangis dan tertawa pun dapat dirasakan melalui kata-kata. Saya menulis ketika saya tidak dapat lagi menemukan ‘tempat sampah’ untuk membuang ‘sampah-sampah’ saya. Saya menulis ketika saya kehabisan suara untuk berteriak dan airmata saya membeku. Saya menulis ketika ide dan tenaga saya berlebih. Saya menulis ketika orang-orang terdekat saya jenuh dan lelah mendengar saya. Ketika menulis, saya menangis dalam bisu atau tertawa dalam batin. Ketika menulis, saya berbangga tanpa membusungkan dada atau malu di depan punggung banyak orang. Ketika menulis, saya merasa sangat pintar karena saya tidak sekedar mengenal huruf tetapi juga mampu menyusun, merangkai, dan memadukan menjadi kata dan kalimat yang mengekspresikan jiwa saya. Saya menulis untuk dinikmati sendiri. Saya menulis untuk memberitahu kepada banyak orang tentang perasaan dan pandangan saya. Tulisan saya adalah potongan puzzle yang jika berhasil disusun, mereka akan memahami saya seutuhnya.
Saya menulis untuk segalanya.
Categories: Uncategorized