Pabrikasi Maaf

September 4, 2011 Leave a comment

Kartun Mice di Kompas hari ini tentang bermaaf-maafan saat Lebaran. Pada salah satu kotak cerita, Mice bingung menerima SMS berisi untaian puisi ucapan selamat Idul Fitri dari orang yang baru sekali ditemuinya. Mice membatin, ‘1 SMS buat ratusan orang… Baru ketemu sekali doang, salahnya apa ya??? Hmmm kayanya nggak perlu dibales deh’.

Saya pun spontan tertawa membacanya karena mengalami kejadian yang sama. Sejak merasakan betapa mengganggunya beberapa broadcast message (BM) BBM (Blackberry Messenger) yang sangat tidak penting, saya jadi mengurungkan niat untuk mengirim pesan massal itu kepada beberapa teman muslim di daftar kontak BBM. Memang sih BM yang satu ini adalah ucapan Selamat Idul Fitri, salah satu sikap perayaan, bukan pesan omong kosong atau lelucon norak yang kerap saya terima. Kurang afdol berhari raya tanpa mengucapkan ‘Selamat Hari Raya Idul Fitri. Maafkan Lahir dan Batin’. Untuk lebih berkesan, dua kalimat inti itu biasanya ditambahkan puisi dan diseling beberapa patah kalimat berbahasa Arab, yang saya yakim banyak orang yang mengirim tidak tahu artinya.

Contoh:

Taqobalallaahu Minna Wa Minkum Taqobal Yaa Kariim.. 

Andai tangan tidak sempat berjabat..,maka dengan penuh kerendahan hati ijinkan kami skeluarga mengucapkan:

“Selamat Hari Raya Idul Fitri

1 Syawal 1432 H”

Minal Aidin Wal Faizin

Mohon Maaf Lahir & BathinSemoga kita semua menjadi insan yang fitri kembali dan selalu dalam limpahan ridho dan rahmat Allah SWT.

Ucapan ini cukup di-copas atau forward ke belasan, puluhan, bahkan ratusan penerima, teman, keluarga, rekan kerja, atau siapapun yang ada di daftar kontak akun kita, dengan sekali kirim hanya dalam hitungan menit.

Praktis dan massal.

Tidak salah tapi saya merasa kurang nyaman. Teknologi seringkali menghasilkan sesuatu yang praktis, instan, mudah, dan massal tapi tidak personalized dan kurang menyentuh. Kerepotan-kerepotan yang bernilai sentimental seperti memilih kartu, menulis dengan tangan kalimat-kalimat tambahan, dan memilih menuliskan alamat si penerima adalah hal-hal yang tidak penting bagi kita sebagai orang-orang yang terbiasa praktis dan instan.

Lompatan teknologi komunikasi bagai lari cepat yang harus disusul semua orang. Masih teringat waktu sekolah dan kuliah pergi ke toko buku untuk beli kartu lebaran. Bisa berjam-jam memilih kartu Lebaran karena saya memilih kartu berdasarkan keakraban dan sifat teman dan saudara. Misal si A yang ceria, saya pilihkan kartu yang banyak warna, atau si B yang kocak, saya pilihkan kartu dengan kalimat yang lucu dan konyol. Bahkan kalau lagi rajin, saya bikin sendiri.

Kartu tercetak mulai tergeser ketika saya punya e-mail saat kuliah tingkat akhir. E-card menjadi pilihan meski kadang gagal terkirim karena koneksi internet terputus atau error saat dibuka, gambarnya tidak terlihat. E-card dengan cepat tergeser dengan SMS yang lebih mudah cara pengirimannya meski tidak ada gambar dan warna-warni menarik. Cukup menunggu satu orang pertama mengirim atau memilih kalimat yang paling bagus, lalu forward ke beberapa orang. Ketika BB jadi HP sejuta umat, pulsa jadi lebih hemat dengan mengirimkan ucapan melalui BBM. Tidak hanya kata-kata dengan variasi abjad dan emoticons, pesan suara (voice message) bisa jadi pilihan jika ingin berbeda dari yang lain.

Praktis dan massal.

Bagi saya, sesuatu yang bersifat praktis dan instan lama-lama sama membosankan seperti halnya rutinitas. Lima puluh ucapan dalam lima menit. Selesai. Lalu?

Dimanakah kesenangan dan kegairahan memilih, menghias, dan membuat kartu Lebaran? Dimanakah kepuasan ketika selesai menulis ungkapan pribadi pada sahabat dan kerabat? Kenangan dan hubungan kita dengan masing-masing orang adalah unik, tidak pernah sama satu sama lain. Saya mengingat si A sebagai teman sekolah yang sudah lama tidak bertemu, maka saya tambahkan di kartu itu ‘Apa kabarnya, kapan main ke sini?’ Atau tulisan saya pada si B yang teman kuliah, ‘Nanti kalo masuk kuliah, bawa kastangel sisa Lebaran’. Hal-hal personal yang unik inilah membuat penerima kartu merasa istimewa karena tidak sekedar menerima ucapan Selamat Idul Fitri, tapi juga diingat dan akrab.

Kenangan lain yang mengesankan adalah kartu Lebaran buatan papa. Proses kreatifnya adalah menempelkan foto keluarga dan ucapan Selamat Idul Fitri dari rugos yang hurufnya digosok satu per satu, kemudian diperbanyak. Hahay jadi kangen penggosok rugos yang bentuknya mirip pulpen, punya dua sisi merah dan hitam. Sisi satu lebih lancip untuk huruf kecil, sisi satu lagi lebih tumpul untuk huruf besar dan tebal. Merugos, Rugos ini sebenarnya merk, harus telaten dan perlahan supaya hurufnya tidak rusak atau putus. Rasanya puas ketika selesai kalimat Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H. Maafkan Lahir dan Batin, hurufnya utuh dan rapi. Pernah merasa puas setelah mencipta atau mengerjakan suatu yang bagus dan berlama-lama memandangnya? Itulah rasa senang dan puas yang sama.

Itu dulu, sebelum ‘revolusi handphone’.

Mungkin saya termasuk orang yang repot, sentimentil, kuno dan mungkin juga gaptek. Saya merasa hal-hal yang massal dan  instan menghilangkan nilai pribadi. Seperti barang pabrikan yang tidak lagi terasa istimewa, mengutamakan fungsi semata. Untuk momen istimewa seperti Idul Fitri, ‘barang mewah buatan tangan’ lebih berkesan daripada ‘barang pabrikan’. Untaian kalimat pernyataan maaf dibuat dan disebarluaskan secara massal tanpa diedit atau diberi sentuhan pribadi untuk si penerima. Pabrikasi maaf.

Saya akan membalas pesan pribadi yang biasanya diawali dengan nama panggilan, dan melewatkan pesan instan yang pabrikan hasil copas dan forward. Bukannya tidak menghargai si pengirim, tapi membaca puluhan pesan yang sama terasa buang waktu, toh yang mengirim tak sampai satu menit mencentang nama penerima apalagi kalau sudah ada grup akan lebih cepat lagi.

Meski demikian, terimakasih untuk semua yang sempat mengucapkan Selamat Idul Fitri di semua media, baik yang mengetik, mencentang, maupun forward dan copas. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Advertisements
Categories: Random

Madre (Dee)

August 7, 2011 Leave a comment

Madre adalah kumpulan cerpen dan puisi karya Dee atau Dewi Lestari. Melalui ketigabelas karyanya yang dihimpun dari tahun 2006-2011, Dee membagi ide dan pemikirannya melalui rangkaian kata yang cerdas, lugas, dan indah. Terakhir saya baca Perahu Kertas. Sebagai pembanding, Madre lebih berat dari Perahu Kertas yang sangat ringan. Dalam Madre, ada cerpen dan banyak puisi yang saya tidak paham dan perlu lebih dari sekali membacanya untuk mengerti.

Madre, Rimba Amniotik, 33, dan Menunggu Layang-layang adalah kesukaan saya. Madre adalah cerpen pertama yang dijadikan judul antologi ini. Ceritanya unik, yaitu tentang biang roti bernama Madre yang ‘hidup’ dan mengubah hidup pemuda bernama Tansen. Madre membuat Tansen menemukan ‘rumah’nya di toko roti lawas yang bangkrut bernama Tan de Bekker dengan bantuan pak Hadi serta persahabatan istimewa dengan Mei. Alur sebenarnya mudah ditebak, tapi tetap saja saya bertanya-tanya apakah Dee akan menjadikan kisah ini tidak biasa mengingat Dee adalah penulis yang tidak biasa juga. Tapi ternyata akhir Madre sesuai rumus, dan fiksi ini menjadi lebih manis.

Tebakan yang sama juga pada cerpen Menanti Layang-layang. Adalah dua sahabat karib lawan jenis bernama Che/Christian dan Starla. Bertahunan Che, seorang arsitek yang manut pada rutinitas dan penyendiri ini, menjadi tempat curhat tentang pacar-pacar Starla. Che marah ketika Rako, sahabatnya, menjadi korban Starla dan memprotes perilaku Starla yang berganti-ganti pacar. Ohya sebagai pengkontras, Starla adalah desainer interior yang terbuka dan tidak bisa hidup tanpa pasangan. Konflik Che dan Starla berujung pada perasaan yang mereka simpan satu sama lain.

Kisah Che dan Starla sangat mirip dan dekat dengan diri saya sendiri. Saya mirip dengan Che yang setia pada rutinitas, merekayasa mood dalam lagu-lagu di iPod, bisa bertahan dalam kesendirian, dan takut jatuh cinta.  Sedangkan Starla adalah kebalikan dari Che, yang mirip dengan beberapa teman saya. Starla spontan, harus selalu punya pasangan, dan selalu butuh keramain meski di keramaian itu sebenarnya sendiri dan kesepian. Intinya, Che dan Starla sama-sama kesepian tapi memilih cara yang berbeda untuk mengatasinya. Maka ketika cinta tergali antara keduanya, saya yang penggemar cerita cinta opposites attract, tersenyum puas dengan akhir Menanti Layang-layang.

Rimba Amniotik, yang lebih mirip esai, adalah percakapan batin antara calon ibu dan bayi yang dikandungnya. Yaitu Dee dan anaknya Atisha. Pemujaan sang ibu terhadap bayi di rahimnya dengan menyebutnya sebagai sahabat yang berjodoh dengannya. Rimba Amniotik, buat saya, membuktikan keaslian ide dan kedalaman berpikir Dee sangat mengesankan. Ide percakapan batin antara ibu dan bayi adalah orisnil, kuat, dan menyentuh. Tulisan ini membuktikan bahwa menulis dari hati berdasarkan perasaan cinta yang dalam akan membuahkan karya terbaik.

33, nampaknya serupa dengan Rimba Amniotik, adalah hadiah Dee untuk salah satu anggota keluarganya yang saya duga adalah suaminya. 33 memaparkan sisi magis angka kembar ini dan kaitannya dengan umur si penerima puisi hadiah ini yang berusia 33 tahun, 33 hari. Sama dengan cerpen Menunggu Layang-layang, puisi 33 terasa akrab dengan saya karena kesamaan kami memberi hadiah pada seseorang berupa puisi.

Itulah empat karya dalam Madre yang paling menggugah saya. Selebihnya, terutama puisi agak sulit dicerna karena menyimpan banyak makna tersembunyi. Saya mencoba memahami cerpen Guruji dan Have You Ever tapi masih gagal. Sedangkan Semangkok Acar Untuk Cinta dan Tuhan terasa sangat filosofis, sedikit saya bisa memahami. Tapi kegagalan ini justru membuat saya semakin tertantang untuk mamahami hubungan mengupas bawang dan pertanyaan tentang arti Tuhan dan cinta atau cerita unik lain dalam Guruji.

Categories: Books

Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2

August 7, 2011 Leave a comment

Sutradara: David Yates

Pemain: Daniel Radcliffe, Emma Watson, Rupert Grint

Tuntas sudah perjalanan 10 tahun kisah Harry Potter di layar lebar. Film pamungkas ini adalah lanjutan perburuan horcrux trio Harry, Hermione, dan Ron untuk melemahkan Voldemort hingga tidak punya ‘penyangga’ untuk hidup abadi dan mudah untuk dibunuh. Trio Harry, Hermione, dan Ron membobol Gringotts untuk mengambil piala Helga Hupplepuff yang merupakan salah satu horcrux. Berhasil kabur dengan melepas naga penjaga, trio ini menuju Hogwarts untuk membinasakan horcrux berikutnya: diadem Rowena Ravenclaw. Kembalinya trio ini menyulut pemberontakan di Hogwarts yang kelam sejak di bawah kepemimpinan Snape. Perang pun dimulai. Orde Phoenix, guru-guru Hogwarts, dan para penyihir pro Harry melawan mati-matian serangan pasukan Voldemort yang terdiri dari pelahap maut, manusia serigala, dan troll.

Harry menemukan fakta mengejutkan tentang horcrux, dirinya, Dumbledore, dan Snape. Bahwa Harry adalah accidental horcrux yang tercipta ketika Voldemort berusaha membunuhnya. Dumbledore mengetahuinya, maka ia membuat skenario agar Harry merelakan diri untuk mati karena dia adalah sama seperti horcrux yang lain yang harus musnah. Pandangan Harry tentang Snape pun berbalik ketika tahu tentang masa lalu guru yang paling dibencinya itu. Bahwa Snape sangat mencintai Lily, ibu Harry, berulangkali melindungi Harry secara diam-diam, dan menempatkan dirinya dalam bahaya sebagai mata-mata Voldemort untuk Dumbledore.

Beruntunglah penonton yang ‘fasih’ dan hafal jalan cerita seri Harry Potter dan sudah membaca bukunya. Jadi menonton film HPDP 2 ini hanya sebagai pengulangan penceritaan. Sedangkan buat yang setengah hafal atau sama sekali tidak tahu jalan cerita seri Potter dipastikan bakal agak bingung dan hanya menikmati visual efeknya saja.

Memang antara buku dan film tidak akan pernah sama karena format media yang berbeda. Sebagai seri pamungkas, HPDP 2 terasa kelam, menggetarkan, dan mengharukan. Musik dan efek visual nampaknya faktor utama menghidupkan suasana kelam Hogwarts saat pertempuran, sebagai klimaksnya. Selain itu akting aktor senior Alan Rickman sebagai Severus Snape yang bagus. Harry Potter pun bertransformasi dari film fantasi anak-anak menjadi film fantasi action untuk remaja dan dewasa.

Selamat tinggal Harry, Hermione, dan Ron. “It all ends” well. EPIC.

Categories: Movies

Kejarlah Harry Sampai Ke Negeri Singa

July 30, 2011 Leave a comment

Akhirnya! Harry Potter tayang juga di Indonesia setelah masalah pajak dan beberapa bulan nggak ada film blockbuster Hollywood. Selama masa kosong itu, film-film yang tayang adalah rata-rata film kelas B dan film Asia. Banyak orang yang sampe ke Singapur atau negara tetangga lainnya demi bisa nonton Potter dan film laris lainnya. Menurut berita yang gue baca di detik, ada banyak cara ke Singapur nonton film blockbuster, dari promo tiket murah sampe kuis. Singapur pun memanfaatkan peluang ini dengan membuat paket promo tiket pesawat dan kerjasama dengan operator bikin kuis yang pemenangnya bisa nonton film blockbuster yang nggak tayang di Indonesia.

Gue sendiri baru sadar kalo bukan die hard fan yang segitunya pergi ke Singapur atau Malaysia atau Vietnam demi nonton film. Bisa jadi juga sayang duit dan nggak ada temen. Hehehehe. Untunglah masalah pajak selesai, mudah-mudahan selesai beneran, jadi film blockbuster (nampaknya) bisa tayang lagi. Setidaknya tayangnya Harry Potter sebagai awal yang bagus. Transformer 3 dan Kungfu Panda 2 katanya menyusul. Terlepas dari kendala teknis untuk ke luar negeri demi nonton film, gue merasa gerah dengan ‘bedol desa’ orang-orang Indonesia ke Singapur untuk nonton film. Singapur dapet tambahan devisa sementara penghasilan bioskop Indonesia turun drastis. Seremnya kalo sampe dibiarin beberapa bulan lagi, bioskop-bioskop terancam tutup. Artinya pengangguran makin banyak dan orang Indonesia kurang hiburan. Wih. Semakin rumit kalo begitu, siapa yang salah siapa akibat gimana udah nggak jelas.

Wahai para aparat yang berwenang dan pengusaha hebat, jangan ada masalah lagi donk tentang distribusi film. Gue nggak peduli soal peraturannya kek, korupsinya kek, atau apanya kek. Sebagai orang awam pecinta film yang butuh hiburan, gue berharap bisa tetep nonton film bagus dan menghibur. Orang terhibur, bisnis jalan, negara dapet devisa, pengusaha untung, pekerja bioskop tetep hidup nggak jadi penggangguran. Gak perlu memperkaya negeri orang karena konflik negeri sendiri. Gitu aja. Selesai. Mari kita nonton.

Categories: Movies, Random

Something Borrowed

July 24, 2011 Leave a comment

Sutradara: Luke Greenfield

Pemain: Ginnifer Goodwin, Kate Hudson, Colin Egglesfield

Bersahabat sejak kecil, Rachel (Goodwin) dan Darcy (Hudson) adalah dua kepribadian yang berlawanan. Rachel yang tipe gadis baik dan manis selalu berada di bawah bayang-bayang dan tak pernah menolak keinginan Darcy yang terbuka, dominan, dan egois. Bayang-bayang masa lalu menjadi masalah ketika Rachel selingkuh dengan Dex (Egglesfield), tunangan Darcy sekaligus gebatan Rachel ketika kuliah. Flashback pun dihadirkan, menceritakan awalnya Dex dan Rachel dekat tapi diselak Darcy karena baik Dex maupun Rachel tidak ada yang berani maju dan tidak mampu berkata tidak pada Darcy. Rachel pun dilema menyimpan rahasia perselingkuhan dari sahabatnya. Dex pun dilanda keraguan ketika tahu perasaan Rachel yang sebenarnya.

Sebagai film komedi-romantis dan drama, tidak ada yang istimewa dari Something Borrowed. Pemainnya yang tampan dan cantik, baju modis, setting indah sudah cukup memenuhi standar romcom yang sangat menghibur mata. Sekilas, tema film ini tidak ada yang menarik tapi kalau didalami ada pergulatan tentang pertemanan dan cinta yang menarik. Rachel, si protagonis adalah tipe gadis baik-baik, cerdas, serius, dan sahabat setia. Sementara Darcy adalah orang terbuka, mendapatkan segala keinginannya, serta egois. Rachel selalu pasrah dan memberikan banyak hal pada Darcy, termasuk cintanya pada Dex. Saat tertekan dan dilema, Rachel pun memberontak diam-diam dengan cara berkhianat. Batas percintaan dan pertemanan memang sering kabur. Kebanyakan, yang menjadi pengkhianat adalah tipe Darcy tapi ini sebaliknya. Meski akhirnya Darcy juga berkhianat pada Dex: selingkuh dengan Marcus yang merupakan teman Dex.

Mungkin karena berdasarkan buku, novel karya Emily Giffin, jadi pergulatannya lebih terasa. Gue kurang puas sama akhir ceritanya, gue pengen Rachel jadi sama Ethan. Ethan adalah teman Rachel dan Darcy yang sangat mendukung Rachel dan diam-diam menyimpan perasaan khusus. Gue lebih suka Rachel sama Ethan yang lucu, sarkastik, ceplas-ceplos, dan sahabat sejak awal. ‘You are home’, kata Ethan menggambarkan kenyamanan dan perasaannya terhadap Rachel. Tapi sayangnya cinta tidak bisa begitu saja berpaling. Rachel fall for Dex, maka Dex lah yang tetap dihatinya.

Tentang judulnya, karena penasaran sama istilah ‘something borrowed, gue googling dan dapet dari sini bahwa istilah ini bagian dari puisi Inggris tentang hari pernikahan:

Something old, something new
Something borrowed, something blue
And a silver sixpence in her shoe.
Something borrowed – an item from a happily married friend or family member, whose good fortune in marriage is supposed to carry over to the new bride.

Tapi tetep nggak ngerti hubungannya sama film ini. Hehehe. Ada yang bisa menjelaskan apa maksudnya?

Categories: Movies

Beastly

July 16, 2011 Leave a comment

Sutradara: Daniel Banz

Pemain: Alex Pettyfer, Vanessa Hudgens, Neil Patrick Harris

Ketampanan dan kesempurnaan fisik membuat Kyle Kingson (Pettyfer) sangat percaya diri di sekolahnya. Kepercayaan diri itulah yang membuat Kyle congkak dan tak segan menghina teman-temannya, salah satunya adalah Kendra. Kendra yang nyentrik dan ternyata penyihir ini pun mengutuk Kyle menjadi buruk rupa. Kyle diberi waktu setahun untuk menemukan cinta sejatinya atau buruk rupa selamanya. Kyle pun kesal dan putus asa “dikurung” ayahnya dengan ditemani guru privat, Will (Harris) dan seorang pelayan, Zola.

Saat-saat putus asa itulah Kyle menemukan ketertarikan pada Lindy (Hudgens) yang telah lama naksir pada Kyle. Lindy yang berbeda dari kebanyakan gadis yang ia kenal, berhasil menyentuh hati Kyle. Pada Lindy ia mengaku bernama Hunter, teman lama ayah Lindy yang dititipkan demi keselamatan Lindy. Saat Kyle merasa telah menemukan cinta sejati dan menagih janji pada Kendra, saat itulah Kyle menyadari kepeduliannya terhadap orang lain juga diuji.

Beastly, diangkat dari novel karya Alex Flinn, adalah adaptasi modern kisah klasih Beauty and the Best. Meski rata-rata ulasan di IMDB jelek, tapi gue tetep suka film ini. Iya sih akting Alex Pettyfer dan Vanessa Hudgens biasa aja dan make-up the beast nggak ada serem-seremnya bahkan cenderung bergaya emo. Emo beast mungkin maksudnya, sesuai tren anak muda sekarang. Beberapa adegan sangat mudah ditebak dan standar banget. Tapi entah kenapa tetap berhasil menyentuh emosi. Tsah! Berhasil menyentuh sisi feminin yang tergila-gila dongeng romantis. Hahahahaha.

Gambar-gambarnya cukup bangus. Terutama setting rumah kaca yang buat Kyle untuk Lindy. Salah satu yang menyentuh adalah tentang surat. Bahwa di jaman digital ini, orang sudah melupakan surat bertulisan tangan. Padahal surat bertulisan tangan lebih punya roh dan nilai emosional, sentimentil, dan romantisme yang tinggi.

Categories: Movies

Limitless

July 16, 2011 Leave a comment

Sutradara: Neil Burger

Pemain: Bradley Cooper, Robert De Niro, Abby Cornish

Sebagai penulis, hidup Eddie Morra (Cooper) nyaris frustrasi. Selain tidak ada prestasi yang dibanggakan, ia mengalami writer’s block sementara ada kontrak yang harus diselesaikan. Tak sengaja, Eddie bertemu mantan adik iparnya, Vernon. Vernon memberi pil yang katanya mampu mengakses kemampuan otak manusia hingga 100 persen dan membuat pemakainya menjadi cerdas. Pil bernama NZT tersebut terbukti ampuh, pikiran Eddie menjadi cerah dan terang. Inspirasi dan memori tergali secara maksimal. Hasilnya, naskah bukunya selesai dalam waktu singkat dan disukai editornya. Ketika khasiat NTZ hilang, Eddie yang bermaksud meminta lagi pada Vernon, malah menemukan mantan iparnya ini tewas dibunuh. Meski berhasil mengambil pil milik Vernon, Eddie dibuntuti lelaki tak dikenal.

Sepak terjang Eddie makin cemerlang. Sukses menjadi penulis, Eddie merambah lantai bursa untuk meraup uang. Aksi cemerlang Eddie di lantai bursa diminati Carl Van Loon (De Niro), seorang kaya dan berkuasa. Eddie pun bekerja untuk Van Loon dalam merger-merger perusahaan besar. Sukses Eddie tersendat dengan kasus pembunuhan sosialita, pemerasan lintah darat, dan mulai menipisnya persediaan NTZ. Eddie yang telah kecanduan NTZ pun mulai menghalalkan segala cara untuk membereskan masalahnya satu per satu.

Limitless memiliki tema yang menarik, yaitu tentang kemampuan-kemampuan tersembunyi otak manusia. Bisakah memori sekilas muncul saat diperlukan? Bisakah kita berpikir tanpa halangan hingga menjadi orang yang cerdas dan rajin? Berawal dari pertanyaan inilah cerita menjadi misteri dan kemudian thriller yang menegangkan. Selain ceritanya yang orisinil, polesan visual di beberapa adegan membuat film ini tidak terasa berat. Contohnya adegan ketika Eddie yang lancar menulis, huruf-huruf berjatuhan dari langit-langit kamarnya.

Dalam satu review tentang Limitless, film ini adalah metafora the America dreams dan kapitalisme. Pada akhir cerita ketika Eddie Morra berhasil menjadi senator dan kaya raya adalah impian orang Amerika akan kekuasaan dan kekayaan. Pesan moral Limitless bukanlah tentang narkoba, yaitu pil NTZ, dan dampak kecanduannya tapi tentang tidak ada kejayaan yang dapat diraih secara instan. Orang-orang yang meroket cepat dan mendadak kaya pasti menyimpan rahasia kelam.

Categories: Movies